SURABAYA (Lentera) - Gempa besar (major earthquake) bermagnitudo 7,6 mengguncang Panama pada Jumat (9/10/2026) pukul 12.56 waktu setempat atau Sabtu (10/10/2026) pukul 00.56 WIB. Episenter gempa berada di daratan Semenanjung Azuero, Panama, pada koordinat 7,587 derajat lintang utara dan 80,769 derajat bujur barat, dengan kedalaman hiposenter sekitar 12,6 kilometer.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono keterangannya, Sabtu (10/10/2026) melansir inews.is, mengatakan seismik berpotensi menghasilkan guncangan kuat di permukaan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan zona rupture atau rekahan.
Gempa tersebut berkaitan dengan deformasi kerak bumi di kawasan tektonik kompleks Panama. “Mekanisme tersebut menunjukkan bahwa sumber gempa bukan sekadar getaran biasa, melainkan proses rupture atau rekahan atau pecahnya batuan di sepanjang bidang sesar yang melepaskan energi elastik dalam jumlah sangat besar,” kata dia.
Guncangan dilaporkan dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Panama, Kosta Rika, Kolombia, dan Venezuela. Sejumlah kesaksian warga menyebut guncangan terasa kuat, benda-benda berjatuhan, serta terjadi gangguan aliran listrik.
Dia mengatakan, potensi kerusakan perlu menjadi perhatian, terutama di wilayah yang bangunannya belum dirancang dengan standar ketahanan gempa yang memadai. Laporan awal yang dia sampaikan menyebut adanya korban luka dan kerusakan bangunan, sementara korban meninggal belum terkonfirmasi saat itu.
Daryono mengingatkan, keterlambatan informasi mengenai dampak gempa dapat terjadi ketika wilayah yang mengalami guncangan kuat turut mengalami gangguan komunikasi. Karena itu, belum adanya laporan kerusakan tidak serta-merta berarti wilayah tersebut tidak terdampak.
Meski peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan berdasarkan estimasi awal magnitudo, peringatan tersebut kemudian dibatalkan setelah pembaruan parameter dan evaluasi ancaman tsunami.
Menurutnya, gempa Panama didominasi mekanisme sesar geser dengan zona rekahan yang diperkirakan sebagian besar berada di bawah daratan. Kondisi ini berbeda dari mekanisme gempa yang menyebabkan pengangkatan atau penurunan dasar laut secara luas, yang umumnya dapat memicu tsunami tektonik.
“Karena itu, meskipun magnitudonya besar, gempa ini tidak dilaporkan menghasilkan tsunami,” tuturnya.
Daryono menegaskan, gempa besar di Panama menjadi pelajaran bagi negara-negara yang memiliki banyak sesar aktif, termasuk Indonesia. Menurut dia, upaya mitigasi tidak boleh hanya berfokus pada sesar yang sering menghasilkan gempa kecil.
“Kita tidak boleh hanya mewaspadai sesar yang sering menghasilkan gempa kecil. Sesar yang selama ini tampak tenang juga perlu mendapat perhatian melalui pemetaan sesar aktif, pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan GNSS, serta penelitian paleoseismologi,” kata Daryono. (*)
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)

Post a comment