14 August 2026

Get In Touch

DPRD Trenggalek Minta Pengawasan MBG Diperketat Usai 549 Orang Terdampak

Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menjenguk SA, siswa SDI Luqman Al Hakim yang menjalani rawat inap di RSUD dr. Soedomo setelah mengalami muntah dan diare dalam dugaan keracunan MBG.
Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menjenguk SA, siswa SDI Luqman Al Hakim yang menjalani rawat inap di RSUD dr. Soedomo setelah mengalami muntah dan diare dalam dugaan keracunan MBG.

TRENGGALEK (Lentera) – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak pada 549 orang di Trenggalek menjadi perhatian serius DPRD setempat. Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi meminta pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Doding menyampaikan hal itu saat menjenguk salah satu siswa SDI Luqman Al Hakim yang menjalani perawatan di RSUD dr. Soedomo Trenggalek, Kamis (13/8/2026).

Diketahui, dugaan keracunan MBG ini berdampak pada 493 orang di SMPN 1 Trenggalek, terdiri dari 474 siswa dan 19 guru. Sementara di SDI Luqman Al Hakim terdapat 30 orang terdampak, terdiri dari 20 siswa dan 10 tenaga pendidik. Selain itu, 26 orang dari Posyandu Kelurahan Tamanan turut dilaporkan mengalami dampak.

Seluruh makanan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Trenggalek Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah.

Doding menilai pemenuhan sertifikasi dan standar keamanan pangan tetap harus dibarengi dengan pengawasan serta pelaksanaan yang disiplin di lapangan.

"Yang paling utama adalah keselamatan anak-anak kita. Karena itu pengawasannya harus diperketat dan kami berharap kejadian ini menjadi yang terakhir," kata Doding.

Menurutnya, pengawasan saat ini dilakukan bersama oleh berbagai pihak, mulai dari Satgas MBG hingga pemerintah daerah. DPRD juga terus memantau perkembangan penanganan kasus tersebut.

Doding menambahkan, sejumlah persyaratan administrasi dan sertifikasi pada dapur MBG memang penting dipenuhi. Namun, keberadaan sertifikat belum otomatis menjamin tidak terjadinya persoalan apabila masih terdapat kelalaian dalam proses pelaksanaan.

Karena itu, DPRD masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya dugaan keracunan tersebut. Hasil pemeriksaan dinilai penting sebagai dasar evaluasi agar permasalahan yang terjadi dapat diketahui secara jelas.

"Untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi masalah, kita tunggu hasil laboratoriumnya. Dari sana nanti bisa diketahui faktor penyebabnya dan menjadi bahan evaluasi," jelas Doding.

Dalam kesempatan tersebut, Doding juga menjenguk SA, siswa kelas 5 SDI Luqman Al Hakim berusia 11 tahun asal Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, yang harus menjalani rawat inap di RSUD dr. Soedomo setelah mengalami muntah dan diare berulang.

SA dibawa ke IGD RSUD dr. Soedomo pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB dan kemudian dipindahkan ke ruang Dahlia sekitar pukul 23.00 WIB.

Doding menyebut kondisi SA saat dijenguk sudah menunjukkan perkembangan positif. Meskipun masih mengalami diare, keluhan pusing dan muntah disebut sudah tidak dirasakan.

Doding berharap kondisi SA terus membaik sehingga dapat segera diperbolehkan pulang oleh dokter. Sementara terkait biaya perawatan, ia menyebut pengobatan pasien telah ditanggung melalui BPJS Kesehatan yang dimiliki keluarga.

"Untuk biaya sudah ter-cover BPJS, karena keluarganya memang sudah memiliki BPJS. Jadi tidak ada masalah untuk biaya perawatannya," katanya.

Terkait rencana pemanggilan pengelola SPPG, Doding mengatakan pihaknya masih menunggu perkembangan penanganan dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan hasil pemeriksaan laboratorium.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.