MALANG (Lentera) - Di tengah gempuran permainan digital dan semakin padatnya kawasan permukiman, tradisi bermain layangan di Malang ternyata masih bertahan. Produksi layangan asal Malang jenis Sukhoi, kini rutin dikirim ke sejumlah negara, mulai dari Prancis hingga Malaysia.
"Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi. Sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Kami pernah kirim ke Prancis dan Malaysia," ujar Pemilik Ahoed DC Malang, Lucky Maulana, Kamis (11/6/2026).
Permintaan dari luar negeri bahkan terbilang besar. Dalam satu kali pengiriman ke Prancis, jumlah layangan yang dikirim dapat mencapai 3.000 hingga 5.000 unit dengan kisaran harga Rp5.000 hingga Rp10.000 per buah.
"Kalau ke Prancis sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 layangan," ungkapnya.
Lucky menuturkan, kualitas pengerjaan menjadi salah satu faktor yang membuat layangan asal Malang mampu bersaing di pasar internasional. Meski sejumlah daerah seperti Bandung dan Pasuruan juga dikenal sebagai sentra pengrajin layangan, Malang masih memiliki reputasi kuat sebagai salah satu pionir layangan Sukhoi di Indonesia.
Usaha yang dirintis keluarganya sejak 1960 itu hingga kini tetap bertahan dan berkembang. Selain mengandalkan penjualan langsung, pemasaran melalui platform daring juga berhasil membuka pasar baru hingga luar Pulau Jawa bahkan mancanegara.
Menurutnya, pembeli untuk layangan kelas turnamen justru lebih banyak berasal dari luar Jawa dengan nilai transaksi yang tidak sedikit.
"Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp30 juta sampai Rp50 juta," katanya.
Meski memiliki pasar yang luas, bisnis layangan tetap bergantung pada musim. Saat ini penjualan masih relatif landai dibandingkan tahun sebelumnya, namun Lucky optimistis permintaan akan kembali meningkat memasuki musim libur sekolah dan puncak musim layangan yang biasanya berlangsung mulai Juni hingga menjelang musim hujan.
"Layangan memang musiman. Biasanya mulai ramai bulan Juni sampai menjelang musim hujan. Kalau sudah musim, turnamen ada terus hampir setiap minggu," tuturnya.
Antusiasme masyarakat terhadap layangan juga masih sangat tinggi. Ribuan pemain tersebar di berbagai wilayah, mulai Sawojajar, Gadang, Kepuh hingga kawasan Malang Selatan. Dalam satu pekan, sedikitnya lima hingga enam turnamen digelar secara bergantian dengan jumlah peserta yang selalu membludak.
"Kalau pemain layangan di Kota Malang jumlahnya ribuan. Lomba satu hari saja pasti penuh peserta. Tiap minggu selalu ada turnamen," jelasnya.
Namun, di balik eksistensi yang masih kuat tersebut, para pegiat layangan menghadapi persoalan baru. Semakin masifnya pembangunan perumahan dan alih fungsi lahan membuat ruang terbuka untuk bermain layangan terus berkurang.
Kondisi itu dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan tradisi yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari budaya masyarakat Malang sekaligus menghasilkan produk yang telah dikenal hingga pasar internasional.
Karena itu, Lucky berharap pemerintah dapat menyediakan area khusus bermain layangan yang aman dan representatif, terutama bagi anak-anak dan komunitas layangan, sehingga tradisi tersebut tetap dapat dilestarikan di tengah pesatnya pembangunan kota.
"Harapannya ada lahan khusus untuk bermain layangan, terutama bagi anak-anak. Sekarang lahan semakin berkurang karena pembangunan terus berjalan," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu




.jpg)
