27 October 2026

Get In Touch

Water Bombing untuk Padamkan TPA Supit Urang Ditarget hingga 31 Oktober

Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Heru Mulyono. (Santi/Lentera)
Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Heru Mulyono. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Operasi water bombing untuk memadamkan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, ditargetkan berlangsung hingga 31 Oktober 2026. Meski titik api dilaporkan sudah minim ditemukan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang masih mewaspadai titik panas atau bara yang berpotensi tersimpan di dalam tumpukan sampah.

"Operasi water bombing ini merupakan bantuan dari BPBD Pemprov Jatim untuk mendukung penanganan kebakaran di TPA Supit Urang. Estimasi pelaksanaannya yang sudah kami tetapkan sampai tanggal 31 Oktober nanti, melihat situasi," ujar Kepala BPBD Kota Malang, Heru Mulyono, ditemui di Kantor DPRD Kota Malang, Selasa (27/10/2026).

Dijelaskannya, operasi tersebut mulai dilakukan pada Minggu (25/10/2026). Pada hari pertama, tercatat 2 sortie atau penerbangan operasi dengan sekitar 20 kali dropping air yang diambil dari kolam Lembah Dieng, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Pada hari berikutnya, operasi dilanjutkan dengan 3 sortie dan sekitar 40 kali penjatuhan air. Sementara pada Selasa (27/10), Heru menyebut 2 sortie telah dilaksanakan dengan total 28 kali penjatuhan air, sedangkan satu sortie tambahan masih direncanakan.

Heru mengatakan, operasi penerbangan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pengisian bahan bakar helikopter. Menurutnya, penerbangan pertama dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan penerbangan berikutnya setelah pengisian bahan bakar.

Terkait kebutuhan bahan bakar, Heru mengatakan operasi water bombing tersebut membutuhkan setidaknya 4 tong avtur setiap hari. Namun, Heru mengaku tidak mengetahui jumlah pasti bahan bakar yang dimasukkan ke dalam helikopter setiap kali pengisian.

Dari sisi pembiayaan, Heru menegaskan operasi water bombing tersebut ditanggung BPBD Provinsi Jawa Timur, bukan Pemerintah Kota Malang. Koordinasi dengan pihak pengelola kolam Lembah Dieng sebagai sumber air juga dilakukan oleh pihak provinsi.

"Kami hanya memantau, kemudian membantu prosesnya, misalkan mengambilkan avtur dari titik A ke titik B, di mana helikopter itu mendarat," jelasnya.

Di tengah upaya pemadaman melalui udara, penanganan kebakaran di area timbunan sampah juga terus dilakukan oleh petugas di lapangan. Menurut Heru, jumlah titik api telah berkurang sejak Sabtu (24/10/2026). 

Namun menurutnya, kondisi tersebut belum dapat dipastikan sebagai tanda bahwa seluruh kebakaran telah benar-benar padam. Sebab, titik panas masih berpotensi tersimpan di dalam tumpukan sampah. "Tetapi apakah apinya sudah benar-benar padam, itu yang kami tidak tahu. Karena kan ini gunungan sampah, gas metan itu seolah membuat api melayang," terangnya.

Untuk menjangkau titik panas di bagian dalam timbunan, pihaknya menyebut petugas di lapangan menerapkan 2 metode penanganan sejak Rabu (21/10/2026). Metode pertama dilakukan dengan membuka kembali timbunan sampah ketika muncul kepulan asap besar. Petugas kemudian menyemprotkan air ke bagian yang diduga masih menyimpan bara. Setelah api benar-benar padam, timbunan sampah ditutup kembali.

Metode kedua menggunakan teknik injeksi air. Petugas memasukkan pipa yang telah dilubangi pada bagian samping dan diruncingkan ujungnya ke dalam timbunan secara perlahan. Air kemudian disemprotkan melalui pipa untuk membantu membasahi bagian dalam gunungan sampah.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.