14 August 2026

Get In Touch

Nasihat Gus Ali pada Internal NU, Jangan Menunggu Musuh untuk Rukun

 Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), dalam Dialog Publik di Aula JKSN, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), dalam Dialog Publik di Aula JKSN, Surabaya, Rabu (12/8/2026).

SURABAYA (Lentera) — Persatuan harus tumbuh dari kesadaran, mahabbah, dan kemampuan mengelola perbedaan. Internal Nahdlatul Ulama (NU) tidak semestinya menunggu munculnya musuh untuk bisa rukun.

Nasihat itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), dalam Dialog Publik “Transformasi Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” digelar Wartawan Pokja Grahadi, JUST, dan PMII Jawa Timur di Aula JKSN, Surabaya, Rabu (12/8/2026).

“NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh (NU itu bisa kuat, rukun, kalau dicarikan musuh),” ujar Gus Ali, disambut tawa peserta.

Lebih lanjut, Gus Ali mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerukunan tidak seharusnya dibangun karena adanya lawan. Jika musuh tidak ada, persaudaraan di internal organisasi tetap harus dijaga. “Dadi nek mungsuhe ora ono, rukun nek njero,(Jadi kalua tidak ada musuh, di dalamnya bisa rukun),” lanjutnya.

Gus Ali mengawali paparannya dengan mengutip ungkapan ulama hadis Sufyan bin Uyainah, “Inda dzikris-shalihin tanzilur-rahmah”, yang bermakna ketika orang-orang saleh disebut, rahmat turun. Pesan tersebut, kata dia, kemudian diperkuat Imam Al-Ghazali.

Ia menjelaskan dan menekankan bahwa tradisi ulama terdahulu dibangun dengan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Karena itu, mahabbah atau kecintaan kepada orang-orang saleh harus menjadi salah satu modal sosial NU. “Ulama-ulama dulu itu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” tegasnya.

Menurutnya, ungkapan tersebut kemudian diperkuat Imam Al-Ghazali. Namun, ada pesan penting yang menurut Gus Ali kerap luput yakni tradisi ulama terdahulu dibangun dengan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Dari konsep mahabbah atau kecintaan kepada orang saleh itulah, Gus Ali menarik persoalan ke tubuh NU. Ia menilai mahabbah merupakan salah satu modal sosial terbesar organisasi yang didirikan para ulama tersebut. Tetapi, justru di titik inilah kritiknya menjadi relevan. 

Gus Ali menyebut NU kerap baru benar-benar kompak ketika memiliki musuh bersama. Dengan bahasa Jawa yang diselingi humor, ia mengatakan, “NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh.” Kalimat itu mengundang tawa peserta. Pasalnya, pernyataan tersebut merupakan sindiran terhadap problem klasik organisasi: mengapa persatuan harus selalu menunggu datangnya ancaman? “Dadi nek mungsuhe ora ono, rukun nek njero,” lanjutnya.

Gus Ali kemudian mencontohkan situasi ketika NU menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurutnya, adanya ancaman bersama kala itu mampu mendorong warga NU bergerak secara cepat dan kompak.

“Dulu zaman PKI, nggawe masjid iku seminggu mari NU iku (membangun masjid itu seminggu bisa selesai). Opo’o? Orah mungsuhe. Saiki? Ya Allah, nggawe masjid ditar-tarino, (kenapa? karena tidak ada musuhnya. Sekarang? Ya Allah membangun masjid dilama-lamakan)” katanya.

Gus Ali juga menyebut bahwa tantangan NU memasuki abad kedua justru semakin kompleks. Tantangannya dapat berupa perbedaan kepentingan, perebutan pengaruh, fragmentasi internal, hingga ketidakmampuan mengelola perbedaan.

Karena itu, Gus Ali mendorong lahirnya kader NU yang mampu menghadapi perbedaan tanpa terjebak dalam konflik. Ia mencontohkan H.O.S. Cokroaminoto sebagai figur yang mampu berdiskusi dan berdebat, tetapi tetap istikamah serta menghargai perbedaan pendapat.

Ia berharap kepemimpinan NU ke depan memiliki karakter serupa, yakni mampu tetap tenang menghadapi konflik, aktif dalam menyelesaikan persoalan, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. “Mampu membingkai perbedaan menjadi kuat,” tegasnya.

Menurut Gus Ali, besarnya jumlah warga, luasnya jaringan pesantren, dan kuatnya struktur organisasi belum cukup menjadi ukuran keberhasilan NU pada abad kedua. Yang lebih penting adalah kemampuan menjaga soliditas ketika organisasi tidak sedang menghadapi musuh bersama.

Ia pun mengingatkan bahwa jika kerukunan hanya muncul ketika ada lawan, persatuan tersebut akan mudah rapuh. Sebaliknya, jika mahabbah menjadi fondasi, perbedaan seharusnya tidak berkembang menjadi pertarungan internal.

Pesan Gus Ali tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi NU dalam memasuki abad kedua: menjaga persaudaraan bukan karena adanya musuh, melainkan karena kesadaran bahwa perbedaan merupakan bagian dari kekuatan organisasi. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.