25 June 2026

Get In Touch

PBB Evakuasi 11.000 Pelaut dari Selat Hormuz, Jalur Pelayaran Dunia Mulai Dibuka

Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 (AFP)
Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 (AFP)

SURABAYA (Lentera) -Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terdampar di Selat Hormuz.

Hal itu dilakukan usai Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan, operasi evakuasi dilakukan melalui kerja sama erat dengan Iran, Oman, negara-negara pesisir di kawasan tersebut, Amerika Serikat, serta industri maritim.

Dominguez menyebut IMO telah memperoleh jaminan keselamatan yang diperlukan sebelum memulai proses evakuasi.

“Kami telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman untuk mendukung operasi ini,” kata Dominguez dalam pernyataan pada Selasa (23/6/2026).

Evakuasi dilakukan bertahap

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi rute utama perdagangan energi dan kapal komersial internasional.

Namun, jalur itu terganggu setelah perang AS-Israel di Iran dimulai pada 28 Februari 2026 hingga menjadi perang di Timur Tengah.

Teheran kemudian secara efektif menutup Selat Hormuz sehingga banyak kapal tertahan di perairan tersebut.

Kondisi itu membuat ribuan pelaut terjebak dan tidak dapat melanjutkan perjalanan maupun kembali ke daratan dengan aman.

Kementerian Pertahanan Oman menyatakan, evakuasi akan dilakukan secara bertahap sesuai rencana IMO yang telah dibahas selama beberapa bulan.

Oman menilai proses bertahap diperlukan karena situasi di kawasan tersebut masih berisiko tinggi bagi kapal-kapal yang bergerak secara bersamaan.

“Mengingat tingginya risiko tabrakan dalam lingkungan saat ini, evakuasi lalu lintas kapal secara bertahap dan terkontrol diperlukan,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Oman.

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai meningkat setelah perjanjian AS-Iran ditandatangani pekan lalu.

Badan intelijen pelayaran Kpler melaporkan, sedikitnya 36 kapal komersial melewati selat tersebut pada Senin. Jumlah itu menjadi rekor lalu lintas tertinggi sejak perang dimulai.

Denmark juga mengumumkan akan bergabung dalam misi maritim internasional yang dibentuk Prancis dan Inggris untuk membantu membuka kembali jalur air strategis tersebut.

AS dan Iran bahas pembukaan jalur perdagangan

Laporan dari Selat Hormuz menyebut pembicaraan antara AS dan Iran mengenai kesepakatan perdamaian menunjukkan perkembangan.

Jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi melaporkan, Oman dan Iran telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait pembahasan mekanisme pembukaan kembali perdagangan melalui Selat Hormuz.

“Hari ini, kami mendapat pernyataan bersama dari pihak Oman dan Iran yang mengatakan bahwa mereka sedang membicarakan mekanisme untuk membuka kembali perdagangan melalui Selat Hormuz. Ini adalah indikasi positif,” kata Asadi, dikutip dari Kompas.

Meski demikian, pembukaan penuh Selat Hormuz masih belum dapat dipastikan. Asadi menyebut masih ada ratusan kapal yang tertahan di kedua sisi selat tersebut.

“Namun, masih perlu dilihat berapa lama waktu yang dibutuhkan agar selat tersebut dibuka kembali, dan sampai saat itu, kita melihat ratusan kapal terdampar di kedua sisi Hormuz,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tiba di Uni Emirat Arab pada Selasa dan kembali menegaskan posisi Washington terkait status Selat Hormuz.

Rubio mengatakan, Iran tidak akan diizinkan memungut biaya di Selat Hormuz dalam kesepakatan akhir apa pun dengan AS.

“Ini adalah jalur air internasional. Tidak ada negara yang diizinkan untuk memungut biaya atau pungutan di jalur air internasional,” kata Rubio.

Ia menambahkan, semua negara di kawasan tersebut diyakini akan menyetujui prinsip tersebut. Di sisi lain, negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali seperti kondisi sebelum perang.

Meski begitu, kedua pihak telah menyepakati pembentukan jalur komunikasi agar pembicaraan tetap terbuka (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.