29 June 2026

Get In Touch

Polisi Bebaskan Dua Mahasiswa Unair Usai Aksi Indonesia Sekarat, Kondisi Wajah Lebam dan Syok

Perwakilan BEM Fisip Unair memeluk RD dan RA yang baru bebas di depan pintu pagar Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026) malam. (foto:ist/Tribunnews)
Perwakilan BEM Fisip Unair memeluk RD dan RA yang baru bebas di depan pintu pagar Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026) malam. (foto:ist/Tribunnews)

SURABAYA (Lentera) - Dua mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang sempat diamankan seusai aksi #IndonesiaSekarat di kawasan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, akhirnya dibebaskan dari Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026) malam. 

Keduanya adalah RD dan RA, mahasiswa semester empat Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unair. Mereka termasuk dalam kelompok demonstran yang dibebaskan secara bertahap, setelah dinyatakan tidak terbukti terlibat dalam perusakan fasilitas publik. 

Suasana di depan gerbang utama Mapolrestabes Surabaya tadi malam, berlangsung haru. Para demonstran yang keluar dari area markas kepolisian langsung disambut pelukan keluarga, sahabat, dan rekan-rekan yang menunggu sejak malam sebelumnya. 

Pantauan di lokasi sejak sekitar pukul 20.15 WIB, sejumlah demonstran tampak keluar melewati lapangan utama Mapolrestabes Surabaya sambil membawa tas ransel. 

Setelah melewati gerbang, mereka langsung disambut massa solidaritas yang menunggu di pinggir jalan. Di antara demonstran yang keluar pada klaster pertama, terlihat RD dan RA. 

Keduanya tampak dalam kondisi kelelahan dan syok, sehingga belum bisa memberikan pernyataan langsung kepada awak media.

Ketua HIMA Antropologi BEM Fisip Unair, Adam Wahyu Saputra kemudian menyampaikan kondisi kedua mahasiswa tersebut, ada indikasi tindakan represif berupa kekerasan fisik terhadap rekannya saat proses penangkapan. 

Menurut Adam, penangkapan itu dilakukan oleh polisi berpakaian sipil di kawasan Jalan Pemuda. 

"Kondisi terkini teman-teman kita bisa dibilang relatif stabil secara psikis, tapi butuh istirahat total. Dapat kita lihat bersama, wajah RD mengalami luka memar bengkak dan ada pendarahan lebam di bagian mata akibat pukulan atau benturan benda tumpul. Sementara RA terus mengeluhkan rasa sakit nyeri di daerah perut," ungkap Adam dengan nada getir di depan pagar Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026) malam mengutip Kompas.com, Minggu (28/6/2026). 

Adam menilai, pembebasan para demonstran menjadi pelajaran penting bagi gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil. 

"Ini pelajaran berharga. Satu-satunya cara membebaskan korban yang tertindas dan melindungi mereka secara hukum berkeadilan adalah dengan memperkuat simpul solidaritas bersama," imbuhnya. 

Sementara itu, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir memaparkan data demonstran yang sempat berada di ruang pemeriksaan. Menurut Fatkhul, ada 24 orang yang sempat diamankan, dari jumlah tersebut 23 orang merupakan laki-laki dan satu orang perempuan. 

Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, terdapat empat mahasiswa aktif yang ikut diamankan. Rinciannya, dua mahasiswa Unair, satu mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, dan satu mahasiswa Universitas Terbuka. 

Selain itu, terdapat dua anak di bawah umur yang masih berstatus pelajar aktif, berusia sekitar 16 tahun. 

Fatkhul juga menjelaskan, status satu demonstran perempuan yang ikut diamankan polisi. Menurutnya, perempuan tersebut bukan bagian dari kelompok perusuh, melainkan warga sipil yang bekerja sebagai penjual kopi keliling. 

"Satu demonstran perempuan ini statusnya murni sebagai saksi, kesehariannya dia merupakan penjual kopi. Ia diamankan karena bertindak sebagai salah satu orator dalam konvoi aksi tersebut. Informasi yang kami terima, materi pemeriksaan penyidik terhadap dirinya lebih banyak menggali dan mempertanyakan seputar isi atau substansi orasi yang ia teriakkan di depan Grahadi sebelum kerusuhan pecah," beber Fatkhul Khoir. 

Pembebasan bertahap para demonstran, tidak lepas dari pengawalan elemen mahasiswa dan masyarakat sipil. Menteri Politik dan Kajian Strategis BEM Fisip Unair, M. Fajrul Mulk S. Putra Mahkota mengatakan massa solidaritas sudah berada di depan Mapolrestabes Surabaya, sejak Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. 

Mereka bertahan di area teras gapura dan taman depan Mapolrestabes Surabaya. Massa juga bergantian menggelar tikar, menjaga logistik makanan, serta mengawal proses pemeriksaan hingga Sabtu malam. 

Pengawalan itu dilakukan untuk memastikan hak-hak hukum demonstran tidak dilanggar selama proses pemeriksaan berlangsung. 

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.