20 September 2026

Get In Touch

Kalcer Banget! Nikmati Serunya Lima 'Hidden Gem' di Desa Wisata Tulungrejo Kota Batu

Wisatawan sedang petik Apel di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur.
Wisatawan sedang petik Apel di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur.

BATU (Lentera) - Bagi wisatawan yang jenuh dengan destinasi itu-itu saja, Desa Tulungrejo di Kota Batu, Jawa Timur menawarkan alternatif beberapa hidden gem atau tempat tersembunyi yang menarik dan membuat penasaran. Kawasan ini memiliki lokasi wisata pertanian, sejarah (heritage), religi, hingga kuliner yang sangat kalcer untuk muda mudi.

Wisatawan bisa menjelajahi lima spot wisata di desa ini, diantaranya Wisata Petik Apel, Makam Dinger, Pura Luhur Giri Arjuna, Warung Angling Dharma, dan Bakso Taker Wareg. Berada di lereng Gunung Arjuno-Welirang pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Tulungrejo memiliki udara yang sejuk bahkan di siang hari. Wisatawan disarankan untuk mengenakan jaket saat berkunjung di wilayah ini.

Wisatawan sedang petik Apel di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur.
Wisatawan sedang petik Apel di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur.

1. Wisata Petik Apel

Di sepanjang Jalan Raya Tulungrejo, terdapat orang-orang yang menjual jasa wisata petik apel khas Kota Batu. Harga tiket masuknya tergolong terjangkau, berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu setiap orang.

Wisatawan akan diantar ke kebun apel tujuan. Sebelum memetik, pengunjung akan diberi edukasi cara memetik yang benar. Wisatawan dilarang merusak pohon, seperti mematahkan dahan, karena kebun tersebut juga menjadi sumber panen apel untuk dijual ke pasaran.

"Wisata petik apel ini menguntungkan bagi pemilik lahan apel selain dari hasil panen yang dijual, juga ada pendapatan dari wisatawan, dan menjadi sumber ekonomi bagi mereka yang menghubungkan wisatawan dengan petani (penyedia jasa) sehingga wisatawan bisa berkegiatan petik apel. Eksistensi wisata petik apel ini cukup bagus, wisatawan dari luar Malang seperti Surabaya, Sidoarjo, itu senang mereka wisata petik apel," kata Kepala Desa Tulungrejo, Suliono saat diwawancarai pada Sabtu (19/9/2026). 

Dengan membayar tiket masuk, wisatawan bebas memetik dan makan apel sepuasnya di dalam kebun. Apel jenis Manalagi berwarna hijau dan berasa manis sangat enak saat langsung dimakan. Jika ingin membawa pulang hasil petikan, apel akan ditimbang dengan harga rata-rata sekitar Rp40.000 setiap kilogram berisi 8-10 buah apel.

"Mungkin di satu kebun saja yang memang membuka untuk tempat wisata petik apel kalau kunjungan hari Sabtu dan Minggu atau tanggal merah bisa puluhan orang yang datang setiap harinya, kan ini wisata petik apel banyak lahannya," lanjut Suliono.

Makam Dinger di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur.
Makam Dinger di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur.

2. Makam Dinger

Bagi penyuka wisata sejarah, bangunan Makam Dinger yang berusia lebih dari 100 tahun ini bisa dikunjungi. Tempat ini merupakan eks makam pengusaha perkebunan gula, kopi, dan kina asal Belanda, Graff Jan Dinger beserta istrinya, Elisabeth Malvine. Bangunan tersebut telah menarik banyak orang berkunjung hanya untuk memenuhi rasa penasaran dan berfoto.

Meski tidak luas, bangunan bergaya arsitektur kolonial Hindia Belanda ini tampak berdiri tegak dan tinggi. Di atas pintu bangunan terukir tulisan FAMILIE GRAP J DINGER, serta tulisan ANNO dan 1917 di sisi kiri-kanannya sebagai penanda tahun pembangunan. Dahulu makam ini dikelilingi kolam dan jembatan masuk, namun kini kolamnya telah berubah menjadi lahan pertanian.

