JAKARTA (Lentera) - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Selasa (26/5/2026). Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.764 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 09.18 WIB, yang menjadi posisi intraday terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini, rupiah dibuka melemah 0,03 persen ke level Rp17.748 per dolar AS. Tekanan berlanjut tak lama kemudian, di mana pada pukul 09.05 WIB rupiah kembali terdepresiasi 0,06 persen ke posisi Rp17.753 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah kondisi eksternal yang masih dibayangi ketidakpastian global.
Meski indeks dolar AS masih berada di level 99 dan harga minyak mentah Brent tercatat di kisaran US$98,36 per barel, sentimen risiko global tetap membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan terhadap mata uang kawasan juga mulai terlihat pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg, baht Thailand memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 0,32 persen, diikuti ringgit Malaysia dan peso Filipina.
Sementara itu, hanya won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang masih mampu bergerak di zona hijau.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah diperparah oleh membengkaknya defisit transaksi berjalan Indonesia. Defisit tercatat melebar menjadi US$4,01 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$0,15 miliar.
Pelebaran defisit tersebut mencerminkan pelemahan signifikan pada sektor eksternal nasional dan menjadi defisit kuartalan terbesar sejak kuartal IV-2019.
Di saat bersamaan, surplus neraca perdagangan Indonesia juga mengalami penyusutan tajam. Surplus perdagangan tercatat hanya sebesar US$7,98 miliar, turun drastis dibandingkan capaian kuartal yang sama tahun lalu sebesar US$13,07 miliar.
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini masih akan berada dalam tekanan, dengan potensi bergerak di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Editor: Santi




.jpg)
