SURABAYA (Lentera) – Harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisional di Kota Surabaya, mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir hingga menembus Rp22.000 per liter.
Terkait lonjakan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) langsung turun tangan, untuk memastikan keamanan pasokan.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, komoditas minyak goreng curah maupun minyak goreng kemasan rakyat (MinyaKita) mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi dan bervariasi di setiap pasar.
Untuk komoditas Minyak Goreng Curah (Bening), harga rata-rata di Kota Pahlawan saat ini menembus Rp 21.286 per kilogram. Berikut adalah rincian harganya di beberapa pasar:
- Pasar Wonokromo, Genteng Baru, Kembang, dan Balongsari: Rp22.000 per kg
- Pasar Tambahrejo: Rp21.000 per kg
- Pasar Pabean: Rp20.000 per kg
- Pasar Pucang Anom: Rp16.000 per kg
Sementara itu, untuk MinyaKita (kemasan liter), harga rata-rata di pasaran berada di angka Rp 18.900 per liter. Komoditas ini juga mengalami fluktuasi harga yang tinggi antarpasar:
- Pasar Tambahrejo, Kembang, Pabean, dan Balongsari: Rp22.000 per liter
- Pasar Pucang Anom: Rp16.000 per liter
- Pasar Wonokromo dan Genteng Baru: Rp15.700 per liter
Salah satu pedagang minyak goreng di Pasar Tambahrejo, Sutini mengaku tersendatnya pasokan, menjadi pemicu utama melonjaknya harga jual di tingkat pedagang.
"Barangnya kadang sulit masuk. Kalau stok datangnya telat, kami juga terpaksa jual dengan harga yang menyesuaikan. Jadi memang agak naik karena barangnya juga tidak selalu ada," kata Sutini saat ditemui di lokasi mengutip Kompas.com, Selasa (9/6/2026).
Menanggapi keluhan pedagang, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Syamsul Hariadi menegaskan Pemkot Surabaya terus melakukan koordinasi intensif dengan para distributor, untuk menjaga ketersediaan bahan pokok.
"Kita selalu koordinasi dengan para distributor, baik minyak goreng, beras atau gula. Stok minyak goreng masih aman. Kemarin sudah disidak oleh Bapanas (Badan Pangan Nasional) dan Kanwil Bulog. Untuk menjaga kestabilan harga kita adakan operasi pasar dan pasar murah secara berkala," ujar Syamsul di Surabaya, Senin (8/6/2026).
Meski memastikan pasokan minyak goreng secara umum aman, Syamsul tidak menampik, bahwa ketersediaan khusus untuk merek MinyaKita saat ini relatif langka dibandingkan merek minyak goreng lainnya. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak terpaku pada satu merek tertentu, guna menghindari kepanikan pasar (panic buying).
"Khusus MinyaKita memang stoknya menipis, tapi masih bisa dicover oleh minyak goreng dengan merek yang lain. Jadi masyarakat jangan terfokus ke merek tertentu," tutur Syamsul.
Pemkot Surabaya bersama Bulog dan Bapanas berjanji, akan terus memantau pergerakan harga di pasar tradisional dan siap melakukan intervensi jika ditemukan lonjakan harga yang dinilai tidak wajar.
"Soal kapan stok aman (kembali normal), nanti coba kita koordinasikan kembali," tambahnya.
Selain minyak goreng, beberapa komoditas bahan pokok penting (bapokting) lainnya di Surabaya juga menunjukkan tren kenaikan harga. Harga beras premium saat ini tercatat berada di kisaran Rp15.857 per kg, sedangkan beras medium Bulog dijual sekitar Rp12.250 per kg.
Untuk jenis beras medium lainnya serta beras jagung, harganya bergerak dinamis di rentang Rp11.600 hingga Rp15.000 per kg, tergantung dari pasar masing-masing.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada sektor bumbu dapur, khususnya cabai. Harga cabai merah besar saat ini menyentuh angka rata-rata Rp51.857 per kg, disusul oleh cabai merah keriting yang mencapai Rp48.571 per kg.
Pemkot Surabaya memastikan, akan terus mengupayakan berbagai langkah strategis agar fluktuasi harga pangan ini tidak sampai menggerus daya beli masyarakat setempat.
Editor: Arief Sukaputra




.jpg)
