18 May 2026

Get In Touch

Hadiri Tradisi Ruwat Desa Pagerngumbuk, Bupati Sidoarjo: Wujud Rasa Syukur

Kehadiran Bupati Sidoarjo H. Subandi memeriahkan tasyakuran Ruwat Desa Pagerngumbuk, Minggu (17/5/2026).
Kehadiran Bupati Sidoarjo H. Subandi memeriahkan tasyakuran Ruwat Desa Pagerngumbuk, Minggu (17/5/2026).

SIDOARJO (Lentera) – Pelaksanaan tradisi ruwat di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo tidak berbeda jauh dengan kebiasaan serupa di desa-desa lain. Sebagai wujud rasa syukur, rangkaian kegiatan ini diisi dengan pengajian, ziarah ke makam leluhur desa, hingga pagelaran wayang kulit yang digelar semalam suntuk.

Namun, ada sisi unik yang membedakan tasyakuran ruwat kali ini. Keunikan itu bukan terletak pada cara berdoa, melainkan pada penyajian makanan untuk tasyakuran. Selain menyediakan puluhan nasi kuning, warga juga menyiapkan belasan tumpeng raksasa yang berisi beraneka ragam hasil pertanian.

Hal yang paling istimewa, adalah makanan-makanan tersebut ditata di atas puluhan amben, atau tempat tidur tradisional dari bambu. Bentuk amben ini sekilas mirip dengan keranda jenazah. Makanan ditata memanjang di atasnya, lalu ditutup dengan jarik atau kain batik.

Setelah tersusun rapi, puluhan amben berisi sajian makanan itu kemudian digotong bersama-sama oleh warga menuju Balai Desa Pagerngumbuk, pada Minggu (17/5/2026) pagi.

Sesampainya di balai desa, puluhan amben tersebut dijajarkan di sisi kanan dan kiri pendopo. Sementara itu, seluruh warga desa sudah berkumpul dan menanti dimulainya rangkaian acara yang juga dihadiri langsung oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi.

Pihak desa juga menyiapkan cara khas untuk menyambut kedatangan Bupati, yakni dengan mengutus tokoh pewayangan Hanoman dan seorang tokoh petani untuk mengantarkan beliau menuju lokasi acara.

Bupati Subandi menyampaikan, apresiasinya terhadap pelaksanaan tradisi ruwat desa ini, yang merupakan bagian dari kearifan lokal dan memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi yang telah diberikan.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana memanjatkan doa demi keselamatan serta kemakmuran desa dan seluruh warganya.

“Tujuane nopo kok desa dislameti, desa diruwati? Biar desane, dalam penyelenggaraan pemerintahan, diparingi gampang lan gangsar, mugi-mugi diparingi slamet sedoyo,” ujar H. Subandi.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan, bahwa tradisi ruwat desa ini juga berfungsi sebagai sarana mempererat persaudaraan antarwarga. Warga datang dengan keikhlasan membawa hasil bumi dari kebun masing-masing, untuk disatukan dan disajikan dalam tasyakuran bersama.

Niat tulus seperti ini, menurutnya, akan mendatangkan keberkahan bagi seluruh warga. Diharapkan, warga Desa Pagerngumbuk senantiasa dijauhkan dari segala musibah, dan para petani mendapatkan keberkahan atas hasil pertaniannya.

“Mudah-mudahan niat kita bersyukur kepada Allah diterima. Mugi-mugi warga Desa Pagerngumbuk lan keluargane paringi sehat. Rumah tanggane dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Anak turunne mugi-mugi dijadikan anak yang saleh dan salehah, aamiin. Yang tak kalah penting, mugi-mugi sedaya tanduranipun panjenengan sehat, subur, dan produksine terus meningkat,” pungkasnya dalam doa.

 

Reporter: Teguh/Editor: Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.