24 May 2026

Get In Touch

Saat Rambut Netanyahu "Terbakar" Usai Telepon Donald Trump...

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025 (AFP)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025 (AFP)

WASHINGTON DC (Lentera) -Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan sempat memanas. Muasalnya, keduanya berbeda pandangan yang tajam mengenai konflik dengan Iran. 

Ketegangan ini memuncak dalam sebuah pembicaraan telepon yang berlangsung sengit beberapa waktu lalu. Pembicaraan tersebut dilaporkan berjalan sangat sulit hingga memicu kepanikan luar biasa dari pihak Israel. 

Menurut laporan media yang berbasis di AS, Axios, reaksi Netanyahu digambarkan sangat emosional setelah mendengar arah kebijakan terbaru dari sekutu utamanya tersebut.

"Rambut Bibi (panggilan Netanyahu) seperti terbakar setelah telepon itu," ujar seorang sumber sebagaimana dilansir Axios via India Today, Kamis (21/5/2026).

Informasi mengenai kepanikan Netanyahu ini bahkan telah menyebar ke lingkaran politik di Washington. 

Laporan tersebut diperkuat oleh pernyataan sumber lain.

Dia menyebutkan bahwa Duta Besar Israel untuk Washington telah menyampaikan kekhawatiran mendalam Netanyahu kepada para anggota parlemen AS. Bagi orang-orang di lingkaran dalamnya, reaksi emosional pemimpin Israel tersebut bukanlah hal yang mengejutkan. 

Berdasarkan informasi sumber Axios, Netanyahu memang selalu merasa cemas selama tahap-tahap negosiasi sebelumnya, meskipun upaya-upaya terdahulu gagal menghasilkan kesepakatan.

"Bibi selalu khawatir," ungkap sumber tersebut.

Beda strategi

Inti dari perselisihan kedua pemimpin negara sekutu ini berakar pada perbedaan strategi yang sangat kontras terkait masa depan perang dengan Iran. 

Dalam panggilan telepon tersebut, Trump membeberkan rencana Washington untuk memberikan ruang bagi jalur diplomasi.

Trump mengungkapkan bahwa pihak mediator tengah mengupayakan sebuah letter of intent atau surat pernyataan kehendak yang akan ditandatangani oleh AS dan Tehran. 

Langkah ini bertujuan untuk mengakhiri perang secara resmi dan memulai periode negosiasi selama 30 hari. 

Agenda perundingan tersebut nantinya akan mencakup program nuklir Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, Netanyahu bersikap skeptis terhadap jalur negosiasi ini. 

Dia justru mendesak agar operasi militer terus dilanjutkan demi menghancurkan kemampuan militer Iran secara lebih masif sekaligus melemahkan rezim di Tehran.

Di sisi lain, Trump memilih untuk memberikan kesempatan pada jalur diplomasi dalam beberapa hari ke depan, walau tetap menegaskan bahwa opsi militer tidak sepenuhnya hilang. 

"Jika saya bisa menyelamatkan orang-orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan," kata Trump.

Trump juga memperingatkan bahwa perang bisa kembali berlanjut "sangat cepat" jika AS tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari pihak Iran.

Mengutip Kompas, kendati sempat berselisih paham dengan Netanyahu mengenai Iran, Trump menegaskan bahwa hubungan mereka tetap baik dan koordinasi kedua negara tetap berjalan erat selama perang. 

Dengan nada optimistis, Trump bahkan mengklaim memiliki pengaruh yang besar terhadap Netanyahu.

"Dia (Netanyahu) akan melakukan apa pun yang saya inginkan," papar Trump (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.