10 September 2026

Get In Touch

Kurang Akurat, PBB Koreksi Peta Dunia

Kurang Akurat, PBB Koreksi Peta Dunia

SURABAYA ( LENTERA ) - Selama berabad-abad, manusia mengenal dunia melalui peta yang ternyata tidak menggambarkan ukuran wilayah secara proporsional. Gambaran Greenland yang terlihat hampir sebesar Afrika, misalnya, merupakan salah satu konsekuensi dari cara Bumi yang berbentuk bulat diproyeksikan ke permukaan datar.

Persoalan tersebut kini kembali menjadi perhatian setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi yang mendorong penggunaan peta dunia dengan representasi luas wilayah yang lebih akurat. Resolusi yang dipimpin negara-negara Afrika itu memperoleh dukungan 164 negara, sementara enam negara abstain dan Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak. 

Namun ada satu hal penting, PBB tidak secara hukum melarang peta Mercator atau secara resmi mengganti seluruh peta dunia. Resolusi tersebut bersifat tidak mengikat dan mendorong pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi internasional serta perusahaan teknologi mempertimbangkan proyeksi seperti Equal Earth untuk menggambarkan perbandingan luas wilayah secara lebih tepat.

Peta Mercator Bisa Menyesatkan

Peta Mercator diperkenalkan kartografer Gerardus Mercator pada 1569. Proyeksi tersebut dirancang terutama untuk membantu navigasi laut. Keunggulannya adalah arah kompas dapat direpresentasikan dengan sangat baik sehingga pelaut dapat menggunakan garis tertentu untuk menentukan arah perjalanan.

Masalah muncul ketika proyeksi tersebut digunakan untuk menggambarkan ukuran seluruh benua. Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar distorsi ukurannya.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menjelaskan bahwa tidak ada peta datar yang mampu mempertahankan sekaligus bentuk, luas, jarak dan arah seluruh permukaan Bumi secara sempurna. Setiap proyeksi harus memilih karakteristik tertentu yang ingin dipertahankan. Pada Mercator, keunggulan arah datang dengan konsekuensi distorsi luas, terutama di wilayah lintang tinggi.

Efeknya mudah terlihat pada Greenland. Di peta Mercator, pulau terbesar di dunia itu tampak sebanding dengan Afrika. Padahal luas Afrika sekitar 14 kali Greenland. 

Karena itu, persoalannya bukan bahwa peta Mercator “salah” secara keseluruhan. Peta tersebut sangat berguna untuk kebutuhan tertentu, khususnya navigasi. Yang menjadi persoalan adalah ketika satu jenis proyeksi digunakan untuk membentuk persepsi masyarakat tentang perbandingan ukuran wilayah di seluruh dunia.

Equal Earth jadi Alternatif

Salah satu alternatif yang kini didorong adalah Equal Earth, proyeksi yang dikembangkan pada 2018 oleh Bojan Šavrič, Tom Patterson dan Bernhard Jenny.

Berbeda dari Mercator, Equal Earth merupakan proyeksi equal-area. Artinya, perbandingan luas wilayah pada peta dipertahankan agar sesuai dengan perbandingan luas sebenarnya di permukaan Bumi. Penelitian mengenai proyeksi ini menyebut Equal Earth dirancang untuk mempertahankan ukuran relatif wilayah sekaligus menghasilkan bentuk benua yang tetap mudah dikenali. 

Konsekuensinya langsung terlihat. Afrika tampak jauh lebih besar dibandingkan pada peta Mercator, sedangkan Eropa dan Greenland tampak mengecil. Australia dan wilayah tropis juga memperoleh ukuran visual yang lebih proporsional. 

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan negaranya akan meninggalkan representasi Mercator dan menggunakan gambaran yang lebih mencerminkan luas permukaan sebenarnya.

"Amerika Serikat, Rusia, dan China mendapatkan penonjolan visual tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," katanya.

Bukan Sekadar Urusan Kartografi

Bagi negara-negara Afrika, perubahan tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar mengganti desain peta.
Kampanye “Correct the Map” yang didukung Uni Afrika dan dipimpin Togo menilai distorsi selama ratusan tahun ikut membentuk cara masyarakat dunia melihat posisi Afrika. Dalam pandangan para pendukungnya, ketika sebuah wilayah secara konsisten terlihat lebih kecil daripada ukuran sebenarnya, persepsi mengenai skala, kepentingan dan potensinya juga dapat ikut terpengaruh.

Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menyebut hasil pemungutan suara tersebut sebagai momentum bersejarah. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keadilan, martabat dan kesetaraan dalam cara dunia direpresentasikan. 

Resolusi PBB juga menyebut distorsi kartografis dapat berkontribusi pada pengecilan persepsi mengenai Afrika, Amerika Latin dan Asia Selatan, termasuk dalam melihat realitas sosial-ekonomi, kebutuhan infrastruktur serta potensi pembangunan wilayah-wilayah tersebut.

Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menentang resolusi. Perwakilan AS di PBB menyebut inisiatif tersebut sebagai bagian dari proyek ideologis yang radikal dan menilai organisasi dunia seharusnya berfokus pada persoalan yang lebih mendesak.

Bagaimana dengan Google Maps?

Perubahan tersebut juga menarik karena peta kini tidak hanya ditemukan di atlas dan ruang kelas. Sebagian besar orang justru mengenal dunia melalui layar ponsel.

Google Maps, misalnya, masih menggunakan Web Mercator untuk sistem koordinat petanya. Dokumentasi resmi Google menjelaskan bahwa koordinat dunia pada Google Maps menggunakan proyeksi Mercator dan memotong tampilan sekitar lintang 85 derajat agar sistem petanya dapat bekerja dalam bentuk persegi. 

Inilah alasan resolusi PBB secara khusus mendorong perusahaan teknologi dan penyedia layanan pemetaan untuk berdiskusi dengan negara anggota serta organisasi regional mengenai penggunaan proyeksi yang lebih akurat untuk kebutuhan tertentu.
Namun, perubahan itu tidak berarti Mercator akan tiba-tiba hilang dari semua aplikasi. Proyeksi tersebut masih memiliki fungsi teknis penting, terutama untuk navigasi dan pemetaan digital.(far,ist/dya)

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.