04 October 2026

Get In Touch

Jejak Perlawanan Intelektual di Museum Pendidikan Surabaya

Suasana ruang kelas jadul di Museum Pendidikan Surabaya
Suasana ruang kelas jadul di Museum Pendidikan Surabaya

SURABAYA (Lentera)-Suara rombongan pengunjung terdengar lirih di salah satu ruangan Museum Pendidikan Surabaya. Sebagian mengamati naskah lontar yang tersimpan di dalam etalase kaca. Sebagian lainnya memperhatikan bangku sekolah tua yang berjajar rapi di ruang kelas era kolonial. Di sudut lain, sebuah mesin cetak tua berukuran besar siap menjadi spot foto dan cerita.

Pemandangan seperti itu hampir setiap hari ditemui Nanda Azkia. Sebagai pemandu Museum Pendidikan Surabaya, ia menjadi salah satu orang yang bertugas mengenalkan sejarah pendidikan Indonesia kepada para pengunjung.
"Kalau hari biasa justru lebih ramai. Bisa ratusan siswa yang datang karena study tour atau kegiatan pembelajaran di luar kelas," kata Nanda.

Museum Pendidikan Surabaya berada di Jalan Genteng Kali Nomor 10, Surabaya. Lokasinya berada di pusat kota, tidak jauh dari kawasan Kalimas dan Taman Ekspresi. Bangunan bercat putih yang menjadi rumah museum itu masih mempertahankan karakter arsitektur kolonial yang menjadi ciri kawasan lawas Surabaya.

Gedung tersebut bukan bangunan baru dan tercatat sebagai cagar budaya. Berdasarkan data museum, gedung dibangun pada rentang 1925 hingga 1930. Sebelum menjadi museum, pernah digunakan sebagai bagian dari aktivitas pendidikan Taman Siswa, lembaga pendidikan yang didirikan Ki Hajar Dewantara dan dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi kaum pribumi pada masa kolonial.

Keterkaitan dengan Taman Siswa menjadi salah satu alasan mengapa bangunan tersebut dipilih sebagai Museum Pendidikan Surabaya. Sejarah pendidikan yang pernah berlangsung di dalamnya dianggap selaras dengan fungsi museum sebagai ruang pelestarian dan edukasi.

"Mereka biasanya terkejut ketika mengetahui bangunan ini dulu berkaitan dengan aktivitas pendidikan Taman Siswa. Jadi sebelum menjadi museum, tempat ini memang sudah punya hubungan yang sangat kuat dengan dunia pendidikan," ujar Nanda.

Lebih dari sekadar museum, bangunan ini merekam salah satu babak penting dalam sejarah pendidikan nasional. Pada masa kolonial, ketika akses pendidikan masih dibatasi berdasarkan status sosial dan ras, Taman Siswa hadir sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap sistem yang diskriminatif.  Dari ruang-ruang belajar di Taman Siswa inilah lahir gagasan bahwa pendidikan harus dapat diakses seluruh rakyat. 

Pemerintah Kota Surabaya meresmikan Museum Pendidikan Surabaya pada 25 November 2019, bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Kehadirannya ditujukan untuk menjaga warisan sejarah pendidikan sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat.

Dengan luas sekitar 1.452 meter persegi, museum ini menyimpan hampir 900 koleksi. Saat pertama kali dibuka, jumlah koleksinya tercatat sekitar 860 artefak yang meliputi historika, filologika, heraldika, etnografika, keramologika, hingga teknologika. Koleksi tersebut terus bertambah seiring proses pengumpulan dan pelestarian yang dilakukan pemerintah kota.

"Ada yang memang sengaja dibeli, ada juga sumbangan dari para kolektor," jelasnya.

Berbeda dengan museum yang mengelompokkan koleksi berdasarkan jenis benda, Museum Pendidikan Surabaya menyusun ruang pamer berdasarkan perjalanan sejarah pendidikan Indonesia. Pengunjung diajak mengikuti alur perkembangan pendidikan secara kronologis melalui empat zona utama, yakni masa praaksara, masa klasik, masa kolonial, dan masa kemerdekaan.

