SURABAYA (Lentera) – Sembilan tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah perusahaan media untuk bertahan dan terus bertumbuh di tengah perubahan industri yang bergerak begitu cepat. Bagi Lentera Media Grup, perjalanan tersebut bukan sekadar catatan usia, melainkan rangkaian proses panjang yang dibangun melalui kerja keras, adaptasi, serta fondasi ilmu pengetahuan.
Founder Lentera Media Grup, Tarmuji Talmacsi, mengungkapkan perjalanan Lentera Media sejak awal berdiri hingga kini menjadi gambaran bagaimana sebuah institusi media harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.
Dalam perjalanan sembilan tahun itu, Lentera Media telah beberapa kali berpindah tempat. Dua tahun pertama dijalani di kawasan Jalan Pandegiling, kemudian selama tujuh tahun berkembang di Rungkut Asri.
“Kita ingin menunjukkan perjalanan kita panjang. Kita pernah dua tahun di Jalan Pandegiling, lalu tujuh tahun di Rungkut Asri, dan tahun ini di sini,” ungkap Tarmuji dalam syukuran sembilan tahun Lentera Media Grup, Jumat (25/09/2026).
Perpindahan tersebut, menurut Tarmuji, bukan sekadar perubahan alamat. Setiap ruang yang ditempati menjadi bagian dari proses pertumbuhan Lentera Media dalam membaca kebutuhan dan membangun ekosistem kerja yang semakin lengkap.
“Kami berpindah menyesuaikan kebutuhan,” ujarnya.
Kini, Lentera Media tidak hanya memiliki ruang kerja untuk aktivitas jurnalistik. Berbagai fasilitas dikembangkan untuk mendukung aktivitas media sekaligus kegiatan berbasis pengetahuan. Di antaranya studio podcast, ruang pelatihan, hingga auditorium.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Lentera Media memperluas perannya. Media tidak lagi dipandang hanya sebagai institusi yang memproduksi dan menyebarkan informasi, tetapi juga sebagai ruang bertemunya gagasan, pengetahuan, teknologi, dan masyarakat.
Di balik perkembangan tersebut, Tarmuji menekankan satu hal yang menjadi fondasi Lentera Media, yakni sumber daya manusia.
Menurutnya, Lentera Media ditopang oleh tim yang terdiri dari tenaga profesional dan akademisi. Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga kualitas kerja sekaligus memastikan setiap perkembangan perusahaan tetap memiliki pijakan keilmuan.
“Kami terdiri dari tim yang luar biasa. Semua tenaga profesional dan memiliki latar belakang pendidikan yang kuat,” katanya.
Namun, perjalanan sembilan tahun itu tidak selalu berjalan mudah. Lentera Media juga menghadapi tekanan yang sama seperti industri media pada umumnya. Perubahan pola konsumsi informasi, perkembangan teknologi digital, hingga dinamika bisnis media memberikan tantangan tersendiri.
Dalam satu tahun terakhir, Lentera Media bahkan mengalami penurunan pendapatan sekitar 30 hingga 40 persen.
Tarmuji tidak menutup-nutupi kondisi tersebut. Baginya, realitas itu harus dihadapi secara terbuka sebagai bagian dari tantangan industri yang sedang berubah.
“Walaupun dalam satu tahun terakhir kita mengalami penurunan pendapatan 30-40 persen, ini adalah tantangan,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Lentera Media harus berhadapan dengan situasi yang tidak mudah. Namun, bagi Tarmuji, bertahan bukan berarti berhenti bergerak.
Lentera Media memilih merespons perubahan dengan memperkuat inovasi dan mengembangkan model usaha yang tidak sepenuhnya bergantung pada pola bisnis media konvensional.
“Kita dihadapkan kondisi tidak mudah, tetapi kita masih bertahan,” ujarnya.
Salah satu langkah yang dikembangkan adalah membangun usaha berbasis teknologi, termasuk melalui model membership. Selain itu, Lentera Media juga mengembangkan aplikasi yang mendukung kegiatan riset serta terus menyiapkan berbagai platform dan inovasi lainnya. (*)
Reporter: Pradhita
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)

Post a comment