14 August 2026

Get In Touch

Sebanyak 493 Orang Terdampak Dugaan Keracunan MBG dari SPPG Tamanan

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, menyampaikan perkembangan terbaru dugaan gangguan pencernaan usai menyantap MBG dari SPPG Tamanan.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, menyampaikan perkembangan terbaru dugaan gangguan pencernaan usai menyantap MBG dari SPPG Tamanan.

TRENGGALEK (Lentera) – Jumlah orang yang diduga mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan, hingga Kamis (13/8/2026), tercatat ada 493 orang di SMPN 1 Trenggalek, terdiri dari siswa dan guru.

"Untuk SMPN 1 Trenggalek saat ini update terakhir ada 493 orang yang terdiri atas 474 siswa dan 19 guru yang ada keluhan kemarin," ujar Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, Kamis (13/8/2026).

Sunarto menjelaskan dari 474 siswa tersebut termasuk yang masih dalam kondisi sakit atau ada keluhan ada 78. Kemudian juga yang tidak masuk sekolah ada 41 orang.

Dia menjelaskan, selain di SMPN 1 Trenggalek, kejadian serupa juga tercatat di SDI Luqman Al Hakim Trenggalek. Sebanyak 30 orang mengalami keluhan, terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik. Salah satu siswa dari SDI Luqman Al Hakim dilaporkan menjalani rawat inap di RSUD dr. Soedomo Trenggalek.

Sementara itu, dari penerima manfaat Posyandu di Kelurahan Tamanan yang juga mendapat makanan dari SPPG yang sama, terdapat 26 orang yang mengalami keluhan.

"Untuk Posyandu itu ada 26 kejadian. Balitanya ada 9, ibu hamil 3, ibu menyusui 4, kader 2, kemudian anggota yang lain ada 8," jelasnya.

Adapun keluhan yang dirasakan penerima manfaat umumnya berupa gangguan pencernaan, seperti nyeri perut, mual, muntah dan diare.

"Gejalanya biasanya tidak berat, hanya kadang ada yang sedikit nyeri perut, kemudian mual, ada sedikit yang diare," katanya.

Untuk memastikan tidak ada kasus yang terlewat, Satgas MBG Trenggalek hari ini melakukan pengecekan ke sekolah-sekolah lain yang menerima MBG dari SPPG Tamanan.

"Ada 3 TK, kemudian 6 SD dan 1 SMP. Hari ini akan dikunjungi untuk melihat kembali apakah memang di lokasi-lokasi tersebut ada keluhan atau tidak, supaya nanti tidak ada yang kelewatan," jelas Sunarto.

Terkait status kejadian, Sunarto menegaskan pemerintah daerah belum menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Saat ini kasus masih dalam proses penyelidikan dan dikategorikan sebagai peningkatan kasus gangguan pencernaan.

"Belum, belum. Masih kita di peningkatan kasus saja. Jadi untuk kasusnya ini kita masuk ke gangguan pencernaan," tegasnya.

Satgas masih menunggu hasil pemeriksaan sampel untuk menentukan langkah selanjutnya. Sampel makanan maupun sampel dari penerima manfaat juga telah disiapkan untuk pemeriksaan laboratorium.

"Pak Bupati pesannya yang pertama adalah anak-anak yang terdampak mendapat penanganan. Prioritas di situ dulu. Kemudian kita lakukan pengkajian, termasuk mengirimkan sampel kepada BBLK Surabaya. Kalau sudah ada hasilnya akan kita tentukan langkah lebih lanjut," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.