JAKARTA (Lentera) -Membuat sket itu seperti membuat berita. Sedang melukis itu seperti membuat esei, kalimat ini diucapkan wartawan sekaligus pelukis saat pameran tunggalnya yang ke 14 di Galeri Cemara 6, di Jalam HOS Tjokroaminoto, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) sore.
Pameran ini dibuka oleh Maya Saraswati Rizano, profesional komunikasi korporat dan pecinta seni.
Setidaknya ada 45 lukisan akrilik yang dibuat selama 24 tahun sejak 2002 hingga 2024. Acara itu dilabeli negosiasi tubuh, urban, tradisi, warisan, dan gaya hidup.
Yusuf seakan meminta pengunjung tidak seperti membaca berita yang singkat, padat, jelas, dean tidak bermakna ganda. Lebih dari itu, pengunjung diajak berfikir esais yang mencari dan menawarkan tesis baru.
Ia juga mengajak "tubuh" berfikir ulang tentang kenikmatan, tradisi, gaya hidup dengan Jakarta sebagai wadahnya.
Tubuh dalam karya-karya terbarunya bukan dibaca dan dinikmati sebagai representasi anatomis ketubuhan, melainkan sebuah medan pertarungan ideologis tempat berlangsungnya tawar-menawar atau negosiasi antara modernitas yang hegemonik, jejak tradisi, dan godaan gaya hidup konsumeris.
Ide filosofis yang tertuang dalam lukisannya ini mungkin karena dipengaruhi sentuhan Toeti Herati pemilik galeri yang sangat filosofis yang ia temui saat melaksanakan tugas jurnalistik beberapa puluh tahun lalu.
Pameran yang dikuratori Dr Citra Swara Dewi ini terbuka untuk umum dan gratis. akan berlangsung hingga 18 Oktober.2026 (*)
Penulis: Eko Wienarto, wartawan tinggal di Jakarta|Editor: Arifin BH



.jpg)

Post a comment