Saat ini, di sekitar eks makam tersebut juga terdapat pagar besi yang mengelilingi untuk melindungi bangunan. Jika wisatawan ingin masuk di dalam bangunan tersebut tetapi pintu pagar tertutup bisa meminta tolong juru kunci dengan menanyai warga sekitar. 

Graff Jan Dinger diketahui lahir di Amsterdam pada 1853 dan meninggal pada 2 Februari 1917. Sebelum makam ini selesai dibangun pada 1919, jasadnya sempat disemayamkan di Tulungagung. Istrinya menyusul dimakamkan di tempat ini pada 1938. Namun, pada 1957, pihak keluarga memutuskan untuk memindahkan jasad mereka ke Surabaya, dan pada dekade 1970-an dipindahkan kembali ke Belanda. 

"Dulu mungkin 20 tahun lalu, orang-orang yang tahu makam ini hanya orang-orang Desa Tulungrejo, tetapi memang semakin ke sini banyak wisatawan yang datang ke makam ini, semakin banyak orang tahu cerita dari keberadaan bangunan tersebut. Kalau dari kami positif saja, mungkin bisa memperbanyak beragam pilihan tempat yang bisa didatangi wisatawan di Tulungrejo ini," kata Suliono.

Pura Luhur Giri Arjuno
Pura Luhur Giri Arjuno

3. Pura Luhur Giri Arjuna

Pura terbesar di Kota Batu ini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu. Berada di ketinggian 1.600 mdpl dengan luas area sekitar 6 hektare, pura ini menawarkan suasana yang hening dengan pemandangan kebun apel di sekelilingnya.

Akses menuju lokasi bisa dilalui motor, mobil, hingga minibus jenis elf. Di sekitar lokasi juga terdapat warung untuk membeli kopi atau makanan ringan. Pura ini biasanya dibuka pagi hingga siang hari. Jika datang saat pura tutup, wisatawan hanya bisa berfoto di area gerbang depan. Wisatawan umum jika ingin masuk ke dalam pura disarankan bersamaan saat perayaan hari-hari besar umat agama Hindu. 

Wisatawan yang ingin masuk wajib mematuhi aturan dan etika yang berlaku, seperti larangan masuk bagi wanita yang sedang datang bulan, baru mengalami keguguran, atau orang yang sedang dalam masa berkabung dengan kehilangan orang-orang terdekatnya. Bagi wisatawan beragama Hindu yang ingin sembahyang tetapi pura tutup bisa menghubungi penjaga pura supaya dibukakan gerbangnya. 

4. Warung Angling Dharma

Setelah puas berwisata, waktunya mengisi perut, wisatawan bisa berkunjung di Warung Angling Dharma yang belum lama ini viral di media sosial. Berlokasi di Dusun Junggo, warung berkonsep rumah sederhana Jawa ini dibangun di sekitar kebun apel yang sudah tidak produktif.

Pengunjung bisa bersantap sambil menikmati suasana asri. Harga makanannya pun sangat ramah di kantong. Untuk Soto Tahes (Soto ayam kuah rempah) Rp5 ribu setiap porsi, Sego Endog & Sego Tempe (Nasi telur/tempe sambal geprek) yakni Rp5 ribu setiap porsi, Mie Buto (Mie instan goreng jumbo dengan telur) yakni Rp10 ribu setiap porsi, Aneka Gorengan yakni Rp5 ribu (isi 3 biji), dan Aneka Sate mulai Rp2 ribu - Rp3 ribu. 

Untuk Minuman atau Wedhangan dengan kisaran harga minuman rata Rp4 ribu - Rp8 ribu, diantaranya terdapat Kopi Nogo yakni Rp5 ribu, Kopi Taji atau Kopi Susu yakni Rp 6 ribu Tirta Sekar atau Teh yakni Rp4 ribu. 

