15 May 2026

Get In Touch

BPBD Kota Malang Petakan 13.465 Rumah dan Bangunan Rawan Bencana

Ilustrasi: Salah satu bangunan rumah di wilayah Kecamatan Sukun, Kota Malang, rawan banjir dan longsor karena berdiri di sempadan sungai. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Salah satu bangunan rumah di wilayah Kecamatan Sukun, Kota Malang, rawan banjir dan longsor karena berdiri di sempadan sungai. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang merampungkan pemetaan detail potensi bencana di seluruh wilayah kota. Hasilnya, sebanyak 13.465 rumah dan bangunan tercatat berada di kawasan rawan terdampak bencana.

"Dari 57 kelurahan, ada 40 kelurahan yang memiliki titik-titik rawan bencana secara sangat spesifik, sampai tingkat RT/RW dan jumlah KK yang berpotensi terdampak," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, pemetaan dilakukan bersama tim ahli dari Universitas Negeri Malang (UM). Data rawan bencana tersebut mencakup ancaman banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem seperti pohon tumbang.

Informasi yang dihimpun bahkan diklaim telah memuat detail nama warga, alamat, jumlah kepala keluarga (KK), hingga kelompok usia yang menjadi prioritas saat proses evakuasi.

Menurut Prayitno, seluruh data tersebut telah diserahkan kepada camat dan lurah sebagai pedoman untuk mempercepat respons ketika terjadi keadaan darurat.

"Lurah sekarang sudah punya peta. Jika ada ancaman bencana, respons bisa langsung mengarah ke titik sasaran. Karena dari data belasan ribu rumah dan bangunan rawan, ada 53.860 jiwa yang rentan dan berisiko menjadi korban," katanya.

Selain untuk kebutuhan penanganan darurat, data pemetaan tersebut juga akan digunakan sebagai dasar dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Prayitno menjelaskan, hasil pemetaan dapat menjadi acuan untuk menentukan program mitigasi, baik yang bersifat sosial maupun pembangunan infrastruktur, guna menekan risiko bencana di masa mendatang.

Berdasarkan hasil kajian, banjir menjadi ancaman dengan tingkat risiko tertinggi di Kota Malang. Ancaman ini kemudian disusul oleh tanah longsor dan cuaca ekstrem.

Menurut Prayitno, kondisi geografis Kota Malang yang berada di wilayah cekungan membuat kota ini menjadi titik akumulasi aliran air dari sejumlah kawasan di sekitarnya.

"Ancaman tertinggi tetap banjir. Kota Malang berbentuk cekungan, sehingga aliran air dari wilayah utara dan selatan mengarah ke sini," jelasnya.

Untuk mengurangi potensi banjir, pemerintah akan mengoptimalkan sistem drainase melalui organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, sementara relawan kebencanaan difokuskan pada upaya pencegahan dan penanganan awal di lapangan.

BPBD juga memberi perhatian khusus terhadap ancaman cuaca ekstrem, terutama risiko pohon tumbang yang kerap terjadi saat hujan deras disertai angin kencang.

Meski Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah melakukan pemangkasan dan penebangan pohon yang dinilai berisiko, Prayitno menyebut anomali cuaca tetap dapat menyebabkan dahan yang tampak kokoh patah secara tiba-tiba.

Saat ini, seluruh data pemetaan tersimpan di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Malang dan dapat dipantau secara real time.

Prayitno berharap, data tersebut tidak hanya dimanfaatkan saat terjadi bencana, tetapi juga menjadi dasar bagi pemerintah kelurahan untuk memperkuat upaya pengurangan risiko.

"Harapan kami, data ini tidak hanya dipakai saat tanggap darurat, tetapi juga untuk pengurangan risiko bencana agar dampaknya tidak semakin besar," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.