JAKARTA (Lentera) - Korban tewas akibat dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Kamis (25/6/2026), pemerintah mencatat sedikitnya 164 orang meninggal dunia dan 971 lainnya mengalami luka-luka.
Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, mengatakan jumlah korban diperkirakan masih akan terus meningkat seiring proses pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak.
Sebelumnya, pemerintah melaporkan 32 korban jiwa dan lebih dari 700 orang terluka sesaat setelah dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah pantai utara Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam.
Gempa ganda tersebut disebut sebagai salah satu bencana seismik paling kuat yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad. Dampaknya memicu kerusakan luas di berbagai wilayah, terutama di kawasan pesisir Karibia bagian utara.
Merespons situasi tersebut, Rodriguez menetapkan status darurat nasional. Selain menyebabkan banyak bangunan runtuh, gempa juga sempat memicu peringatan tsunami di sejumlah kawasan pesisir Karibia.
Sementara itu, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan bencana ini berpotensi menimbulkan korban jiwa jauh lebih besar.
Berdasarkan analisis awal, terdapat peluang sebesar 42 persen bahwa jumlah korban meninggal dapat mencapai antara 10.000 hingga 100.000 orang apabila mempertimbangkan tingkat kerusakan dan kepadatan penduduk di wilayah terdampak.
USGS juga menyebut negara bagian La Guaira, yang berada di dekat ibu kota Caracas, menjadi wilayah yang diperkirakan mengalami dampak paling parah akibat gempa tersebut.
Dikutip dari stasiun televisi lokal teleSur, Rodriguez mengatakan prioritas pemerintah saat ini adalah menyelamatkan warga yang masih terjebak di dalam rumah maupun bangunan yang ambruk.
Di sisi lain, data teknis terbaru USGS menunjukkan wilayah Venezuela bagian utara diguncang oleh rangkaian gempa ganda berkekuatan besar yang tergolong sangat jarang terjadi.
Editor: Santi/Ant



.jpg)
