13 May 2026

Get In Touch

Mendiktisaintek Apresiasi Unesa Jadi Kampus Zero Waste, Sampah 100 Persen Diolah Mandiri

Prof. Brian meninjau proses pengolahan sampah di Unesa.
Prof. Brian meninjau proses pengolahan sampah di Unesa.

SURABAYA (Lentera) - Upaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengelola sampah secara mandiri hingga mencapai 100 persen pengolahan mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto. Program tersebut dinilai menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi lingkungan berbasis riset dan teknologi.

Saat meninjau langsung fasilitas pengelolaan sampah di lingkungan Unesa, Prof Brian menyebut sistem yang diterapkan kampus tersebut sebagai langkah maju dalam mendukung konsep "kampus berdampak" yang kini didorong pemerintah.

"Ini satu prestasi yang membanggakan kita semua. Kampus melalui big design tech membuat program bagaimana kampus memberikan solusi, menjadi contoh, menjadi pilot pengelolaan atau penanganan sampah," ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, seluruh sampah yang dihasilkan di lingkungan kampus kini telah diolah secara mandiri tanpa harus dibuang ke luar area kampus. Sistem tersebut masih terus dikembangkan melalui pembangunan tempat pengelolaan sampah terpadu agar lebih optimal.

"Alhamdulillah tadi pagi saya sudah langsung meninjau dan memang 100 persen sudah ditangani. Meskipun nanti masih perlu penyempurnaan, tetapi itu masih dalam kerangka pengembangan tempat pengelolaan sampah terpadu," katanya.

Pengelolaan sampah di Unesa dilakukan sejak tahap awal melalui pemilahan di berbagai titik tempat sampah di area kampus. Sampah kemudian diproses sesuai jenisnya, baik organik maupun anorganik, sehingga seluruh limbah dapat diselesaikan di lingkungan kampus.

Selain mengurangi beban sampah kota, sebagian sampah yang masih memiliki nilai ekonomis juga dimanfaatkan kembali dan dijual. Hasil penjualan tersebut bahkan membantu mendukung operasional pengelolaan sampah.

"Beberapa sampah yang memiliki nilai ekonomis sudah berhasil dijual dan memberikan pendapatan. Jadi kebutuhan pengelolaan ini tidak lagi sepenuhnya dialokasikan dari kampus, tetapi juga dari hasil pengolahan sampah itu sendiri," jelas Prof Brian.

Dalam kesempatan itu, Unesa sekaligus mendeklarasikan diri sebagai kampus “Zero Waste”. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Prof Brian menilai persoalan sampah nasional membutuhkan solusi yang terintegrasi dan berbasis ilmu pengetahuan. Karena itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong kampus-kampus untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah, model ekonomi sirkular, hingga sistem pengelolaan yang dapat diterapkan di berbagai daerah.

Ia mengatakan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir, tetapi harus dimulai dari kesadaran memilah sampah hingga penguatan teknologi pengolahan.

"Kita perlu membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, dari tingkat masyarakat hingga fasilitas pengolahan skala regional," tuturnya.

Menurutnya, model yang diterapkan Unesa berpotensi dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor industri.

"Kalau ini berjalan semakin baik dan teknologinya terus berkembang, nantinya kami mempersilakan pemerintah daerah maupun kampus lain untuk bersama-sama membangun sistem yang lebih besar lagi," tambahnya.

Program tersebut juga disebut sejalan dengan arahan Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya penanganan persoalan sampah nasional melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif. 

Melalui kebijakan "Diktisaintek Berdampak", pemerintah mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga menghadirkan inovasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Reporter: Amanah

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.