SURABAYA (Lentera) – Kondisi cuaca panas yang semakin ekstrem di Surabaya mendapat perhatian dari DPRD Kota Surabaya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dinilai perlu memperkuat langkah mitigasi agar cuaca panas tidak berdampak lebih luas terhadap kesehatan masyarakat.
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Surabaya, Cahyo Siswo Utomo menyoroti penghentian lebih awal kategori Full Marathon dalam Surabaya ISOPLUS Marathon 2026, Minggu (4/10/2026), sebagai salah satu gambaran bahwa kondisi panas perlu menjadi perhatian serius.
Penyelenggara menghentikan kategori marathon setelah pemantauan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) di lapangan menunjukkan kondisi panas berasa pada kisaran 42 hingga 46 derajat Celsius yang dinilai membahayakan keselamatan pelari.
Cahyo mengatakan kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Pemkot untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai cara beraktivitas secara aman ketika cuaca sangat panas.
"Penting ketika kita tahu cuaca seperti ini, pemerintah kota atau OPD terkait, mungkin BPBD atau Dinas Kesehatan, ada upaya-upaya memitigasi dampak dari cuaca panas," kata Cahyo pada Lentera, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, edukasi tidak cukup hanya berupa imbauan. Masyarakat perlu mendapatkan informasi praktis mengenai aktivitas yang aman, kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai, serta langkah yang harus dilakukan ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Ia juga meminta perangkat daerah terkait memberikan panduan mengenai perlindungan diri saat cuaca panas, termasuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh.
"Harapannya pada Pemerintah Kota Surabaya, terutama dinas terkait, ada upaya sosialisasi untuk kemudian memitigasi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama terkait dengan kesehatan masyarakat," katanya.
Cuaca panas ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas atau heat illness. Risikonya dapat meningkat ketika seseorang melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan dalam kondisi panas dan lembap.
Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain rasa haus berlebihan, tubuh lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, hingga tubuh terasa sangat panas.
Jika kondisi memburuk, seseorang dapat mengalami heat exhaustion dan dalam kondisi berat dapat berkembang menjadi heat stroke, yang merupakan keadaan darurat medis.
Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan memperhatikan kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat secara berkala, dan menghindari aktivitas fisik berat ketika kondisi panas berada pada tingkat yang berisiko.
Cahyo juga mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh sedang tidak fit. "Kalau tidak fit mungkin jika aktivitasnya bisa ditunda, mungkin menunda aktivitas. Kalau tidak bisa ditunda maka langkah antisipatifnya terkait dengan diri sendiri mungkin bisa diukur diri sendirinya," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat juga perlu membiasakan diri memantau informasi cuaca sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Selain edukasi, Cahyo mendorong Pemkot mengkaji langkah konkret untuk mengurangi paparan panas di ruang publik.
Salah satu gagasan yang muncul adalah kemungkinan adanya intervensi pada titik-titik tertentu, seperti penyiraman air untuk membantu mengurangi panas lingkungan.
Namun, menurutnya, langkah tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan perlu kajian terlebih dahulu. "Misalnya nyiramnya seperti apa, di titik mana, bagaimana caranya, itu memang perlu kajian. Karena memang sepertinya lintas-lintas dinas ya, lintas OPD untuk mengeksekusi hal itu," katanya.
Ia menilai mitigasi cuaca panas membutuhkan koordinasi antara sejumlah perangkat daerah, seperti BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup maupun perangkat kewilayahan.
Kajian tersebut diperlukan agar setiap tindakan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan, kebutuhan masyarakat, dan tidak justru menimbulkan persoalan baru. "Jadi enggak sembarangan melakukan hal-hal yang terkait dengan mitigasi," tegasnya.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menghadapi cuaca ekstrem. Ia mengingatkan agar warga tidak hanya mengandalkan informasi suhu, tetapi juga mengenali kemampuan tubuh masing-masing.
Bagi warga yang tetap harus bepergian, pilihan moda transportasi juga dapat disesuaikan dengan kondisi. Jika aktivitas menggunakan sepeda motor dalam cuaca sangat panas berpotensi menambah paparan panas, masyarakat dapat mempertimbangkan transportasi umum atau pilihan lain yang lebih memungkinkan untuk mengurangi paparan langsung.
"Yang paling penting tetap update informasi, kemudian mengukur diri sendiri agar kemudian mencegah terjadinya dampak samping dari panasnya cuaca hari ini," tutupnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)

Post a comment