18 June 2026

Get In Touch

Jerawat Punggung, Masalah Tersembunyi yang Tak Boleh Diabaika

Jerawat Punggung, Masalah Tersembunyi yang Tak Boleh Diabaika

SURABAYA ( LENTERA ) - Jerawat sering kali identik dengan wajah. Namun dalam dunia dermatologi, punggung justru menjadi salah satu area yang paling “ramah” bagi jerawat untuk berkembang tanpa banyak disadari. Ia tidak selalu terlihat di cermin, tetapi dampaknya bisa terasa jelas: gatal, nyeri, hingga rasa tidak percaya diri saat mengenakan pakaian terbuka.

Jerawat punggung bisa muncul dalam berbagai bentuk, benjolan merah, whiteheads, hingga komedo. Meski tampak sederhana, kondisi ini kerap lebih bandel dibanding jerawat wajah karena karakter kulit di area punggung yang berbeda.

Secara biologis, jerawat terjadi ketika sebum atau minyak alami kulit, sel kulit mati, serta bakteri menumpuk dan menyumbat pori-pori. Sumbatan ini kemudian memicu peradangan. Pada kondisi tertentu, folikel rambut bisa membengkak hingga membentuk whitehead, sementara komedo muncul saat sumbatan terpapar udara.

Dokter kulit Dr. Justine Kluk menjelaskan kepada Marie Claire bahwa karakter kulit punggung menjadi salah satu alasan utama kondisi ini mudah terjadi. Ia mengatakan, "Kulit di punggung kita sangat tebal, sehingga potensi pori-pori tersumbat sangat tinggi."

Pernyataan ini memperjelas bahwa jerawat punggung bukan sekadar “versi lain” dari jerawat wajah, tetapi memiliki dinamika kulit yang berbeda.

Di balik benjolan kecil yang muncul di punggung, terdapat proses biologis yang cukup kompleks. Dermatolog Kara Shah, MD dari Cincinnati, menjelaskan mekanisme ini dengan lebih detail.
"Jerawat punggung adalah hasil dari akumulasi sel kulit mati dan minyak (sebum) di dalam pori-pori di kulit, dikombinasikan dengan pertumbuhan berlebih dari bakteri kulit yang umum, Cutibacterium acnes, yang memicu respons peradangan," katanya.

Artinya, jerawat bukan hanya soal kulit berminyak, tetapi juga interaksi antara produksi sebum, regenerasi sel kulit, dan keseimbangan mikrobioma kulit.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini dapat dipicu oleh banyak faktor yang sering kali tidak disadari.

Faktor pertama adalah genetika. Jerawat dapat muncul karena faktor keturunan, termasuk kecenderungan mengalami jerawat di area punggung.

Faktor kedua adalah obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat, termasuk antidepresan, dapat memicu munculnya jerawat sebagai efek samping.

Kemudian faktor hormon menjadi salah satu pemicu paling umum, terutama pada masa pubertas. Namun pada perempuan dewasa, perubahan hormon saat menstruasi dan kehamilan juga dapat memperburuk kondisi kulit.

Keringat hingga Gaya Hidup Modern

Dalam gaya hidup modern yang aktif, keringat menjadi salah satu pemicu terbesar jerawat punggung. Aktivitas olahraga, perjalanan panjang, hingga cuaca panas dapat meningkatkan produksi keringat secara signifikan.

Kara Shah menjelaskan bahwa kondisi ini semakin buruk ketika dikombinasikan dengan pakaian ketat dan aktivitas fisik. Ia mengatakan, "Jerawat di punggung umumnya terkait dengan aktivitas olahraga yang menyebabkan peningkatan keringat dan gesekan dari peralatan dan pakaian atletik."

Kombinasi keringat dan gesekan inilah yang sering menciptakan kondisi ideal bagi pori-pori untuk tersumbat.

Selain itu, stres juga sering dikaitkan dengan kondisi kulit yang memburuk, meski bukan penyebab langsung. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pola makan tertentu dapat berperan. American Academy of Dermatology mencatat bahwa karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi seperti roti putih dan keripik kentang dapat memengaruhi kadar gula darah yang berhubungan dengan jerawat. Produk susu juga disebut sebagai pemicu pada sebagian individu.(ist/dya)

Dari Kebiasaan Fesyen hingga Skincare

Mengatasi jerawat punggung tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dibutuhkan kombinasi perawatan kulit, perubahan kebiasaan, dan konsistensi.

Sabun dengan bahan aktif

Penggunaan sabun tubuh yang mengandung benzoil peroxide menjadi salah satu rekomendasi utama. Kandungan ini bekerja membunuh bakteri penyebab jerawat dan mengurangi peradangan. Sementara itu, salicylic acid membantu membersihkan pori-pori yang tersumbat serta mengangkat sel kulit mati.

Kebiasaan mandi setelah aktivitas

Dermatolog sangat menekankan pentingnya mandi setelah berkeringat. Keringat yang dibiarkan menempel terlalu lama, terutama di bawah pakaian ketat, dapat memperburuk kondisi kulit. Mengganti pakaian segera setelah aktivitas juga menjadi langkah penting.

Pakaian longgar dan breathable

Gesekan dari pakaian seperti sport bra, ransel, atau jaket ketat dapat memicu acne mechanica. Karena itu, bahan katun atau kain yang mudah menyerap keringat menjadi pilihan yang lebih aman untuk kulit.

Shampoo anti ketombe

Dalam beberapa kasus, jerawat punggung bukan jerawat biasa, melainkan folikulitis jamur. Kondisi ini ditandai dengan bintik kecil seragam dan rasa gatal. Penggunaan shampoo ketokonazol sebagai body wash beberapa kali seminggu dapat membantu mengatasinya.

Retinoid untuk regenerasi kulit

Retinoid membantu mempercepat regenerasi sel kulit dan membuka pori-pori yang tersumbat. Penggunaannya disarankan pada malam hari, dimulai dari frekuensi dua hingga tiga kali seminggu untuk menghindari iritasi.

Jangan memencet jerawat

Kebiasaan memencet jerawat justru dapat memperburuk kondisi kulit. Jerawat punggung memiliki risiko lebih tinggi meninggalkan bekas hitam, jaringan parut, hingga keloid.

Kebersihan pakaian

American Academy of Dermatology menekankan pentingnya mencuci pakaian olahraga setelah digunakan. Pakaian yang kembali dipakai tanpa dicuci dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan memperparah jerawat.(*)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.