25 July 2026

Get In Touch

Iran Klaim Lancarkan Serangan ke Pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania

IRGC klaim lancarkan serangkan ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Yordania. (Anadolu)
IRGC klaim lancarkan serangkan ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Yordania. (Anadolu)

SURABAYA (Lentera) - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis (23/7/2026) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Yordania. Media pemerintah Iran melaporkan serangan itu disebut menyasar berbagai fasilitas militer, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur pendukung operasi militer AS.

Mengutip Anadolu, pemerintah Iran, IRIB, IRGC dalam pernyataannya mengatakan serangan tersebut menghancurkan gudang besar peralatan militer, sistem pertahanan udara Patriot milik AS, serta hanggar yang digunakan untuk menyimpan drone MQ-9 di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait.

IRGC juga mengklaim telah menyerang akomodasi personel militer AS serta dua hanggar helikopter di Kamp Udairi dan serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah personel militer AS. Meski demikian, IRGC tidak merinci jumlah korbannya. Serangkan itu juga menyebabkan kerusakan besar pada sejumlah helikopter dan drone.

IRGC mengatakan pihaknya juga menargetkan sebuah menara telekomunikasi sebagai balasan atas serangan AS terhadap infrastruktur komunikasi di Iran.

Anadolu juga menyebuytkan bahwa IRGC menegaskan pada masyarakat Kuwait bahwa serangan tersebut hanya menyasar lokasi yang digunakan militer AS dan tidak dimaksudkan sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan maupun keutuhan wilayah Kuwait.

IRGC juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania dan menghancurkan radar sistem pertahanan rudal THAAD, sistem Patriot, serta radar C-RAM. Serangan tersebut memicu kebakaran pada tangki bahan bakar, gudang peralatan helikopter, dan hanggar perawatan helikopter.

Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan bulan lalu untuk mengakhiri konflik dan mencapai kesepakatan damai jangka panjang. Namun, ketegangan kembali meningkat pekan lalu terkait Selat Hormuz ketika kedua pihak kembali saling melancarkan serangan. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.