
SURABAYA (Lenteratoday) -Berita meninggalnya Errol Jonathans -CEO Suara Surabaya Media sangat mendadak. Apalagi, konon disebabkan awalnya oleh karena sakit mata!
Errol mengidap glukoma. Operasi dilakukan di RS Mata Undaan pada 20 Mei 2021. Semua para koleganya tentu kaget ketika hari ini, Selasa (25/5/20210) Errol Jonathans harus pergi untuk selamanya.
Saya ditelepon langsung oleh Aini Kusuma, salah satu penyiar Radio Suara Surabaya, Selasa siang pukul 12.30 WIB. Mbak Aini, sapaan akrabnya, bicara lewat telepon tak kuasa menahan tangis.
Kabar ini juga dikonfirmasi langsung oleh akun Twitter Suara Surabaya @e100ss.
“Selamat Jalan Mas Errol. Errol Jonathans CEO Suara Surabaya Media meninggal dunia di Surabaya, Selasa (25/5/2021),” begitu keterangan yang dituliskan akun tersebut.
Kabar duka ini menurut saya tak hanya melingkupi ranah penyiaran saja. Lebih dari itu sudah menyentuh media di Tanah Air.
Errol Jonathans cukup lama berkiprah di dunia wartawan. Dia menjadi wartawan Harian Pos Kota Jakarta. Lewat suratkabar yang didirikan oleh H. Harmoko itulah Errol mengawali karirnya.
Pria berdarah Manado ini pernah mengenyam pendidikan di Akademi Wartawan Surabaya ( AWS). Dia kakak kelas saya. Errol Jonathans tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa AWS.
Bersama saya dan mahasiswa lainnya, Errol rutin mengasuh rubrik di dua radio, Radio Republik Indonesia (RRI) dan Radio Gelora Surabaya. Dua rubrik tersebut isinya tentang kegiatan mahasiswa di Surabaya. Korsiduma: Kordinasi Siaran Dunia Mahasisha.
Tahun 1980-1983 dengan Errol saya akhirnya menjadi teman di tiga tempat. Teman kuliah. Teman siaran. Teman di kantor Pos Kota Perwakilan Jawa Timur, Surabaya.
Pada tahun 1984 Harian Pos Kota menerbitkan koran mingguan -sekarang menjadi Harian Surya, Errol pamitan. Dia memilih jurnalistik radio. Bersama Soetojo Soekomihardjo Errol Jonathans merintis berdirinya Radio Surabaya yang sekarang menjadi terkenal itu.
Kalangan radio tidak menduga. Errol dan Soetojo mengusung paradigma baru. Radio Surabaya hadir dengan konsep baru: radio berberita. Radio SS, demikian nama populernya, tak lagi berpijak pada acara pilihan pendengar.
SS dengan success story-nya telah menjadi salah satu ikon Surabaya yang terpenting. Ketika pada tahun 2010 Soetojo Soekomihardjo wafat, Errol tampil menggantikan posisi sebagai CEO Suara Surabaya Media.
Surabaya sungguh beruntung memiliki SS, yang meski pun sukses tapi tidak egois. Dia mengabdikan kesuksesannya itu antara lain untuk kemajuan Surabaya -dan akhirnya kemajuan Tanah Air Indonesia.
Tahun 2008, Radio SS memasuki tahun ke-25. Saya menulis buku tentang institusi penyiaran tersebut. Saya mengadakan penelitian selama 18 bulan. Meminta testimoni sejumlah pakar. Buku itu saya beri judul: SUARA SURABAYA BUKAN RADIO -yang terbit tahun 2010.
Dahlan Iskan, menulis dua halaman. Separo halaman malah khusus membahas figur Errol Jonathans.
Saya terus terang kagum dengan rekan Errol Joanthans, perintis, pemilik ide, pengelola dan toggak hidup di SS. Errol termasuk beruntung mendapat partner seperti Pak Soetojo Soekomihardjo.
Errol telah beruntung menjadi orang cerdas yang hidup di puasaran zamannya. Jerih payahnya yang luar biasa di awal berdirinya SS kini telah menjadi kenangan manis.
Banyak orang hanya mau melihat SS dengan suksesnya sekarang. Tanpa mau melihat, mempelajari dan mengingat betapa sulitnya memulai dulu. Saya membayangkan betapa tidak gampang memiliki ide seperti SS.
Errol Jonathans tabah. Konsisten. Karena itu ia sukses! (Arifin BH, Pemimpin Redaksi Lenteratoday)