WASHINGTON (Lentera) - Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon meneken perjanjian kerangka kerja tiga pihak sebagai langkah awal mengakhiri konflik bersenjata yang masih berlangsung, Jumat (26/6/2026) waktu setempat.
Berdasarkan keterangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dokumen tersebut ditandatangani oleh Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter, Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad, serta Penasihat Departemen Luar Negeri AS Daniel Joseph Holler di Kantor Departemen Luar Negeri.
Prosesi penandatanganan turut disaksikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Dalam pernyataannya, Rubio menyebut penandatanganan kerangka kerja itu sebagai "awal dari permulaan" menuju penyelesaian konflik. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses menuju perdamaian masih menghadapi tantangan besar.
"Kami sama sekali tidak meremehkan kesulitan tugas yang ada di depan," ujar Rubio, melansir Antara, Jumat (26/7/2026).
Kesepakatan tersebut menjadi perkembangan diplomatik terbaru di tengah situasi keamanan yang masih belum sepenuhnya stabil.
Sebelumnya, Reuters melaporkan seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan Israel dan kelompok Hezbollah Lebanon telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Juni 2026. Namun, sehari setelahnya, pada 20 Juni, serangan udara dilaporkan masih terus berlangsung.
Kondisi itu menunjukkan implementasi gencatan senjata belum berjalan sepenuhnya efektif.
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Eyal Zamir, bahkan menyebut gencatan senjata tersebut masih rapuh. Ia juga meminta pasukannya tetap bersiaga mengantisipasi kemungkinan kembali pecahnya permusuhan.
Editor: Santi




.jpg)
