UPAYA Indonesia membangun reputasi sebagai tujuan investasi tengah diuji oleh dua peristiwa yang muncul hampir bersamaan pada Juli 2026. Di satu sisi, Kumpulan Wang Persaraan (KWAP), lembaga pengelola dana pensiun pegawai negeri Malaysia, mengungkap investasinya sekitar RM200 juta atau US$47,7 juta di startup akuakultur Indonesia eFishery berpotensi boncos alias rugi besar. Ini setelah terungkap dugaan manipulasi laporan keuangan. Di sisi lain, PT Pos Indonesia (Persero) gagal membayar distribusi periodik Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 senilai Rp24,11 miliar yang jatuh tempo pada 8 Juli 2026. Buntutnya, Fitch Ratings memangkas peringkat kredit perseroan dari A(idn) menjadi C(idn). Dua peristiwa tersebut memang berasal dari sektor yang berbeda, yakni perusahaan rintisan digital dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun keduanya memperlihatkan benang merah, yakni memicu melemahnya kepercayaan terhadap tata kelola korporasi di negeri ini. Dalam kasus eFishery, pemerintah Negeri Jiran menyatakan investasi telah melalui proses independent due diligence dan penilaian berdasarkan laporan keuangan yang diaudit sebelum dugaan manipulasi terungkap. Sementara pada Pos Indonesia, kegagalan memenuhi kewajiban pembayaran mencerminkan tekanan likuiditas. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi pengingat bila daya saing investasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya arus modal yang masuk, tetapi juga oleh kredibilitas tata kelola perusahaan dalam menjaga kepercayaan investor. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lentera.co/upload/Epaper/20072026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)
