19 June 2026

Get In Touch

Kidama Project: Cara Untag Surabaya Ajarkan Siaga Bencana pada Anak Usia Dini

Fakultas Teknik Untag saat mengenalkan edukasi kebencanaan di SAIM.
Fakultas Teknik Untag saat mengenalkan edukasi kebencanaan di SAIM.

SURABAYA (Lentera) - Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengembangkan model edukasi kesiapsiagaan bencana bagi anak usia dini melalui Kidama Project, sebuah program pembelajaran yang mengadaptasi praktik mitigasi bencana dari Jepang dan disesuaikan dengan konteks Indonesia.

Program tersebut bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya dan Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya. Inisiatif ini menjadi cara dan upaya Untag membangun budaya sadar bencana sejak usia dini melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis pengalaman.

Kidama Project merupakan tindak lanjut dari jejaring internasional yang dibangun melalui Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Untag Surabaya sebagai penerima Hibah Japan Foundation Tahun 2025. Hasil kolaborasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi model pembelajaran yang dirancang sesuai karakteristik anak-anak di Indonesia.

Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya sekaligus Ketua Kidama Project, Dr. Ir. Ar. R.A. Retno Hastijanti, M.T., IPU., IAI., APEC.Eng., mengatakan kesiapsiagaan bencana tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi maupun infrastruktur, tetapi juga pendidikan yang dilakukan secara berkelanjutan.

"Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diterapkan di masyarakat. Melalui Kidama Project, kami ingin menanamkan kesadaran risiko bencana sekaligus membentuk karakter tangguh, disiplin, dan peduli terhadap keselamatan bersama sejak usia dini," ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Menurut Retno, materi pembelajaran disusun agar mudah dipahami anak-anak melalui simulasi dan aktivitas langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta memahami tidak hanya prosedur keselamatan, tetapi juga alasan penting di balik setiap tindakan yang dilakukan saat keadaan darurat.

Selama kegiatan berlangsung, peserta diperkenalkan pada berbagai potensi bencana yang kerap terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, cuaca ekstrem, dan kebakaran.

Penyampaian materi dilakukan melalui penjelasan interaktif, simulasi lapangan, serta praktik langsung yang dipandu oleh BPBD Kota Surabaya.

Salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah prosedur Drop, Cover, and Hold On sebagai standar keselamatan ketika terjadi gempa bumi. Program ini juga mengadopsi metode Montessori yang mendorong anak belajar melalui pengalaman konkret dengan media pembelajaran yang menyerupai kondisi nyata.

Selain melibatkan siswa, Kidama Project turut menggandeng mahasiswa Fakultas Teknik Untag Surabaya yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta himpunan mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Teknik Mesin, Teknik Sipil, dan Arsitektur.

Keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman untuk memperkuat kompetensi kepemimpinan, komunikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Direktur Pendidikan SAIM Surabaya, Aziz Badiansyah, menilai program tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

"Kami melihat program ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk keberanian dan kepedulian siswa. Harapannya, apa yang mereka pelajari dapat dibagikan kembali kepada keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga manfaatnya menjadi lebih luas," tuturnya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan, Untag Surabaya berupaya menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. 

Ke depan, Kidama Project direncanakan diperluas ke jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama guna memperkuat budaya mitigasi bencana secara berkelanjutan.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.