Perjalanan dimulai dari zona praaksara. Di ruang ini dipamerkan replika berbagai alat batu yang digunakan manusia purba. Melalui koleksi tersebut, pengunjung diperkenalkan pada bentuk pendidikan paling awal, yaitu proses pewarisan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

"Di sini kami menjelaskan bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah. Sejak zaman manusia purba sebenarnya sudah ada proses belajar, meskipun dilakukan secara sederhana. Misalnya seorang ayah yang mengajarkan anaknya membuat api," kata Nada.

Dari ruang praaksara, pengunjung kemudian memasuki masa klasik. Pada periode ini mulai terlihat perkembangan sistem pengetahuan yang ditandai dengan hadirnya tulisan.

Salah satu koleksi utama di zona ini adalah naskah lontar. Lembaran daun lontar yang diukir menggunakan alat khusus itu pernah menjadi media penyimpanan ilmu pengetahuan selama berabad-abad. Selain lontar, museum juga menyimpan naskah berbahan dluwang, yaitu kertas tradisional yang dibuat dari kulit pohon saeh.

Sejumlah koleksi memperlihatkan penggunaan berbagai aksara yang pernah berkembang di Nusantara, mulai dari aksara Jawa kuno hingga Arab Pegon yang banyak dipakai dalam tradisi pendidikan Islam di pesantren.

"Banyak yang baru pertama kali melihat lontar secara langsung. Mereka biasanya penasaran bagaimana cara menulisnya dan bagaimana naskah itu bisa bertahan sampai sekarang," ujar Nada.

Zona berikutnya merupakan salah satu ruang yang paling menarik perhatian pengunjung, yakni masa kolonial. Di area ini museum merekonstruksi suasana ruang kelas era Hindia Belanda lengkap dengan bangku panjang, meja belajar, dan papan tulis.

Sebelum masuk ruang kelas, Pojok "Ini Budi" menjadi titik yang menyita perhatian pengunjung. Area ini didedikasikan untuk mengenang buku pelajaran legendaris yang menjadi tonggak awal literasi jutaan anak Indonesia pada era 1980-an hingga 1990-an. Pengunjung dapat melihat langsung replika buku, alat peraga visual, dan dokumentasi sejarah dari metode pembelajaran membaca yang sangat ikonik tersebut.

Kehadiran sudut ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan tinggi kepada sang pencipta karakter dan metode tersebut, yaitu Ibu Siti Rahmani Rauf. Tokoh pendidik asal Padang, Sumatra Barat, ini menyusun buku dan alat peraga "Ini Budi" menggunakan metode Struktur Analitik Sintetik (SAS) saat bertugas di Jakarta. Dedikasinya sepanjang hidupnya di dunia pendidikan berhasil menciptakan cara belajar membaca yang sederhana, menyenangkan, dan membekas di hati lintas generasi.

"Melalui peninggalan Ibu Siti Rahmani Rauf ini, generasi muda diajak untuk menghargai sejarah panjang perkembangan sistem dan alat peraga pendidikan di Indonesia," jelasnya.

Berbagai peralatan belajar yang digunakan pada masa lalu juga dipamerkan. Salah satunya adalah sabak, media menulis yang digunakan sebelum buku tulis diproduksi secara luas.
Sabak berbentuk lempengan batu tipis yang dibingkai kayu. Untuk menulis digunakan alat yang disebut grip. Ketika permukaannya penuh, tulisan dapat dihapus dan digunakan kembali.

"Banyak siswa sekarang yang tidak tahu kalau dulu orang menulis di batu. Ketika melihat sabak, mereka langsung membandingkannya dengan buku atau tablet yang mereka gunakan sekarang," katanya.

Selain sabak, terdapat pula koleksi sempoa, ijazah lama, buku pelajaran, hingga berbagai dokumen pendidikan yang masih menggunakan ejaan lama.

Di antara seluruh koleksi kolonial, salah satu yang paling sering menarik perhatian pengunjung adalah mesin cetak handpress.
Mesin berbahan besi cor itu digunakan untuk mencetak dokumen secara manual. Setiap huruf harus disusun satu per satu sebelum dicetak ke atas kertas. Proses tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan teknologi percetakan modern.

