SURABAYA (Lentera)– Cuaca panas yang melanda Surabaya dan sekitarnya tidak hanya perlu diwaspadai karena dampaknya terhadap kesehatan fisik, tetapi juga karena dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, dan cara seseorang berkomunikasi.
Kondisi tubuh yang tidak nyaman akibat suhu tinggi berpotensi membuat seseorang lebih mudah tersinggung dan kesulitan mengendalikan respons emosional.
Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo, menjelaskan kondisi fisik dan emosi saling berkaitan. Ketika tubuh mengalami kelelahan akibat cuaca panas, kemampuan seseorang untuk merespons situasi secara tenang dapat ikut terganggu.
Hal ini menjadi perhatian, terutama di ruang publik yang rentan memicu ketegangan, seperti jalan raya, tempat kerja, lingkungan pendidikan, hingga kawasan permukiman yang padat aktivitas.
Upaya sederhana yang dapat dilakukan antara lain mencukupi kebutuhan cairan, mengatur aktivitas agar tidak terlalu lama terpapar panas, serta beristirahat ketika tubuh mulai terasa lelah.
“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” kata Suko, Sabtu (24/10/2026).
Suko menilai, kelelahan fisik dan kurangnya asupan cairan dapat memperburuk ketidaknyamanan saat beraktivitas. Dalam situasi tersebut, seseorang berpotensi lebih reaktif ketika menghadapi gangguan atau perbedaan pendapat.
Dampaknya dapat terlihat dalam interaksi sehari-hari. Di jalan raya, misalnya, kemacetan, suara klakson, dan paparan panas dapat menambah tekanan bagi pengguna jalan. Jika tidak disikapi dengan baik, situasi tersebut berisiko memicu adu mulut maupun perilaku agresif.
Meski demikian, respons setiap orang terhadap cuaca panas tidak selalu sama. Kondisi fisik, tingkat kelelahan, kualitas istirahat, serta situasi yang dihadapi turut memengaruhi kemampuan seseorang mengelola emosi.
Masyarakat perlu memahami bahwa menjaga komunikasi bukan sekadar soal memilih kata-kata yang sopan, melainkan juga mengenali kondisi diri sebelum bereaksi. "Ketika mulai merasa lelah, tidak nyaman, atau mudah terpancing, mengambil jeda sejenak dapat membantu mencegah konflik yang tidak perlu," tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat agar menjaga kondisi fisik sekaligus meningkatkan kesabaran dalam berinteraksi, baik di lingkungan keluarga, kampus, tempat kerja, maupun ruang publik.
"Masyarakat juga perlu menghindari respons spontan berupa bentakan atau kata-kata kasar ketika menghadapi situasi yang menjengkelkan," tambahnya.
Jika terjadi perbedaan pendapat, Suko mengungkapkan, memberi waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan percakapan dapat menjadi salah satu cara meredakan ketegangan. "Mendengarkan penjelasan orang lain dan tidak terburu-buru menyimpulkan maksud perkataan juga penting untuk mencegah kesalahpahaman," ungkapnya.
Dari sisi kesehatan, perlu mengenali tanda-tanda gangguan akibat panas, seperti pusing, sakit kepala, mual, lemas, dan keringat berlebihan. Jika mengalami gejala tersebut, segera hentikan aktivitas, pindah ke tempat yang lebih sejuk, dan lakukan pendinginan tubuh.
Apabila muncul kebingungan, pingsan, atau kondisi memburuk, segera cari pertolongan medis karena dapat menandakan keadaan darurat akibat panas.
Sebelumnya, suhu udara di Surabaya dilaporkan sempat mencapai kisaran 37–38 derajat Celsius. Kondisi panas seperti ini menuntut masyarakat untuk lebih memperhatikan keselamatan diri selama beraktivitas di luar ruangan.
Suko mengingatkan pentingnya membangun sikap saling memahami di tengah kondisi yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan.
“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH



.jpg)

Post a comment