SURABAYA (Lentera) -Yayasan Batik Indonesia (YBI) bersama Komite Hari Batik Nasional akan menggelar rangkaian perayaan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 ini tidak hanya berlangsung di ruang pamer saja. Namun, batik juga akan ditunjukkan di atas perahu menyusuri Sungai Kalimas, sekaligus dipertemukan dengan fashion, teknologi, UMKM, hingga peluang pasar bagi perajin batik Jawa Timur.
Ketua Panitia Hari Batik Nasional 2026, Wirasno, mengatakan rangkaian kegiatan utama akan berlangsung di dua lokasi, yakni Atrium dan Corridor Plaza Tunjungan 3 serta kawasan Sungai Kalimas Surabaya.
Menurutnya, pemilihan Tunjungan Plaza sebagai salah satu lokasi pameran karena tingginya mobilitas masyarakat di kawasan tersebut. Atrium Tunjungan Plaza 3 akan menjadi lokasi pameran yang menghadirkan sekitar 40 hingga 42 booth batik, dengan prioritas pelaku batik dari Jawa Timur.
“Kenapa kita memilih Atrium Tunjungan Plaza 3, itu karena hasil surveinya memang di situ adalah titik teramai di mal di Surabaya,” kata Wirasno saat konferensi pers, Rabu (16/9/2026).
Menurut Wirasno, pemilihan pusat perbelanjaan juga diharapkan membuat kegiatan HBN lebih mudah diakses masyarakat dari berbagai kalangan. Selain mengenalkan batik, pameran diarahkan untuk mempertemukan perajin dengan calon konsumen sehingga memiliki dampak terhadap keberlangsungan usaha mereka.
“Tujuan YBI itu menggelar HBN agar bisa dinikmati oleh banyak masyarakat. Kenapa mal, karena mungkin untuk tingkat kenyamanan pengunjung dan sebagainya, maka kami memilih TP 3,” ujarnya.
Ia mengatakan HBN tidak berhenti pada upaya membangun kecintaan masyarakat terhadap batik. Akses pasar bagi perajin juga menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan tahun ini.
“Kita mencoba untuk memberikan akses para perajin. Yang ujung-ujungnya kan untuk kesejahteraan perajin batik Jawa Timur,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, HBN 2026 secara khusus mengangkat Batik Tulungagung sebagai salah satu fokus utama. Sejumlah motif khas daerah tersebut, seperti Batik Lurik Bhumi Ngrowo, Gajah Modo, Bangoan, Majanan, dan Kalangbret, akan menjadi bagian dari pengenalan kekayaan wastra Jawa Timur.
Wirasno mengatakan pengangkatan Tulungagung bukan berarti mengesampingkan batik dari daerah lain. Batik dari berbagai wilayah Jawa Timur tetap mendapat ruang dalam pameran.
“Kita sudah ngangkat tema Tulungagung. Jadi seperti yang dipajang kali ini, ini semua batik Tulungagung. Kita akan eksplor batik Tulungagung, meskipun tidak mengecilkan batik-batik yang lain di Jawa Timur,” jelasnya.
Melalui tema tersebut, batik ditempatkan tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup, industri kreatif, pariwisata, dan identitas budaya daerah.
Pameran HBN 2026 juga akan diisi berbagai agenda edukasi dan kreatif. Di antaranya fashion show, Reels Competition, workshop digital bagi UMKM berbasis teknologi kecerdasan artifisial (AI), pertunjukan musik dan seni, kegiatan kreatif anak, serta talkshow yang membahas masa depan batik.
Sejumlah topik yang diangkat antara lain Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan dan Bertahan dalam Tradisi serta Threads of Identity: Ketika Batik Menjadi Bahasa Generasi.
Batik Berlayar di Kalimas
Jika pameran menjadi ruang untuk melihat dan mengenal batik, pengalaman tersebut akan dibawa ke ruang publik melalui program “Batik Berlayar” pada Jumat (2/10/2026).
Kegiatan ini mengambil rute dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel) dengan menyusuri Sungai Kalimas sepanjang sekitar 1,2 kilometer. Para tamu akan menaiki perahu yang dihiasi ornamen Batik Jawa Timur.
"Sepanjang perjalanan, suasana Kalimas akan dihidupkan dengan pertunjukan seni, musik, perkusi, tari, dan permainan cahaya. Sejumlah kesenian Jawa Timur juga dijadwalkan tampil di titik-titik sepanjang rute," tuturnya.
Pertunjukan tersebut antara lain perkusi SMA Taruna Nala Malang di titik keberangkatan, Tari Remo di Dermaga Taman Prestasi, Musik Kolintang di Dermaga Laksamana, Hadrah di Taman Bank Jatim, serta musik perkusi di kawasan Patung Sura dan Baya dan Skate Park.
Setibanya di Monkasel, para tamu akan disambut pertunjukan Reog Ponorogo. Kawasan tersebut juga akan diisi Festival Kuliner dan bazar UMKM yang menghadirkan makanan khas Jawa Timur serta produk kreatif lokal.
"Konsep ini membuat Batik Berlayar tidak hanya menjadi parade budaya, tetapi juga mempertemukan batik dengan seni pertunjukan, UMKM, kuliner, pariwisata, komunitas, dan ruang publik," ungkapnya.
Ia menuturkan, pemerintah pusat juga dijadwalkan terlibat dalam rangkaian HBN 2026. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dijadwalkan membuka agenda di kawasan Kalimas, sedangkan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza akan membuka kegiatan di Tunjungan Plaza.
Agus Gumiwang juga dijadwalkan memberikan kuliah umum di Tunjungan Plaza yang menyasar mahasiswa dan kalangan akademisi.
Penyelenggaraan HBN di Surabaya sekaligus menjadi langkah awal menuju konsep perayaan Hari Batik Nasional yang dapat digelar secara bergilir di berbagai provinsi.
"Dengan pola tersebut, kekayaan batik daerah diharapkan tidak hanya dikenal di wilayah asalnya, tetapi memperoleh ruang promosi dan akses pasar yang lebih luas," tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)

Post a comment