06 July 2026

Get In Touch

Harga BBM Naik, Inflasi Kota Malang pada Juni 2026 Ikut "Di-gas"

Ilustrasi: Antrean di salah satu SPBU Kota Malang di hari pertama kenaikan BBM non subsidi, 10 Juni 2026 lalu. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Antrean di salah satu SPBU Kota Malang di hari pertama kenaikan BBM non subsidi, 10 Juni 2026 lalu. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ikut "mengegas" laju inflasi Kota Malang pada Juni 2026. Bensin menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga, hingga mendorong inflasi bulanan mencapai 0,34 persen.

"Kenaikan harga pada kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi Kota Malang pada Juni 2026, dengan andil mencapai 0,31 persen," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Indra Kuspriyadi, dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (3/7/2026).

Dia menjelaskan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kota Malang secara tahunan tercatat sebesar 3,16 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 3,36 persen dan inflasi nasional sebesar 3,34 persen.

Dari sejumlah komoditas, bensin memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,22 persen. Kenaikan ini dipicu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.

Selain bensin, kenaikan harga sejumlah bahan pangan turut mendorong inflasi. Bawang merah memberikan andil sebesar 0,06 persen, disusul angkutan udara 0,03 persen, bawang putih 0,02 persen, dan telepon seluler 0,01 persen.

Indra menyebut, kenaikan harga bawang merah terjadi akibat terbatasnya pasokan menjelang masa panen raya yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus. Sementara itu, harga bawang putih terdorong naik akibat meningkatnya biaya impor seiring pelemahan nilai tukar rupiah.

"Momentum libur sekolah juga turut memengaruhi pergerakan harga. Meningkatnya permintaan masyarakat selama periode tersebut mendorong kenaikan tarif angkutan udara," katanya. 

Sedangkan kenaikan harga telepon seluler dipengaruhi faktor global, mulai dari peningkatan biaya logistik hingga berlanjutnya gangguan rantai pasok komponen elektronik, terutama microchip.

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, kata Indra, inflasi Kota Malang tertahan oleh penurunan harga sejumlah bahan pangan.

Daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni 0,07 persen. Penurunan harga juga terjadi pada cabai rawit dengan andil deflasi 0,04 persen dan udang basah sebesar 0,03 persen.

Penurunan harga ketiga komoditas tersebut dipengaruhi meningkatnya pasokan di tengah kondisi produksi yang memadai. Situasi itu mendorong harga di tingkat konsumen kembali normal.

Selain bahan pangan, harga emas perhiasan juga memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Penurunan tersebut terjadi sejalan dengan koreksi harga emas di pasar global yang kemudian berdampak pada harga di pasar domestik.

"Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Kota Malang sebesar 3,16 persen masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen," tuturnya.

Lebih lanjut, Indra juga mengungkapkan sejumlah upaya yang telah dilakukan demi menjaga stabilitas harga. Menurutnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang terus menjalankan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Sepanjang Juni 2026, dikatakannya, upaya pengendalian dilakukan melalui pemantauan harga bahan pangan pokok secara intensif. TPID Kota Malang juga menggelar rapat koordinasi teknis bersama Fuel Terminal Manager Pertamina pada 17 Juni 2026 untuk mengantisipasi dampak penyesuaian harga BBM terhadap inflasi daerah.

"Koordinasi dengan Dinas Perhubungan juga diperkuat untuk menjaga kelancaran distribusi komoditas pangan. Ke depan, BI bersama pemerintah daerah akan melanjutkan pengendalian inflasi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) dan optimalisasi strategi 4K," ungkap Indra. (*) 


Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.