JAKARTA (Lentera) - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah menyusun rancangan nota kesepahaman yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, pencairan aset Iran yang dibekukan, hingga pelonggaran blokade laut AS di kawasan Teluk.
Melansir Anadolu, berdasarkan laporan media lokal AS pada Senin (25/5/2026) dini hari, menyebut tahap awal kesepakatan akan melibatkan pencairan aset Iran senilai 12 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan oleh Amerika Serikat.
Informasi tersebut diungkap seorang pejabat Iran anonim yang mengetahui jalannya perundingan. Selain pencairan aset, tahap pertama juga disebut mencakup operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz serta pelonggaran blokade laut AS yang saat ini masih diberlakukan di wilayah tersebut.
Pejabat Iran itu menegaskan, nota kesepahaman yang sedang dibahas bukan merupakan perjanjian nuklir final. Dokumen tersebut disebut lebih bersifat sebagai komitmen awal untuk melanjutkan negosiasi terkait isu nuklir dan keamanan kawasan dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, seorang pejabat senior pemerintahan AS menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz akan dilakukan selama masa transisi gencatan senjata 60 hari yang saat ini tengah dinegosiasikan kedua negara.
"Selat Hormuz akan dibersihkan dari ranjau dan dibuka kembali selama masa transisi," ujar pejabat tersebut.
Meski demikian, hingga Minggu (24/5/2026) waktu setempat, belum ada kesepakatan resmi yang ditandatangani. Pemerintah AS juga mengakui masih terdapat sejumlah poin yang belum final, termasuk tingkat keterikatan hukum dari kerangka kesepahaman tersebut.
Seorang diplomat yang mengetahui proses pembicaraan menyebut proposal terbaru masih menunggu persetujuan akhir dari Teheran. Dalam rancangan itu, Iran disebut diwajibkan segera membuka kembali Selat Hormuz setelah penandatanganan nota kesepahaman dilakukan.
Lalu lintas pelayaran internasional di jalur vital perdagangan minyak dunia itu diperkirakan kembali normal dalam waktu 30 hari setelah implementasi kesepakatan dimulai.
Tak hanya itu, proposal tersebut juga memuat penghentian operasi militer oleh Iran, Amerika Serikat, dan pihak sekutu di berbagai front konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon.
Dalam isu nuklir, Iran disebut akan kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Teheran juga disebut bersedia menghapus stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi melalui mekanisme yang akan disepakati bersama.
Pejabat senior pemerintahan AS mengatakan kesepahaman itu mencakup komitmen Iran untuk melepaskan apa yang disebut sebagai "debu nuklir", istilah yang merujuk pada cadangan uranium yang telah diperkaya pada level tinggi.
"Kedua pihak akan menggunakan dua bulan ke depan untuk membahas mekanisme implementasi kesepakatan," ujar pejabat tersebut.
Meski demikian, Washington menegaskan pencairan aset Iran maupun pelonggaran sanksi tidak akan dilakukan secara otomatis. "Iran tidak akan mendapatkan apa pun sampai mereka memenuhi komitmen," kata pejabat AS tersebut.
Pendekatan yang digunakan, lanjutnya, adalah "percaya tetapi verifikasi", di mana pelonggaran blokade dan sanksi akan dilakukan bertahap seiring implementasi kewajiban Iran.
Editor: Santi




.jpg)
