11 September 2026

Get In Touch

Kematian Serda Ahmad Muzammil, Keluarga Pertanyakan Perubahan Informasi dari Kecelakaan Menjadi Dugaan Penganiayaan

Ayah Serda Ahmad Muzammil Farisa, Toni Eko Prasetyo, menunjukkan foto kondisi putranya sebelum dimakamkan di Magetan, Jumat (11/9/2026).
Ayah Serda Ahmad Muzammil Farisa, Toni Eko Prasetyo, menunjukkan foto kondisi putranya sebelum dimakamkan di Magetan, Jumat (11/9/2026).

MAGETAN (Lentera) -Kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa (22), anggota TNI Angkatan Udara (AU) asal Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menyisakan tanda tanya bagi keluarganya. Informasi mengenai penyebab kematian prajurit yang bertugas di Dinas Psikologi TNI AU itu disebut berubah, dari semula diinformasikan mengalami kecelakaan menjadi dugaan penganiayaan.

Ahmad meninggal setelah menjalani perawatan medis. Ia kemudian dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Jenazah tiba pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB dan langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) yang berada tidak jauh dari rumah duka.

Ayah Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengatakan keluarga pertama kali menerima informasi bahwa anaknya mengalami kecelakaan ketika menjalani pembinaan senior.

Namun, informasi tersebut kemudian berubah.

Menurut Toni, pada Kamis (10/9/2026) pagi, keluarga mendapat informasi dari pihak Dinas Psikologi TNI AU, tempat Ahmad bertugas, bahwa kematian anaknya berkaitan dengan dugaan penganiayaan.

"Awalnya kami ditelepon bahwa ada informasi kecelakaan. Namun akhirnya dari Dinas Psikologi, tempat anak kami bekerja, diputuskan informasinya adalah penganiayaan," ujar Toni, Jumat (11/9/2026)

Perubahan informasi itu membuat keluarga meminta agar jenazah Ahmad diautopsi. Menurut Toni, autopsi diperlukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian putranya.

Toni mengatakan Ahmad sempat mendapat perawatan medis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Setelah proses autopsi selesai, jenazah dipulangkan ke Magetan.

Namun, keluarga mengaku tidak diperbolehkan melihat kondisi jenazah secara utuh. Mereka hanya diperbolehkan membuka bagian wajah untuk memastikan identitas sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman.

"Kami merasa kehilangan sekali. Anak kami baru dua tahun dinas di bagian psikologi TNI AU," kata Toni.

Selain informasi mengenai dugaan penganiayaan, keluarga juga menerima foto kondisi Ahmad. Toni mengatakan, dalam foto tersebut terlihat luka di bagian dagu serta lebam pada bagian dada.

Meski demikian, keluarga tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri mengenai penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab atas kematian Ahmad.

Toni menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak berwenang. Ia meminta seluruh rangkaian peristiwa sebelum Ahmad meninggal diusut secara menyeluruh dan pihak-pihak yang mengetahui maupun diduga terlibat diperiksa sesuai ketentuan hukum.

"Kami berharap kasus ini mendapat perhatian dari pimpinan TNI AU hingga Presiden Prabowo Subianto, diproses secara adil, dan pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya," ujarnya.

Menurut dia, Ahmad masih berusia 22 tahun dan baru sekitar dua tahun menjalani tugas sebagai anggota TNI AU.

"Kami memohon kepada Panglima TNI, Kepala Staf TNI AU, dan Bapak Presiden Prabowo agar kasus ini menjadi atensi khusus. Ini menyangkut nyawa manusia, terlebih anak kami masih berusia 22 tahun," kata Toni.

Reporter: Wiwiet Eko Prasetyo|Editor: Arifin BH

 

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.