"Biasanya pengunjung paling tertarik melihat mesin cetak. Mereka tidak menyangka bahwa dulu satu halaman dicetak secara manual," ujarnya.

Perjalanan berlanjut ke zona kemerdekaan. Di bagian ini, pengunjung dapat melihat perkembangan pendidikan Indonesia setelah 1945.

Berbagai buku pelajaran lama dipamerkan di dalam etalase. Ada pula mesin ketik manual yang pernah menjadi peralatan utama di sekolah dan kantor pemerintahan selama beberapa dekade.

Bagi sebagian pengunjung, area ini menghadirkan nostalgia. Museum ini membantu generasi muda memahami perkembangan pendidikan dari masa ke masa.

"Itu kan dari masa lampau sampai masa sekarang. Jadi sangat penting ketika anak-anak datang itu tahu perkembangan pendidikan dari masa lampau sampai eranya dia. Mereka bisa membandingkan dan menambah wawasan," ujarnya.

Selain ruang pamer permanen, museum juga menyediakan perpustakaan, ruang edukasi, serta berbagai kegiatan publik seperti diskusi, lokakarya, dan pameran temporer. Sejumlah koleksi juga telah dilengkapi kode QR yang memungkinkan pengunjung memperoleh informasi tambahan secara digital.

Meski berada di pusat Kota Surabaya, jumlah pengunjung museum ternyata tidak selalu tinggi pada akhir pekan."Kalau akhir pekan biasanya sekitar 50 pengunjung dalam sehari dan kebanyakan warga Surabaya yang datang bersama keluarga," kata Nada.

Sebaliknya, hari kerja menjadi waktu paling sibuk karena banyak sekolah menjadikan museum sebagai tujuan pembelajaran luar kelas.
"Kalau hari biasa bisa ratusan siswa. Banyak sekolah yang datang untuk study tour atau pembelajaran di luar kelas. Jadi memang kunjungan pelajar masih mendominasi," ujarnya.

Museum Pendidikan Surabaya menerapkan sistem reservasi daring bagi seluruh pengunjung. Tiket harus dipesan terlebih dahulu melalui portal resmi Tiket Wisata Surabaya dan tidak melayani kunjungan langsung tanpa reservasi.

Tarif masuknya relatif terjangkau. Pelajar asal Surabaya dapat berkunjung secara gratis. Pelajar dari luar Surabaya dikenakan tarif Rp 3.000 per orang, sedangkan masyarakat umum Rp 5.000 per orang.

Melalui sistem tersebut, museum dapat mengatur jumlah pengunjung sekaligus mempersiapkan layanan pendampingan bagi rombongan sekolah yang datang dalam jumlah besar.

Museum buka setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB. Pada hari Senin dan hari libur nasional, museum tutup untuk umum. Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan penjelasan langsung mengenai koleksi, layanan pemandu tersedia hingga pukul 15.00 WIB.

Lokasinya yang berada dalam satu kawasan dengan Taman Ekspresi dan tepi Sungai Kalimas juga menjadi nilai tambah tersendiri. Setelah berkeliling ruang pamer, pengunjung dapat menikmati area publik yang berada di sekitar museum.

Hingga kini, Museum Pendidikan Surabaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Museum ini juga menjadi ruang belajar yang mempertemukan berbagai generasi dengan sejarah pendidikan Indonesia.

Melalui hampir 900-an koleksi yang tersimpan di dalamnya, pengunjung dapat melihat bagaimana pendidikan berkembang dari masa ke masa. Mulai dari alat batu pada era praaksara, naskah lontar pada masa klasik, ruang kelas kolonial, hingga buku pelajaran dan mesin ketik pada masa kemerdekaan.

"Anak-anak bisa melihat langsung bagaimana pendidikan berkembang dari masa ke masa. Itu yang biasanya membuat mereka lebih mudah memahami sejarah," kata Nanda.

Di tengah berkembangnya teknologi digital dan sumber belajar daring, Museum Pendidikan Surabaya menghadirkan sejarah dalam bentuk yang nyata, dapat dilihat dan dapat dipelajari langsung oleh generasi yang akan datang.

Reporter: Widyawati/Editor:Arifin BH

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.