KEBAKARAN hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia ketika musim kemarau memasuki periode rawan. Api membakar kawasan konservasi, lahan gambut dan semak belukar dari Jawa hingga Papua. Di Jawa Timur, kebakaran di kawasan Gunung Bromo meluas hingga sekitar 520 hektare. Di Kalimantan Barat, karhutla membuat orangutan keluar dari habitatnya dan masuk ke perkebunan warga untuk mencari makan. Kalimantan Tengah menghadapi lonjakan ratusan titik panas, sedangkan kebakaran lahan gambut di Muaro Jambi telah berlangsung selama tiga hari.Kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Ogan Komering Ilir, hingga Merauke. Kebakaran hutan dan lahan pada Agustus 2026 bukan kejadian yang berdiri sendiri. Data pemerintah menunjukkan karhutla berulang dalam pola yang mengikuti musim kemarau panjang dan fenomena iklim ekstrem. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan luas karhutla nasional mencapai 2,61 juta hektare pada 2015. Empat tahun kemudian, kebakaran kembali melonjak menjadi 1,65 juta hektare pada 2019. Sempat menurun di luasan ratusan ribu hektar pada 2021-2022, kebakaran kembali meluas di 2023, KLHK mencatat sekitar 1,16 juta hektare hangus. Rangkaian kejadian tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai mitigasi dan efektivitas pencegahan. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/10082026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)

Post a comment