25 September 2026

Get In Touch

Dana Pembinaan Terbatas, IBCA MMA Trenggalek Tetap Tancap Gas dan Borong 10 Medali

Pertandingan IBCA MMA dalam Kejurprov Jawa Timur Sirkuit 3 di GOR Soekarno Hatta, Kota Blitar, 17–20 September 2026. Kontingen Trenggalek mengirim 12 atlet dan berhasil membawa pulang 10 medali.
Pertandingan IBCA MMA dalam Kejurprov Jawa Timur Sirkuit 3 di GOR Soekarno Hatta, Kota Blitar, 17–20 September 2026. Kontingen Trenggalek mengirim 12 atlet dan berhasil membawa pulang 10 medali.

TRENGGALEK (Lentera) –Kontingen IBCA MMA Kabupaten Trenggalek mencatatkan hasil positif pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) IBCA MMA Jawa Timur Sirkuit 3 yang berlangsung di GOR Soekarno Hatta, Kota Blitar, 17–20 September 2026. Dari 12 atlet yang diterjunkan, Trenggalek berhasil membawa pulang 10 medali.

Raihan tersebut terdiri dari 2 medali emas, 2 medali perak, dan 6 medali perunggu. Salah satu medali perak diraih pada kategori pemula atau beginner.

Pelatih IBCA MMA Kabupaten Trenggalek, Aris Suaka, mengatakan kejuaraan tersebut menjadi salah satu bagian dari proses pembinaan atlet untuk menghadapi agenda olahraga yang lebih besar, termasuk Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.

"Turnamen kemarin kita menerjunkan 12 atlet keseluruhan dan dapat 10 medali. Medalinya 2 emas, 1 perak, 6 perunggu plus 1 perak kelas pemula," ujar Aris.

Dua medali emas Trenggalek masing-masing dipersembahkan Rafli Arafat Raditya Pratama pada kategori Junior MMA kelas 61,2 kilogram putra dan Galuh Ajeng Sekar Nastiti pada kategori Junior Stand Fight kelas 47,7 kilogram putri.

Sementara medali perak diraih Kholifatul Mega Septianingtyas pada kategori Youth C MMA kelas 37 kilogram putri. Adapun satu medali perak lainnya diperoleh Ezzar Edrian Ferdiansyah pada kategori Senior Stand Fight kelas 52,2 kilogram putra dalam kategori pemula.

Enam medali perunggu disumbangkan Fariz Azka Danendra pada Youth B MMA kelas 52 kilogram putra, Valencia Okta Cinta Fuandri pada Youth A MMA kelas 47,7 kilogram putri, Dhana Kusuma Javapindo pada Youth A MMA kelas 56,7 kilogram putra, Aura Sifa Setia Ningrum pada Youth A MMA kelas 47,7 kilogram putri, Muhamad Ersa Khadafi pada Junior MMA kelas 65,8 kilogram putra, serta Tahta Charendra Septya Ramadhina pada Junior Stand Fight kelas 70,3 kilogram putri.

Menurut Aris, para atlet yang bertanding berada pada rentang usia 12 hingga 18 tahun. Keikutsertaan di Kejurprov tersebut juga bukan pengalaman pertama bagi kontingen Trenggalek.

"Sudah kesekian kali. Ini agenda Kejurprov yang terakhir di tahun 2026. Selama ini sekitar empat kali kami mengikuti Kejurprov dari Kabupaten Trenggalek," katanya.

IBCA MMA sendiri relatif baru berkembang di Kabupaten Trenggalek. Organisasi tersebut mulai aktif sekitar 2024–2025 dan langsung mengikutsertakan atlet dalam ajang Kejurprov. Pada debut awal di Kejurprov Tuban, sebagian besar atlet Trenggalek masih turun di kelas pemula.

Saat ini terdapat sekitar 17 hingga 20 atlet aktif yang menjalani latihan di dua lokasi, yakni wilayah Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Watulimo. Pembinaan dilakukan oleh dua pelatih, Aris Suaka dan Dimas Yanuar Ishak. Dimas diketahui merupakan mantan atlet One Pride.

Latihan rutin dilaksanakan tiga kali dalam sepekan. Selain latihan reguler, pembinaan juga dilakukan melalui pemusatan latihan atau training camp (TC) yang digelar sekitar satu kali dalam sebulan. Kegiatan tersebut diikuti atlet dari berbagai camp di Kabupaten Trenggalek, termasuk melalui agenda sparing.

"Kalau seperti TC itu satu bulan sekali kita biasanya rutin adakan pertemuan se-Kabupaten Trenggalek untuk TC, mungkin sparing antar camp seperti itu. Dan dibina langsung oleh ketua kami Pak Yuda," jelas Aris.

Dalam pembinaan tersebut, IBCA MMA Trenggalek juga menghadapi keterbatasan anggaran dan sarana latihan. Aris menyebut dukungan hibah dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Trenggalek sekitar Rp10 juta per tahun masih harus dibagi untuk berbagai kebutuhan kegiatan.

"Ya cukup enggak cukup. Rp10 juta itu kalau kita anggarkan untuk tiga kali kejuaraan masih kurang. Kita sebisa mungkin cari dana tambahan dari sponsor, dari dana swadaya, dan dana pribadi juga," ungkapnya.

Keterbatasan tersebut turut dirasakan dalam pemenuhan peralatan latihan. Menurut Aris, sejumlah sarana prasarana yang digunakan atlet masih belum memenuhi standar yang diharapkan.

"Intinya minta diperhatikan untuk masalah pembiayaan, sarana prasarana kita juga termasuk kurang. Alat-alat latihan juga masih di bawah standar. Tapi kita berusaha sebisa mungkin agar atlet kita bisa memberikan yang terbaik untuk Kabupaten Trenggalek," ujarnya.

Dari sisi pembinaan atlet, IBCA MMA Trenggalek memiliki karakteristik yang cukup beragam. MMA merupakan olahraga bela diri campuran yang menggabungkan teknik dari berbagai disiplin bela diri. Kondisi tersebut membuat atlet dari berbagai perguruan bela diri memiliki peluang untuk beradaptasi.

"Di MMA itu sebetulnya bukan aliran bela diri, tapi kompetisi berbagai macam aliran bela diri. Jadi di situ bela diri campuran," kata Aris.

Ia menjelaskan, atlet yang telah memiliki dasar pencak silat dapat menambah kemampuan dari disiplin bela diri lainnya. Teknik pukulan dapat dikembangkan melalui boxing atau kickboxing, teknik bantingan dari judo, sedangkan teknik kuncian dapat dipelajari melalui Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ).

Keberagaman latar belakang atlet tersebut sejauh ini tidak menjadi kendala dalam proses pembinaan. Justru, menurut Aris, sejumlah perguruan bela diri turut mendukung atletnya untuk mengikuti pembinaan MMA.

"Di sini tujuannya hanya satu, cari prestasi. Kalau atlet sesama atlet tidak rukun kan tidak enak. Di sini kita belajar untuk berprestasi bersama sesuai dengan slogan kami yaitu Trenggalek Damai Berprestasi," tuturnya.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.