BOJONEGORO (Lentera) - Bojonegoro memiliki potensi geologi yang khas dan belum banyak ditemukan di daerah lain di Indonesia yaitu Geosite (G-05) Kedung Lantung. Geosite ini merupakan rembesan minyak bumi (cair) di aliran Sungai Borik yang berada di Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras.
“Topik petroleum system ini sangat menarik. Kalau tambang sudah banyak, tapi minyak bumi belum ada. Ini bisa menjadi kekuatan utama Geopark Bojonegoro,” jelas Prof. Mega Fatimah Rosana dari Komite Nasional Geopark Indonesia.
Untuk sampai ke lokasi ini butuh perjalanan yang cukup lumayan karena lokasinya berada sekitar 30 km dari pusat Kota Bojonegoro. Selain jarak yang lumayan, perjalanan juga harus melalui jalanan berkelok, sehingga jarak tempuh yang dibutuhkan sekitar satu setengah jam dari kota melansir bojonegorokab, Rabu (5/8/2026). Selain itu, perjalanan juga harus dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk bisa sampai lokasi. Begitu sampai di pintu masuk sudah disambut dengan papan informasi sejarah Geosite Kedung Lantung dan beberapa papan peringatan.
Dengan adanya papan informasi itu, maka pengunjung dapat memahami alur cerita geologi yang terhubung antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. “Pemahaman yang sama tentang geosite akan membentuk wisata edukatif yang beralur cerita, bukan sekadar pemandangan,” imbuhnya.
Papan informasi tersebut memaparkan bahwa merawat lapisan sejarah membutuhkan usaha besar. Semakin melihat berbagai warisan alam yang ada di Kabupaten Bojonegoro, semakin membuktikan antara geosite satu dengan lainnya ternyata membentuk sebuah narasi besar tentang sistem petroleum Bojonegoro yang unik, kaya makna, dan kulturnya.
Geosite ini berada di Zona Kendeng. Pengendapan laut dalam di Zona Kendeng bersamaan dengan pengendapan laut dangkal di Zona Rembang. Aktifitas tektonik pada masa lampau menciptakan jaringan rekahan (fractures) pada batuan yang menjadi jalur rembesan minyak bumi (oil seepage) alami.
Melalui rekahan tersebut, minyak dari reservoir di sekitarnya meresap secara vertikal ke atas didorong oleh gaya angkat karena densitas minyak bumi lebih kecil daripada air. Pada akhirnya, minyak bumi tersebut muncul di permukaan sebagai rembesan dan dapat disaksikan langsung di Kedung Lantung.
Untuk melihat langsung rembesan minyak, maka pengunjung perlu turun sedikit. Dari situ pengunjung dapat melihat bahwa fenomena rembesan ini menciptakan spektrum warna melalui interferensi cahaya. Sehingga warna-warni seperti pelangi dapat dilihat mata manusia.
Menariknya, secara kultural, rembesan minyak di Geosite Kedung Lantung ini telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal untuk kehidupan sehari-hari seperti penerangan tradisional. Warga lokal menyebutnya Lintung.
Mengingat adanya rembesan minyak bumi ini, Geosite Kedung Lantung bagai memiliki 'saudara kandung' yang jaraknya kurang lebih 35 kilometer bernama 'Geosite Kayangan Api'. Bedanya, jika Kedung Lantung berupa rembesan minyak bumi, maka Kayangan Api ialah rembesan gas bumi (gas) yang terbakar di permukaan tanah kering.
Situs Geopark Bojonegoro tersebar di hampir seluruh wilayah administratif Bojonegoro. Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 55.K/HK.02/MEM.G/2021 tentang Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro, kawasan tersebut terdiri atas lima lokasi utama, yaitu:
1. Petroleum System Wonocolo, Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan.
2. Struktur Antiklin Kawengan, Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan.
3. Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.
4. Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras.
5. Fosil Purba Gigi Hiu, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang.
Saat ini, Geopark Nasional Bojonegoro bersama Geopark Ranah Minang Silokek telah terpilih sebagai Aspiring UGGp atau kandidat geopark yang sedang berproses menuju pengakuan resmi dari UNESCO.
Geopark Bojonegoro menjadi bukti nyata kekayaan alam, budaya, serta semangat masyarakat dalam menjaga warisan bumi. Dengan potensi geologi yang unik dan dukungan masyarakat yang kuat, Geopark Bojonegoro diharapkan menjadi kebanggaan baru Indonesia di kancah dunia melestarikan bumi, menggerakkan ekonomi, dan menginspirasi generasi masa depan.
Salah satu anggota Pokdarwis Kedung Lantung, Nabila, mengatakan struktur tanah dan iklim di Desa Drenges, jagung dan singkong menjadi komoditas unggulan di kawasan ini. "Peta besar yang menunjukkan kekayaan warisan alam perlu terjaga melalui sektor pariwisata. Agar apa yang menjadi keunggulan daerah dapat terus terjaga hingga anak cucu," katanya. (*)
Editor: Lutfiyu Handi



.jpg)
