14 June 2026

Get In Touch

Peneliti Sebut WiFi 'Melihat' Manusia Tanpa Kamera

Peneliti Sebut WiFi 'Melihat' Manusia Tanpa Kamera

SURABAYA  ( LENTERA ) - Teknologi jaringan nirkabel yang selama ini dianggap sekadar alat penyedia internet ternyata menyimpan potensi yang jauh lebih kompleks, bahkan mengarah pada kemampuan pengawasan yang menyerupai kamera tersembunyi. Hal ini berdasarkan temuan para peneliti dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), Jerman.

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa router WiFi yang biasa digunakan di rumah, kantor, maupun ruang publik seperti kafe, dapat dimanfaatkan untuk “melihat” manusia tanpa perlu kamera fisik, tanpa modifikasi perangkat keras tambahan, bahkan tanpa disadari pengguna jaringan itu sendiri.

Temuan ini berangkat dari penelitian ilmiah yang dipresentasikan dalam ajang ACM Conference on Computer and Communications Security pada akhir 2025. Para peneliti menemukan bahwa sinyal WiFi dapat dianalisis sedemikian rupa sehingga mampu mengidentifikasi identitas seseorang dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, yakni mencapai 99,5 persen.

Lewat gelombang radio

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dikenal sebagai WiFi sensing, yaitu pendekatan yang memanfaatkan sifat alami gelombang radio WiFi saat merambat di dalam ruangan.
Secara ilmiah, ketika sinyal WiFi dipancarkan oleh router, gelombang tersebut tidak hanya bergerak lurus menuju perangkat penerima. Sinyal itu akan berinteraksi dengan berbagai objek di sekitarnya, termasuk dinding, furnitur, dan tubuh manusia. Interaksi tersebut menyebabkan sinyal dapat dipantulkan, diserap, atau mengalami distorsi.

Perubahan-perubahan kecil inilah yang kemudian dianalisis oleh sistem untuk memahami kondisi lingkungan.

Seperti dijelaskan oleh Thorsten Strufe, profesor dari KIT sekaligus salah satu penulis utama penelitian tersebut.“Dengan mengamati rambatan gelombang radio, kami dapat membuat citra (gambar) dari lingkungan dan orang-orang yang hadir di sana.”

Strufe bahkan mengibaratkan teknologi ini seperti kamera pengawas konvensional. Bedanya, jika CCTV menggunakan cahaya untuk menangkap gambar, maka sistem ini memanfaatkan gelombang radio sebagai “mata” untuk membaca aktivitas manusia.

Penelitian ini juga menyoroti adanya celah keamanan yang berasal dari fitur beamforming, yang mulai diperkenalkan pada standar WiFi 5.
Beamforming sendiri awalnya dirancang untuk meningkatkan efisiensi jaringan, yaitu dengan memungkinkan router mengarahkan sinyal secara lebih presisi ke perangkat yang sedang digunakan. Agar proses ini berjalan optimal, perangkat akan terus mengirimkan data umpan balik kepada router.

Namun, di sinilah masalah muncul. Data umpan balik yang dikenal sebagai beamforming feedback information (BFI) ternyata tidak dienkripsi. Artinya, data tersebut dapat diakses secara terbuka tanpa memerlukan perangkat khusus, bahkan tanpa harus terhubung ke jaringan WiFi yang bersangkutan.

Para peneliti menemukan bahwa celah ini dapat dimanfaatkan untuk membaca pola pergerakan manusia di dalam ruangan, termasuk orang yang sama sekali tidak membawa perangkat elektronik apa pun.

Dengan kata lain, seseorang bisa tetap “terlihat” oleh sistem hanya karena tubuhnya mengganggu atau memodifikasi pola rambatan sinyal WiFi saat ia bergerak.

Salah satu aspek paling mengejutkan dari penelitian ini adalah kemampuan sistem untuk mengidentifikasi individu hanya berdasarkan cara mereka berjalan.

Dalam eksperimen yang dilakukan, para peneliti KIT mengumpulkan data dari hampir 200 partisipan. Para peserta diminta berjalan melintasi area dengan jangkauan sinyal WiFi, dengan berbagai variasi gaya berjalan.
Data sinyal yang terekam kemudian dianalisis menggunakan model machine learning yang dilatih untuk mengenali pola unik dari setiap individu.

Setelah sistem selesai dilatih, proses identifikasi seseorang dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. Artinya, sistem tidak lagi bergantung pada perangkat seperti ponsel atau smartwatch, melainkan pada karakteristik biologis dan biomekanik manusia itu sendiri, khususnya pola langkah kaki.

Analogi kamera tanpa kamera

Konsep ini membawa implikasi besar terhadap cara kita memahami privasi digital. Sistem ini pada dasarnya tidak merekam gambar dalam arti tradisional, tetapi membangun representasi visual dan identitas berdasarkan perubahan sinyal radio.

Dengan demikian, tubuh manusia secara tidak langsung menjadi “pengganggu sinyal” yang justru bisa dibaca dan dikenali oleh sistem.
Peneliti menegaskan bahwa yang dianalisis bukan perangkat yang dibawa seseorang, melainkan bagaimana tubuh manusia mengubah pola rambatan WiFi di ruang tertentu.

Peneliti utama studi ini, Julian Todt, memperingatkan bahwa teknologi ini berpotensi besar disalahgunakan jika tidak diatur dengan ketat.

“Anda bisa dikenali di kemudian hari, misalnya oleh pihak berwenang atau perusahaan,” tegas Todt.

Ia menyoroti skenario di mana router WiFi publik, seperti di kafe atau ruang publik lainnya, dapat digunakan untuk melacak individu tanpa persetujuan mereka. Seseorang yang rutin melewati lokasi tertentu dapat dikenali kembali di kemudian hari hanya berdasarkan jejak sinyal yang mereka tinggalkan.

Hal ini membuka kemungkinan baru dalam pengawasan massal yang tidak lagi membutuhkan kamera atau perangkat pelacak tradisional.

Sebelum teknologi ini dikembangkan, pendekatan serupa sebenarnya sudah pernah ada melalui metode Channel State Information (CSI).

CSI bekerja dengan cara menganalisis perubahan sinyal radio saat melewati ruang fisik, termasuk pantulan dari dinding dan objek lain. Namun, metode ini memiliki keterbatasan besar, karena memerlukan modifikasi firmware dan tidak dapat diakses secara mudah.

Selain itu, tingkat akurasi CSI dalam mengenali identitas berbasis gaya berjalan hanya mencapai sekitar 82,4 persen, jauh lebih rendah dibandingkan metode baru berbasis WiFi sensing yang dikembangkan KIT.

Melihat potensi risiko privasi yang cukup serius, para peneliti KIT mendorong organisasi standar internasional IEEE untuk segera memperkuat regulasi.

Mereka menekankan pentingnya pengembangan standar baru 802.11bf, yang secara khusus dirancang untuk mengatur teknologi WiFi sensing.

Standar ini diharapkan dapat memasukkan mekanisme perlindungan privasi yang lebih kuat, sehingga teknologi tidak berubah menjadi alat pengawasan massal yang tidak terkendali.
Tanpa regulasi yang jelas, para peneliti memperingatkan bahwa setiap router WiFi di masa depan berpotensi berubah fungsi dari sekadar perangkat koneksi internet menjadi alat pemantau aktivitas manusia yang bekerja secara pasif dan nyaris tidak terdeteksi.(ist/dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.