05 September 2026

Get In Touch

Tren Fashion Berulang, Dosen Ubaya: Dipicu Nostalgia dan Rasa Penasaran Generasi Muda

Ketua Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Hany Mustikasari, M.Ds.
Ketua Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Hany Mustikasari, M.Ds.

SURABAYA (Lentera) – Tren fashion ternyata tidak selalu berjalan maju. Sejumlah gaya yang sempat populer puluhan tahun lalu kini kembali digemari, mulai dari motif polkadot, mode Y2K, sepatu balet, atasan dengan renda klasik, rok balon, hingga gaya berpakaian berlapis.

Ketua Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Hany Mustikasari, M.Ds., menjelaskan fenomena tersebut melalui teori siklus fashion (fashion cycle theory). Dalam teori itu, tren fashion bergerak dalam sebuah siklus, mulai dari kemunculan, pengenalan kepada masyarakat, mencapai popularitas, mengalami penurunan, hingga akhirnya dilupakan.

“Di dalam dunia fashion, kami mengenal teori siklus fashion yang menjelaskan bagaimana setiap tren memiliki fase tersendiri. Tahapannya dimulai dari kemunculan, dikenalkan kepada masyarakat, populer di puncak, mulai surut, hingga tren tersebut dilupakan oleh masyarakat,” jelas Hany, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, durasi setiap tren untuk melewati seluruh tahapan tersebut berbeda-beda. Tidak semua tren yang pernah populer juga akan kembali mengalami siklus dan menjadi tren di masa berikutnya.

Namun, dalam siklus normal, sebuah tren fashion umumnya dapat kembali populer dalam rentang 15 hingga 30 tahun. “Kembalinya sebuah tren biasanya dipicu oleh rasa rindu atau nostalgia dari orang-orang yang sempat merasakan titik populernya sebuah tren fashion tertentu di masa lalu. Di waktu yang bersamaan, generasi yang lebih muda memiliki rasa penasaran karena tidak sempat mengalami tren tersebut,” ungkapnya.

Kondisi tersebut kemudian menjadi peluang bagi industri fashion untuk kembali menghadirkan produk dengan gaya serupa, tetapi tetap disesuaikan dengan selera dan kebutuhan masyarakat saat ini.

Hany menilai, kembalinya tren fashion lama juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat nilai keberlanjutan yang kini semakin mendapat perhatian global. Salah satunya melalui konsep refashioned, yakni memodifikasi produk fashion yang sudah ada agar kembali relevan dan dapat digunakan.

“Terdapat istilah yang disebut refashioned yang terjadi ketika sebuah produk fashion dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat diterima oleh masyarakat. Salah satu praktiknya adalah penggunaan kembali produk fashion dari masa lalu dengan beberapa penyesuaian atau penambahan aksesoris. Dengan demikian, kita dapat memperpanjang masa pakainya sekaligus mengurangi limbah fashion,” terangnya.

Menurut Hany, terdapat sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan agar tren lama dapat dihidupkan kembali. Pertama, tren tersebut harus tetap memenuhi standar estetika masyarakat masa kini. Kedua, diperlukan penyesuaian pada model, warna, maupun bahan agar sesuai dengan preferensi konsumen.

Selain itu, bahan dan teknik produksi juga dapat disubstitusi menggunakan teknologi yang berkembang saat ini. “Terakhir, karena beberapa tren masa lalu aslinya memiliki prosedur penggunaan dan perawatan yang cukup kompleks, harus dilakukan modifikasi agar dapat memenuhi gaya hidup manusia yang cenderung lebih praktis,” ujar Hany.

Fenomena siklus fashion tersebut, lanjut Hany, menunjukkan pentingnya pendidikan fashion untuk mendukung perkembangan sekaligus keberlanjutan industri. Para pelaku fashion tidak hanya dituntut mampu menciptakan desain menarik, tetapi juga harus memiliki kemampuan membaca tren masa depan, mengembangkan bahan dan metode produksi ramah lingkungan, serta memahami kebutuhan dan selera pasar.

“Berbagai ilmu dan kemampuan tersebut dihadirkan oleh Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Ubaya bagi para mahasiswa. Tidak hanya terampil dalam mendesain, lulusan kami juga harus memiliki seperangkat keahlian lainnya sekaligus kepedulian yang tinggi terhadap keberlanjutan dunia melalui karya fashion,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.