21 June 2026

Get In Touch

Khawatir Dampak Digital, Sekolah di Swedia Kembali Gunakan Kertas

Ilustrasi salah satu sekolah di Stockholm, Swedia belajar menulis menggunakan kertas. (foto:ist/Kompas.com/AP)
Ilustrasi salah satu sekolah di Stockholm, Swedia belajar menulis menggunakan kertas. (foto:ist/Kompas.com/AP)

STOCKHOLM (Lentera) - Swedia yang dulunya dipandang sebagai pemimpin global dalam membawa laptop dan tablet ke dalam ruang kelas, kini berinvestasi besar-besaran pada buku cetak.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran, bahwa penggunaan layar yang berlebihan dapat mengganggu proses belajar dan konsentrasi anak-anak.

Dikutip dari Kyodo melansir Antara, Sabtu (20/6/2026), di sekolah Bandhagen di Stockholm, murid-murid kelas empat membaca keras-keras dari materi cetak setelah menghabiskan sebagian jam pelajaran untuk membaca buku pilihan mereka sendiri.

Ini merupakan sebuah pemandangan yang mencerminkan peralihan besar-besaran Swedia, kembali ke pembelajaran berbasis kertas.

"Saat membaca lewat perangkat digital, saya biasanya pusing," kata Emilia, seorang remaja.

"Saya bisa berkonsentrasi lebih baik ketika membaca buku fisik," imbuhnya.

Swedia memperluas penggunaan perangkat digital di sekolah secara cepat, sekitar tahun 2010. Namun, perdebatan semakin sengit setelah hasil dari Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) oleh OECD menunjukkan, penurunan tajam pada nilai membaca dan matematika antara tahun 2018 dan 2022.

Tinjauan yang diprakarsai oleh pemerintah bersama para ahli saraf dan pakar pediatri (anak) menyimpulkan, bahwa ketergantungan yang tinggi pada perangkat digital dapat mengganggu perhatian serta konsentrasi, dan materi cetak terbukti bisa lebih efektif untuk pembelajaran.

Sebagai respons, Swedia mengubah arah kebijakannya pada tahun 2023 dengan mendorong pengajaran berbasis kertas bagi siswa yang lebih muda.

Pemerintah negara tersebut, mengalokasikan dana sekitar 658 juta hingga 755 juta kronor atau sekitar 70 juta hingga 80 juta dolar AS (sekitar Rp1,25 triliun hingga Rp1,42 triliun) setiap tahunnya. 

Hingga tahun 2025, untuk buku cetak dan materi pengajaran lainnya di taman kanak-kanak serta sekolah wajib (setingkat SD hingga SMP).

Kembalinya Swedia ke buku cetak ini, terjadi di saat beberapa negara justru sedang mendigitalisasi pendidikan mereka.

Di Jepang, misalnya, undang-undang hasil revisi baru-baru ini disahkan untuk memperkenalkan buku teks digital sebagai materi pengajaran resmi di sekolah-sekolah.

"Keputusan ini didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak, yang otaknya masih berkembang, mungkin sangat rentan terhadap dampak perangkat digital," kata Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia, Joar Forssell.

Namun, beberapa peneliti dan pendidik menunjuk pada faktor-faktor lain di balik melemahnya performa akademik, termasuk perubahan demografis dan tantangan yang dihadapi oleh siswa dari keluarga imigran.

Swedia mulai menerima imigran dan pengungsi dalam jumlah besar dari Suriah, Afganistan, dan negara-negara Afrika sejak sekitar tahun 2015.

Menurut Kepala Sekolah Bandhagen, Pia Nystrom fokus utama seharusnya adalah menemukan keseimbangan yang tepat, antara metode pengajaran digital dan tradisional, alih-alih hanya menyalahkan teknologi.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.