05 April 2025

Get In Touch

Refleksi Natal 2021, Natal dan Peperangan Ilahi

Ilustrasi Natal.
Ilustrasi Natal.

SURABAYA (Lenteratoday) - Pada umumnya orang merayakan Natal dalam suasana yang ceria, sukacita, bahagia. Perasaan tersebut muncul karena Natal identik dengan perayaan dan pesta, kado atau hadiah, dan juga liburan serta suasana santai bersama keluarga. Namun ada juga alasan yang nampak lebih religius, karena kesukacitaan Natal dikaitkan dengan berita kelahiran Yesus Kristus. Sehingga, sama seperti layaknya manusia yang lain, kelahiran Yesus menjadi berita yang menggembirkan dan menyenangkan.

Namun sangat jarang disadari bahwa sebenarnya Natal memiliki nuansa lain, nuansa yang lebih kelam dan jauh dari suasana ceria dan santai. Natal merupakan sebuah moment pertarungan atau peperangan. Nuansa semacam ini digambarkan melalui kabar Natal paling awal, yang tercatat dalam Kejadian 3:14-15, “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Bagian Alkitab ini memang tidak secara spesifik membicarakan proses kelahiran Yesus. Tetapi bagian ini mencatat sebuah nubuatan akan hadirnya sang penyelamat, yang akan digenapi melalui peristiwa Natal – kelahiran Yesus Kristus sang penyelamat dunia.

Yang menarik dari catatan Kejadian 3:14-15, nubuat akan kelahiran sang penyelamat ini disampaikan TUHAN Allah kepada ular, yang merupakan gambaran dari si Jahat. Allah menyatakan bahwa Ia tidak akan tinggal diam dengan semua pekerjaan iblis yang sudah dilakukan, yang bahkan sudah mendapatkan sebuah kemenangan perdana - iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa sehingga mereka memutuskan untuk memberontak kepada Allah (jatuh dalam dosa). Dengan berita akan hadirnya sang penyelamat, Allah sedang menyampaikan sebuah tantangan terbuka kepada si iblis. Dalam gambaran yang lain, berita ini menjadi tabuhan awal genderang peperangan dengan si jahat.

Dengan perspektif Alkitab yang lebih utuh ini, Natal harus diperingati dengan cara dan ritual yang berbeda. Pertama-tama, sebagai momen pekerjaan Allah melawan iblis, dosa dan kejahatan, Natal seharusnya menjadi sebuah momen perenungan, kontemplasi dan evaluasi diri. Dosa dan kesalahan apakah yang masih secara aktif saya kerjakan dalam perjalanan hidup saya ini? Adakah bagian di dalam diri dan hidup saya, yang masih mendukakan Tuhan? Di ujung dari semua perenungan ini, berita hadirnya penyelamat  ini memberikan pengharapan kemenangan dan pembebasan, sebab Allah yang telah lahir, Allah yang juga telah memenangkan peperangan melawan dosa, kejahatan dan kematian.  Sehingga, di dalam Dia, ada pengharapan perubahan dan pembaharuan hidup.

Yang kedua, momen Natal yang juga merupakan penggenapan dari pekerjaan Allah melawan si jahat merupakan juga sebuah panggilan bagi setiap orang Kristen untuk terlibat di dalam pekerjaan Allah ini. Natal menjadi sebuah momen aksi, untuk melawan kejahatan, ketidak-adilan, keberdosaan, yang terjadi di sekeliling kita. Natal tidak boleh hanya dirayakan dengan membagikan bingkisan dan makanan. Natal justru harus dirayakan dengan upaya secara aktif menyatakan peperangan terhadap dosa dan kejahatan.

Sebagaimana peperangan yang Yesus Kristus lakukan, peperangan yang kita kerjakan bukan dengan kekerasan dan menghancurkan. Justru kemenangan dalam peperangan ini dihadirkan dari perendahan diri, Allah menjadi manusia – bahkan sampai rela mati di atas kayu salib. Maka, perjuangan kita di dalam menegakkan kebenaran dan keadilan juga diwujudkan dengan perendahan diri untuk mau melayani sesama.

Natal menjadi ajakan ilahi untuk kita merendahkan diri dan melayani sesama melalui pemberitaan kasih rahmat Tuhan (pemberitaan Injil). Natal juga menjadi undangan ilahi untuk kita merendahkan diri dan melayani sesama dengan berani mengerjakan dan menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah dunia yang diam dan membiarkan kejahatan merajalela.

Kiranya dua perenungan ini membawa kita merayakan Natal dengan lebih utuh, lebih benar, lebih aktif, sehingga berita Natal benar-benar menjadi sukacita untuk dunia ini. Soli Deo Gloria.

Penulis : Samuel Soegiarto, M.Th (Kepala Lembaga Pengembangan Kerohanian dan Kepemimpinan Kristen Universitas Kristen Petra – Surabaya)

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.