11 August 2026

Get In Touch

Data Center AI Mau Dipindah ke Luar Angkasa, Solusi atau Bencana Baru?

Data Center AI Mau Dipindah ke Luar Angkasa, Solusi atau Bencana Baru?

SURABAYA ( LENTERA ) - Ketika kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) terus melonjak, perusahaan teknologi mulai membayangkan pusat data yang tidak lagi berdiri di atas tanah, melainkan mengorbit Bumi.

Gagasannya terdengar seperti fiksi ilmiah yaitu server dan chip AI ditempatkan di satelit, ditenagai Matahari, lalu bekerja mengolah data dari luar atmosfer.

Namun, di balik janji mengatasi kebutuhan energi AI, muncul pertanyaan besar, apakah memindahkan data center ke luar angkasa benar-benar lebih ramah lingkungan, atau justru memindahkan persoalan dari Bumi ke orbit.

Kekhawatiran itu menguat setelah sejumlah ilmuwan, pakar antariksa dan kelompok lingkungan meminta regulator Amerika Serikat melakukan kajian dampak lingkungan secara menyeluruh sebelum konstelasi data center berukuran sangat besar dibangun.

“Kita tidak boleh mengulangi kesalahan dengan meluncurkan teknologi baru tanpa terlebih dahulu memahami dampaknya terhadap lingkungan,” demikian isi seruan para ilmuwan yang dikutip NBC News.

Perdebatan ini muncul ketika industri AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang semakin besar. Pusat data di Bumi membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sekaligus air untuk sistem pendinginan pada banyak fasilitas.

Laporan U.S. Government Accountability Office (GAO) pada April 2026 menyebut pusat data berbasis ruang angkasa berpotensi mengurangi kebutuhan lahan, listrik dan air yang diperlukan pusat data di Bumi. Namun, lembaga tersebut juga menyoroti hambatan teknik dan ekonomi yang besar. Salah satunya justru masalah yang terdengar paradoks: ruang angkasa tidak otomatis menjadi tempat yang mudah untuk mendinginkan komputer.

Mengapa Dibawa ke Orbit?

Salah satu alasan utama adalah energi Matahari.Di luar atmosfer Bumi, satelit dapat memperoleh paparan sinar Matahari dalam kondisi yang lebih konsisten dibandingkan panel surya di permukaan Bumi. Secara teori, hal ini memungkinkan sistem komputasi memperoleh sumber energi surya yang melimpah tanpa harus bergantung langsung pada jaringan listrik di darat.

Konsep tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan mengirim data mentah dari satelit ke Bumi untuk diproses. Data bisa dianalisis langsung di orbit dan hanya hasil yang diperlukan yang dikirim kembali.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 mengenai Space Data Centers menyebut infrastruktur semacam ini berpotensi digunakan untuk mengolah data satelit secara langsung, terutama ketika volume data observasi Bumi terus meningkat dan kapasitas komunikasi ke stasiun bumi menjadi salah satu hambatan.

Namun, ada perbedaan antara memproses data satelit di orbit dan membangun pusat data raksasa untuk menjalankan model AI generatif.Yang kedua jauh lebih menantang.

SpaceX dan Ambisinya

Salah satu perusahaan yang paling agresif mengembangkan gagasan ini adalah SpaceX.
Rencana tersebut berkaitan erat dengan ekspansi Starlink dan ambisi membangun infrastruktur komputasi berbasis ruang angkasa.

Laporan terbaru menunjukkan Elon Musk menargetkan data center di luar angkasa mulai diluncurkan pada 2027. Ambisi tersebut menjadi bagian dari visi SpaceX untuk mengembangkan ekosistem yang menggabungkan peluncuran roket, jaringan satelit dan komputasi AI.

Namun, skalanya yang membuat ilmuwan khawatir.

Salah satu proposal yang pernah diajukan SpaceX membayangkan konstelasi hingga sekitar 1 juta satelit data center.
Angka tersebut jauh melampaui jumlah satelit aktif yang ada saat ini.

European Southern Observatory (ESO) pada Juli 2026 memperingatkan bahwa proposal berbagai perusahaan untuk meluncurkan lebih dari 1,7 juta satelit secara keseluruhan berpotensi memberikan dampak sangat besar terhadap pengamatan astronomi. ESO mencatat jumlah satelit yang mengorbit Bumi telah menembus lebih dari 14.000, dengan Starlink menjadi kontributor terbesar.

Artinya, jika konsep data center orbital berkembang menjadi konstelasi raksasa, persoalannya bukan hanya soal komputer.
Langit Bumi juga akan berubah.

Panas Tidak Hilang Begitu Saja

Ada anggapan bahwa karena luar angkasa sangat dingin, komputer akan lebih mudah didinginkan.

