04 April 2025

Get In Touch

Pasokan Gas dari Indonesia Berkurang, Memicu Krisis Energi di Singapura

Negara Singapura (AP)
Negara Singapura (AP)

JAKARTA (Lenteratoday). Krisis energi global sepertinya sudah sampai ke negeri tetangga RI, Singapura. Sejumlah perusahaan pengecer listrik di negara itu kini bertumbangan.

Mengutip Reuters (Selasa, 19/10/2021), pembangkit listrik Singapura memang bergantung pada gas. Di tengah ketergantungan dan harga yang meroket itu, tiga penyedia energi di Singapura menyatakan akan keluar dari bisnis kelistrikan.

Ini terjadi karena harga gas alam terus naik hingga menyentuh rekor tertingginya.

Pertama, iSwitch Energy. Salah satu pengecer listrik independen terbesar di Singapura itu mengatakan akan menghentikan operasi ritel listrik mulai 11 November 2021 mendatang.

"Karena kondisi pasar listrik saat ini," tulis iSwitch Energy di laman resminya, dikutip dari Reuters.

Kedua, SilverCloud Energy, perusahaan yang memasok listrik ke bangunan komersial, industri, dan perumahan Singapura. Mereka mengatakan juga akan segera keluar dari bisnis listrik.

Manajemen SilverCloud Energy akan memberitahu pelanggan untuk beralih ke penyedia lain atau mentransfer kembali ke SP Group milik negara.

Perusahaan ketiga, Diamond Electric, Best Electricity, dan Ohm Energy telah berhenti menerima pelanggan baru. Diamond Electric sendiri akan menyerahkan kontrak berjangka yang ada ke penyedia utilitas lain.

Tanda-tanda krisis energi mulai menghampiri Singapura. Hal ini seiring pengecer listrik independen terbesar di negara tersebut, iSwitch, dan tiga perusahaan pesaingnya mulai menarik diri dari pasar dan tidak lagi menerima pelanggan baru di tengah melambungnya harga energi.

Harga LNG di pasar spot Asia telah melonjak lebih dari 500 persen dari tahun lalu menjadi lebih dari US$ 30 per juta British thermal unit (mmBtu) bulan ini, sementara harga minyak mentah Brent yang sebagian besar kontrak gas jangka panjang Singapura naik ke level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip The Straits Times, iSwitch Energy, salah satu pengecer listrik independen terbesar di Singapura, mengatakan di situs webnya bahwa mereka akan menghentikan operasi ritel listrik pada 11 November, karena "kondisi pasar listrik saat ini".

Sementara itu, tiga pesaing iSwitch, yakni Diamond Electric, Best Electricity Supply dan Ohm Energy telah berhenti menerima pelanggan baru dengan Diamond Electric dalam proses menyerahkan kontrak berjangka yang ada ke penyedia utilitas lain.

iSwitch menolak berkomentar, sementara Diamond Electric, Best Electricity Supply dan Ohm Energy tidak menanggapi permintaan komentar melalui email.

"Pengecer tidak hanya tidak dapat menjual kepada pelanggan ritel pada tingkat yang ekonomis karena tarif triwulanan yang ditetapkan jauh di bawah harga di pasar berjangka dan juga pasar spot," kata kepala energi global di Simpson Spence Young, James Whistler, seperti dikutip dari The Straits Times (Senin, 18/10/2021).

Alhasil, saat ini hanya ada 8 dari total 12 pengecer listrik independen yang menawarkan paket untuk konsumen.

"Dengan lonjakan harga energi, beberapa pengecer Singapura sekarang berpotensi menutup pintu mereka," kata seorang pelaku industri.

Menurut informasi di situs web Energy Market Authority (EMA), pasar listrik eceran Singapura dibuka untuk persaingan bagi konsumen bisnis pada 2001, dan untuk rumah tangga perumahan pada 2018.

Singapura adalah negara paling terdepan di Asia Tenggara yang melakukan transisi energi fosil ke energi baru terbarukan. Dalam laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF), Singapura memiliki indeks transisi energi hingga 67 poin, tertinggi di Asia Tenggara, atau peringkat 21 dari 115 negara dunia (*)

Sumber: CNBC, Katadata

Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera.co.
Lentera.co.