Warung yang dikelola oleh empat orang pemuda dan dibuka sejak Juni 2025 ini hanya beroperasi pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 10.00 - 17.00 WIB karena pengelolanya memiliki pekerjaan lain di hari biasa.

5. Bakso Taker Wareg

Jika belum kenyang, sebagai hidden gem kuliner lainnya, Bakso Taker Wareg berlokasi di Dusun Kekep, tak jauh dari Taman Rekreasi Selecta bisa menjadi pilihan. Tempat makan ini cocok untuk keluarga maupun pasangan karena juga menawarkan suasana pedesaan yang sejuk, dikelilingi kebun jeruk, perbukitan hijau, dan berdampingan dengan aliran sungai.

Tempat makan ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB dan dilengkapi dengan area parkir kendaraan serta gratis. Pilihan menu yang ditawarkan meliputi Bakso mulai porsi kecil, komplit, jumbo, iga, hingga kuah pedas dengan harga Rp5 ribu sampai Rp15 ribu setiap porsi. Kemudian, Mie Ayam dari harga Rp8 ribu sampai Rp14 ribu setiap porsi. Juga ada Cwie Mie dengan harga Rp10 ribu sampai Rp16 ribu setiap porsi. Untuk menu minuman terdapat teh, jeruk, kopi, wedang uwuh, dan wedang sereh.

"Kalau kuliner di wilayah kami kebanyakan seperti makanan pada umumnya, seperti bakso Malang, soto, nasi goreng dan lainnya, tetapi rata-rata memang menang di tempat dengan pemandangan kelebihannya, jadi pembeli senang makan sambil lihat pemandangan hijau-hijau," kata Suliono.

"Kami desa juga amat sangat mendukung dan mengucapkan terima kasih atas semua usaha para UMKM untuk memajukan Desa Tulungrejo," lanjutnya. 

Sementara itu, Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu terus mengoptimalkan pengembangan dan penguatan eksistensi desa wisata. Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, mengatakan lima titik wisata potensial di Desa Tulungrejo tersebut dinilainya saling melengkapi. 

"Desa Tulungrejo memang menyimpan banyak hidden gem yang memperkuat citra Kota Batu sebagai kota wisata berbasis alam, budaya, dan kuliner," ujar Onny.

Onny menjelaskan, integrasi antar objek wisata tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga lokal tanpa menghilangkan karakter daerah setempat.

"Dengan sinergi antara alam, sejarah, religi, dan kuliner, Tulungrejo layak disebut destinasi terpadu yang memberi manfaat ekonomi bagi warga sekaligus menjaga identitas lokal," tuturnya.

Untuk mendukung keberlanjutan seluruh desa wisata di Kota Batu, Disparta menjalankan program dukungan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) secara berkelanjutan. Materi pelatihan mencakup penyusunan paket wisata, pembentukan struktur organisasi, manajemen pengelolaan, tata kelola operasional, hingga teknik perawatan fasilitas wisata.

Dalam pelaksanaan program tersebut, Disparta melibatkan para praktisi dan ahli di bidang pariwisata guna memastikan peningkatan kualitas tata kelola di tingkat desa.

"Kami terus mencoba mengembangkan dan meningkatkan eksistensi desa-desa wisata yang ada di Kota Batu, seperti pelatihan Sumber Daya Manusia terkait pembuatan paket-paket wisata, pembentukan struktur organisasi, manajemen pengelolaan, operasional, dan perawatan. Kami latih dengan mendatangkan praktisi-praktisi yang ekspert di bidangnya seperti pengelola pariwisata," kata Onny.

Selain peningkatan kapasitas internal pengelola, Disparta Kota Batu juga mengagendakan program promosi secara masif dan konsisten untuk memperluas jangkauan pasar desa wisata.

"Kami terus melakukan promosi-promosi untuk desa wisata," pungkasnya. (*)

Reporter/ Penulis: Tim Redaksi Lentera

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.