MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bersiap mendatangkan sapi impor untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Adapun negara asal sapi impor yang selama ini menjadi pemasok antara lain Australia hingga Amerika Serikat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan kebijakan impor sapi bukan hal baru di Kota Malang. Pada tahun-tahun sebelumnya, langkah serupa juga dilakukan untuk menyeimbangkan jumlah sapi yang tersedia dan mencegah lonjakan harga di tingkat konsumen.
"Untuk mengimbangi ketersediaan sapi lokal dan menekan harga, kami lakukan dengan sapi impor," ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Menurut Slamet, jumlah sapi impor yang masuk ke Kota Malang juga tidak boleh melebihi 50 persen dari total kebutuhan hewan kurban. "Kalau impor sapi tidak boleh melebihi 50 persen kebutuhan sapi lokal," kata Slamet.
Ditegaskannya, hingga saat ini, pihaknya belum dapat memastikan jumlah sapi impor yang akan didatangkan karena kebutuhan riil masyarakat belum diketahui secara pasti.
"Saya belum bisa memprediksi karena belum tahu kebutuhan riil sapi untuk Idul Adha," katanya.
Namun berdasarkan data Dispangtan, kebutuhan sapi untuk Idul Adha di Kota Malang setiap tahun rata-rata mencapai 2.500 ekor.
Lebih lanjut, Slamet menjelaskan, proses impor sapi tidak dilakukan secara langsung oleh Dispangtan Kota Malang. Mekanisme pengadaan sepenuhnya dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan importir yang telah memiliki izin dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
"Ada yang dari Kota Malang, ada juga dari luar daerah," jelasnya.
Perusahaan importir juga wajib menjamin sapi yang didatangkan dalam kondisi sehat dan layak untuk diperjualbelikan. Salah satu syarat utama adalah memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), serta telah melalui proses verifikasi dan mendapatkan izin dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Di sisi lain, Dispangtan mencatat ketersediaan sapi lokal saat ini mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut dinilai masih wajar karena peternak umumnya menahan penjualan hingga mendekati Idul Adha untuk memperoleh harga yang lebih tinggi.
"Kalau dilihat dari trennya, hampir setiap tahun seperti itu. Peternak biasanya menunggu sampai mendekati Idul Adha karena harga cenderung naik," ungkap Slamet.
Ia menambahkan, keputusan untuk mendatangkan sapi impor juga bergantung pada kondisi pasokan di negara asal serta harga di tingkat importir. Jika harga dan stok memungkinkan, impor akan dilakukan untuk menutup kekurangan pasokan lokal.
Reporter: Santi




.jpg)
