12 October 2026

Get In Touch

Bangun Ketahanan Pangan dari Kampung, Ketua Komisi A DPRD Surabaya Sebar 200 Tong Komposter

Ketua Komisi A DPRD Surabaya memberikan tong komposter kepada warga.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya memberikan tong komposter kepada warga.

SURABAYA (Lentera) – Pengelolaan sampah organik di tingkat kampung, didorong menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan di Surabaya. 

Untuk mewujudkan hal itu, Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko mengadaptasi konsep Kampung Malaka Jaya, Jakarta Timur, melalui pembagian tong komposter ke sejumlah RW di daerah pemilihannya.

Program tersebut diawali di Perumahan Gunung Sari Indah (GSI), RW 9, Kelurahan Kedurus, dengan distribusi 20 unit tong komposter berkapasitas 160 liter.

“Untuk Perumahan Gunung Sari Indah, tepatnya di RW 9 Kelurahan Kedurus sebagai starter untuk mengawali program, saya distribusikan 20 unit tong komposter kapasitas 160 liter,” kata Yona, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, pengolahan limbah organik dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem ketahanan pangan dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga dan kampung.

Program serupa kemudian diarahkan ke sejumlah wilayah binaannya di Dapil 5 Surabaya. Di antaranya RW 3 dan RW 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung; RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal; RW 1 Kelurahan Kedurus; RW 3 Kelurahan Jeruk; serta RW 2 dan RW 3 Kelurahan Warugunung.

Yona mengatakan, konsep tersebut terinspirasi dari Kampung Malaka Jaya yang mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan kegiatan produktif warga. Di kawasan tersebut, pengolahan limbah organik dikembangkan berdampingan dengan tanaman produktif, budidaya ikan hingga kegiatan yang mendukung perekonomian masyarakat.

“Konsepnya saya terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana pengolahan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan kegiatan produktif warga,” ujarnya.

Namun, konsep tersebut tidak akan diterapkan secara mentah di Surabaya. Setiap kampung akan menyesuaikan pengembangannya dengan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan dan kebutuhan warga.

“Tidak harus persis sama dengan Malaka Jaya. Kita sesuaikan dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsipnya sama, bagaimana limbah organik bisa dikelola dan hasilnya kembali memberikan manfaat untuk warga,” tuturnya.

Untuk tahap awal, Yoma menyiapkan, sedikitnya empat tong komposter bagi setiap RW di wilayah binaannya yang berminat menjalankan program tersebut. Jumlahnya dapat disesuaikan dengan cakupan wilayah dan jumlah RT dalam satu RW.

Tong komposter yang dibagikan memiliki kapasitas 160 liter sehingga diharapkan dapat digunakan secara komunal untuk menampung limbah organik warga.

“Tiap RW di wilayah binaan saya yang berminat untuk melakukan program pengolahan limbah organik saya distribusikan masing-masing minimal empat tong komposter, bergantung cakupan dan luas wilayah RT masing-masing dalam satu RW,” jelasnya.

Secara keseluruhan, dalam rangkaian jaring aspirasi masyarakat kali ini, Yona menyiapkan sekitar 200 unit tong komposter untuk RW-RW binaannya di Dapil 5 Surabaya. Bantuan tersebut diberikan secara swadaya sebagai langkah awal menggerakkan pengolahan sampah organik berbasis lingkungan.

“Kurang lebih dalam jaring aspirasi kali ini saya akan memberikan bantuan sebanyak 200 unit tong komposter yang dibagikan di RW-RW binaan saya di Dapil 5, secara swadaya dari saya pribadi,” ungkapnya.

Politisi dari Fraksi Gerindra ini menekankan, keberadaan komposter bukan menjadi tujuan akhir. Pengolahan sampah organik diharapkan dapat dilanjutkan dengan pemanfaatan hasilnya untuk tanaman pangan, kebun lingkungan, urban farming maupun kegiatan produktif lainnya.

“Sampah organik diolah, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk tanaman, kebun pangan atau kegiatan produktif lain sehingga ketahanan pangan benar-benar tumbuh dari kampung,” ucapnya.

Yona berharap, program tersebut dapat berkembang secara mandiri setelah warga terbiasa mengelola sampah organik. Dari pengolahan sampah, kegiatan lingkungan diharapkan dapat berkembang ke budidaya tanaman pangan, ikan atau aktivitas produktif lain sesuai potensi masing-masing kampung.

“Harapannya nanti warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi bisa mengembangkan sendiri. Kalau sudah berjalan, dari komposter bisa berkembang ke tanaman pangan, budidaya ikan atau kegiatan lain yang mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.