
JAWA BARAT (Lenteratoday) - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak kaum milenial untuk investasi saham demi masa depan. Hal itu penting untuk berbagai kebutuhan dan keinginan masa depan.
Perwakilan KP Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Firman Hananto mengatakan berdasarkan survei dari GoBankingRates, generasi milenial jauh lebih boros ketimbang generasi lainnya. Berdasarkan survei tersebut, banyak individu yang menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang sifatnya tidak esensial, seperti kopi, makan di luar, hiburan, pakaian, dan minuman.
Ketika dikelompokkan berdasarkan kelompok usia, generasi milenial menghabiskan uang lebih banyak dibandingkan generasi lainnya secara keseluruhan, terutama untuk pakaian dan makan di luar. Padahal, jika anak-anak muda ini mau menghilangkan kebiasaan membeli kopi setiap hari atau pengeluaran lainnya yang tidak perlu, mereka dapat mengumpulkan uang lebih banyak dari waktu ke waktu. Apalagi, jika anak-anak dan pasangan muda mau menggunakan uang itu untuk berinvestasi.
"Nah, apa bedanya tabungan yang digunakan orang-orang tua masa lalu dengan investasi? Kalau dulu, bunga tabungan masih memadai untuk mengatasi kenaikan harga barang dan jasa yang tidak selaju saat ini," ujar Firman.
Sementara itu, bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar merupakan warga negara konsumen, tingkat inflasi kenaikan barang pada jangka panjang akan melampaui tingkat suku bunga jika menabung di bank saja. Terlebih lagi, semakin lama dan semakin maju sebuah negara, tingkat suku bunga akan mengecil.
Selain itu, kenaikan pendapatan secara umum belum tentu dapat mengungguli kenaikan harga barang. Jadi, cara yang paling ideal untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan adalah dengan membagi porsi yang optimal dari dana yang disisihkan di luar kebutuhan pokok untuk berinvestasi.
Jadi ingat, investasi selayaknya bukan ditujukan untuk jangka pendek. Bukan investasi sekarang dan nikmati hasilnya satu minggu, satu bulan, atau satu tahun, melainkan idealnya investasi dilakukan untuk kebutuhan sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun ke depan. Nah, salah satu pilihan investasi jangka panjang yang memberi potensi return terbesar adalah dengan membeli saham di pasar modal.
Jika ada sekelompok investor yang berinvestasi dalam jangka pendek dengan memanfaatkan strategi teknikal dari kenaikan dan penurunan harga saham yang dinamis di BEI, hal ini lebih tepat disebut sebagai spekulasi dibandingkan investasi. Dibandingkan investasi yang memang fokus pada tujuan jangka panjang, para investor spekulan harus punya pengetahuan menganalisis fluktuasi saham dan siap untuk kehilangan dana investasinya sewaktu-waktu.
Sehingga, harus punya nyali yang kuat saat terombang-ambing oleh arus fluktuasi pasar. Di sisi lain, investor jangka panjang bisa tetap tenang karena hasil yang diinginkannya bukan untuk waktu yang singkat. Jika saat ini membeli satu saham perusahaan di BEI di saat harga saham sedang turun karena dampak pandemi yang belum berakhir.
"Harga saham yang sedang turun saat ini menjadikan momen ini waktu yang baik untuk memulai berinvestasi saham karena kita dapat menikmati potensi keuntungan di masa mendatang," katanya.
Seperti yang diketahui, salah satu keuntungan dari investasi saham adalah dari selisih harga jual dan beli yang disebut capital gain. Selain itu, ada pula keuntungan dalam bentuk dividen saham yang dibagikan tiap tahun oleh perusahaan kepada pemegang saham. Sehingga, jika membeli saham dengan harga rendah, akan semakin berpotensi memberi keuntungan besar dalam jangka panjang. Dengan catatan, abaikan fluktuasi dalam jangka pendek jika meyakini kinerja perusahaan secara internal baik.
"Mari kita lihat contoh saham PT Astra International Tbk (ASII). Seumpama kita membeli saham ASII pada bulan April 2004 atau 17 tahun lalu. Ketika itu, harga per lembar saham ASII terendah di harga Rp505. Pada bulan Juli 2010, harganya sudah di atas Rp5.000. Harga saham ASII terus naik hingga mencapai level di atas Rp9.000 per saham pada bulan April 2017. Sehingga, kenaikan saham sempat mencapai 1.600 persen," katanya.
Jika bulan April 2004 menginvestasikan uang sebesar Rp10 juta dengan membeli saham ASII misalnya, maka bisa bertambah menjadi Rp160 juta pada bulan April 2017. "Luar biasa, kan? Jadi, kalau kita mau menyisihkan uang untuk menabung saham secara berkala pada perusahaan yang bagus secara fundamental, maka hasilnya dapat kita nikmati pada tahun 2045 saat merayakan HUT kemerdekaan RI satu abad, di mana kita dapat memanen potensi keuntungan yang relatif besar," pungkasnya. (swi/ang)