18 July 2026

Get In Touch

Wyndham Surabaya Gandeng Desainer Lokal Bikin Acara "Beyond Moment Afternoon Lifestyle"

Peragaan busana di Wyndham Hotel Surabaya (Amanah/Lentera)
Peragaan busana di Wyndham Hotel Surabaya (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera)– Wyndham Surabaya berkolaborasi bersama empat desainer lokal menggelar kegiatan bertajuk “Beyond Moment Afternoon Lifestyle”, sebuah acara yang memadukan fashion show, personal color analysis, dan jamuan afternoon tea.

Keempat desainer tersebut adalah Rashida Alam, Dameria Ambuwaru, Era Krisna, dan Listya Ayu.

Marketing Communications Manager Wyndham Surabaya, Priyono atau Oyon, mengatakan sebuah pertemuan kini tidak lagi sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan juga sarana untuk menciptakan pengalaman yang memiliki cerita dan nilai emosional.

“Melalui Beyond Moment Afternoon Lifestyle, kami ingin memperkenalkan Wyndham Surabaya sebagai destinasi yang mampu menghadirkan pengalaman tersebut,” ujar Oyon, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan, Wyndham Surabaya siap menjadi lokasi berbagai kegiatan, mulai dari arisan, perayaan ulang tahun, reuni, pernikahan, hingga acara sosial lainnya. Hotel tersebut bahkan mampu menampung hingga 1.000 tamu dalam satu kesempatan.

Menurutnya, setiap momen berharga layak dirayakan di tempat yang tidak hanya nyaman, tetapi juga mampu menghadirkan sentuhan personal dan suasana yang berkelas.

Oyon menuturkan, kolaborasi bersama empat desainer asli Surabaya tersebut menjadi bentuk komitmen Wyndham Surabaya dalam mendukung perkembangan ekonomi kreatif sekaligus menghadirkan pengalaman yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.

“Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen kami untuk terus mendukung perkembangan ekonomi kreatif, sekaligus menghadirkan pengalaman yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu desainer yang terlibat, Dameria Ambuwaru, mengusung konsep keberlanjutan melalui perpaduan kain tenun dengan denim daur ulang. Ia memanfaatkan bahan-bahan lama untuk menciptakan busana yang tetap elegan dan dapat dikenakan lintas generasi.

“Denim merupakan pakaian sepanjang masa. Saya mencoba memadukan denim hasil daur ulang dengan tenun agar tetap terlihat etnik dan nyaman digunakan,” ungkap Dameria.

Menurutnya, sebagian besar koleksi yang ditampilkan dibuat dari potongan kain sisa yang pernah digunakan sebelumnya. Namun, ia tetap mempertahankan keutuhan kain tenun karena setiap wastra memiliki cerita dan karakter yang berbeda.

“Setiap tenun, batik, maupun lurik memiliki kisah masing-masing. Karena itu, saya lebih senang menampilkan kain-kain tersebut secara utuh,” tuturnya.

Dameria juga ingin mengubah pandangan masyarakat yang selama ini menganggap busana berbahan tenun dan batik hanya cocok dikenakan oleh kalangan usia tertentu. Melalui desain yang lebih sederhana dan modern, ia berharap wastra Nusantara dapat diterima oleh generasi muda.

Dalam peragaan busana tersebut, model yang tampil berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari perempuan berusia 30 tahun hingga mendekati 70 tahun. “

Tenun sebenarnya tidak berat dipakai. Dengan model yang simpel dan padu padan yang tepat, semua usia bisa mengenakannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, koleksi yang ditampilkan kali ini mengusung tema padu padan dan daur ulang sebagai ajakan untuk memanfaatkan kembali busana lama tanpa kehilangan nilai estetika.

"Konsep yang saya tampilkan ini sekaligus menjadi upaya menjaga kelestarian wastra Indonesia agar tetap relevan dan dapat dikenakan sepanjang masa," tutupnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.