05 August 2026

Get In Touch

BMKG Nyatakan Juli 2026 jadi Bulan Juli Terkering Sejak 1991

Petani memperlihatkan kondisi sawah irigasi anak Sungai Cimulu yang mengering di Kampung Ciwasmandi, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). (foto:ist/dok.Ant)
Petani memperlihatkan kondisi sawah irigasi anak Sungai Cimulu yang mengering di Kampung Ciwasmandi, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). (foto:ist/dok.Ant)

JAKARTA (Lentera) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering di Indonesia sejak 1991 berdasarkan rata-rata curah hujan nasional, seiring menguatnya El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Fachri Radjab mengatakan berdasarkan analisis BMKG, rata-rata curah hujan nasional pada Juli 2026 menempati peringkat pertama sebagai bulan Juli terkering sejak pencatatan pada 1991.

"Di bulan Juni, curah hujan rata-rata wilayah Indonesia berada pada peringkat kedelapan terkering sejak 1991. Namun pada Juli, ternyata Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering peringkat pertama sejak 1991," kata Fachri dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta mengutip Antara, Selasa (4/8/2026). 

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh menguatnya El Nino yang telah mencapai kategori kuat, serta berkembangnya fenomena IOD positif di Samudra Hindia yang sama-sama berkontribusi mengurangi curah hujan di Indonesia.

Menurutnya, El Nino saat ini berpotensi meningkat menjadi kategori sangat kuat dengan peluang sekitar 75 persen pada Agustus hingga Oktober 2026. Sementara itu, IOD positif juga diperkirakan terus berkembang sehingga memperkuat pengurangan curah hujan selama musim kemarau.

“Ini mungkin yang perlu menjadi antisipasi kita ketika dua fenomena ini aktif, baik di sisi timur maupun sisi barat Indonesia, dan sama-sama berpotensi mengurangi curah hujan selama periode musim kemarau ini,” jelasnya.

Fachri mengatakan, analisis BMKG menunjukkan hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengalami curah hujan rendah hingga sangat rendah selama Juli 2026.

Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua, kecuali Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

Selain itu, pemantauan BMKG menunjukkan kekeringan mulai meluas di berbagai daerah.

Hingga awal Agustus 2026, BMKG mencatat terdapat 306 titik pengamatan yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

Dari jumlah tersebut, rekor terpanjang tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mengalami 90 hari berturut-turut tanpa hujan.

Secara keseluruhan, BMKG mencatat sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH sangat panjang atau 31-60 hari berturut-turut tanpa hujan, sedangkan 322 titik lainnya mengalami HTH panjang atau 21-30 hari berturut-turut tanpa hujan.

Fachri mengatakan, penurunan curah hujan akibat El Nino dan IOD positif tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, Aceh, Sumatera Utara, sebagian Riau, sebagian Sumatera Barat, dan Kalimantan Utara masih diperkirakan mengalami curah hujan menengah hingga tinggi pada Agustus ini karena memiliki karakteristik pola musim yang berbeda.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.