Faktanya tidak sesederhana itu.
Di Bumi, pusat data dapat memanfaatkan udara, air dan berbagai sistem pendinginan untuk membuang panas dari server.
Di ruang hampa, tidak ada udara yang dapat membawa panas pergi melalui konveksi.
Panas harus dilepaskan terutama melalui radiasi.

Itu berarti data center orbital membutuhkan radiator besar untuk memancarkan panas ke ruang angkasa.
GAO menyebut kemampuan ruang angkasa untuk mendinginkan perangkat komputasi sebagai salah satu tantangan teknologi utama.
Para peneliti dari Pennsylvania State University juga menyoroti persoalan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa membangun data center di orbit memang menarik secara teori, tetapi tantangan teknik seperti manajemen panas harus diselesaikan sebelum teknologi tersebut dapat bersaing dengan pusat data di Bumi.
Dengan demikian, ruang angkasa bukan kulkas raksasa.

Lingkungannya dingin, tetapi membuang panas dari komputer justru menjadi persoalan teknik yang serius.

Radiasi dan Sulit Perbaiki Kerusakan

Komputer di Bumi bekerja dalam lingkungan yang relatif terlindungi.

Komputer di orbit harus menghadapi radiasi kosmik, partikel berenergi tinggi dan kondisi ekstrem.
Komponen elektronik juga tidak mudah diganti ketika rusak.

Jika server di pusat data Bumi mengalami masalah, teknisi dapat datang, mengganti komponen dan menghidupkan kembali sistem.
Di orbit, proses tersebut membutuhkan misi khusus, kendaraan peluncur atau sistem robotik yang sangat kompleks.

Kajian Applied Sciences pada 2026 mengenai keandalan data center berbasis ruang angkasa menempatkan peluncuran, operasi orbit, pemeliharaan dan fase akhir masa hidup satelit sebagai bagian dari risiko yang harus diperhitungkan.

Masalahnya menjadi semakin rumit karena perkembangan chip AI sangat cepat.
GPU atau akselerator AI yang dianggap mutakhir hari ini bisa menjadi kurang kompetitif dalam beberapa tahun.

Jika infrastruktur tersebut berada di orbit dan sulit diganti, umur teknologi menjadi persoalan ekonomi sekaligus teknis.

Sampah Antariksa

Semakin banyak satelit berarti semakin banyak benda yang harus dikelola di orbit.
Risiko terbesar adalah tabrakan.
Satu tabrakan dapat menghasilkan ribuan pecahan yang kemudian bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan berpotensi menabrak satelit lain.

Efek berantai semacam itu dikenal sebagai Kessler Syndrome, sebuah skenario ketika kepadatan objek di orbit cukup tinggi sehingga tabrakan menghasilkan lebih banyak puing dan meningkatkan kemungkinan tabrakan berikutnya.

Bagi dunia yang semakin bergantung pada satelit, dampaknya bukan perkara kecil.
Satelit digunakan untuk komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, observasi Bumi dan berbagai layanan penting lainnya.
Karena itu, membangun konstelasi data center tidak bisa hanya menghitung berapa banyak komputer yang dapat ditempatkan di orbit. Harus dihitung pula berapa banyak objek tambahan yang dapat ditanggung lingkungan antariksa.

Data Harus Tetap Bisa Pulang

Pusat data tidak hidup hanya dari listrik.
Ia membutuhkan jaringan komunikasi.
Inilah salah satu tantangan yang sering luput dari gambaran futuristis tentang data center di orbit.

Sebuah studi 2026 tentang arsitektur Space Data Center menyebut keterbatasan komunikasi sebagai salah satu hambatan fundamental. Kapasitas pertukaran data internal pusat data di Bumi dapat mencapai skala yang sangat besar, sementara hubungan antara orbit dan Bumi jauh lebih terbatas.
Artinya, jika model AI berukuran sangat besar ditempatkan di orbit, data yang masuk dan keluar tetap harus melewati jaringan komunikasi.

Untuk beberapa aplikasi, misalnya pemrosesan citra satelit secara langsung, model ini masuk akal.
Tetapi untuk menggantikan pusat data AI raksasa di Bumi secara keseluruhan, tantangannya jauh lebih besar.

ABI Research bahkan memperkirakan jumlah fasilitas data center di ruang angkasa dapat mencapai 18.600 unit pada 2035, dengan kapasitas komputasi orbital sekitar 1,5 gigawatt jika perkembangan teknologi dan investasi berlangsung sesuai proyeksi.

Namun, angka tersebut merupakan proyeksi, bukan kondisi yang sudah terjadi.Karena itu, teknologi ini masih harus melewati berbagai ujian. Mulai biaya peluncuran, ketahanan perangkat, sistem pendinginan, komunikasi, keamanan, pemeliharaan, pengelolaan sampah antariksa hingga dampak lingkungan.(far,ist/dya)
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.