YOGYAKARTA (Lentera) - Kasus dugaan kekerasan di salah satu day care tak berizin di Yogyakarta, mengungkap kondisi miris para korban, yang mengalami luka lebam hingga menunjukkan gejala paru-paru basah.
Peristiwa ini mencuat ke publik setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan di lokasi tempat penitipan anak (TPA) itu pada Jumat (24/4/2026).
Temuan di lapangan mengungkap kondisi memprihatinkan pada setidaknya 53 korban, yang sebagian besar masih berusia balita, bahkan terdapat bayi berusia 3 bulan yang diduga turut mengalami perlakuan kasar.
Dugaan kekerasan mulai terungkap setelah sejumlah orangtua menemukan pola luka serupa pada tubuh anak-anak mereka. Luka tersebut antara lain berupa kulit melepuh, lebam, bekas cubitan, cakaran, hingga luka di area punggung dan bibir.
Salah satu orangtua korban, Noorman, mengaku mulai curiga setelah mendapati luka pada anaknya memiliki kemiripan dengan luka yang dialami anak-anak lain di daycare tersebut.
"Ada beberapa luka di bagian badan, dan ternyata luka anak saya sama dengan luka anak orang tua lain. Dari situ kami sadar ada sesuatu yang tidak beres," ujar Noorman, melansir Kompas, Senin (27/4/2026).
Ia juga menuding pihak pengelola daycare sempat melakukan pembelaan dengan menyebut luka tersebut berasal dari rumah. Namun, Noorman memastikan anaknya dalam kondisi tanpa luka saat dititipkan.
"Mereka bilang ini luka dari rumah. Padahal sebelum berangkat saya mandikan, tidak ada luka sama sekali," tambahnya.
Tak hanya luka fisik, sejumlah anak juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius. Mayoritas korban menunjukkan gejala pneumonia atau yang kerap disebut paru-paru basah, yakni infeksi akut pada saluran pernapasan yang dapat berbahaya bagi anak usia dini.
Orangtua korban lainnya, Choirunisa (34), mengungkapkan kondisi anaknya yang berusia 1,5 tahun mengalami luka melepuh di kedua tangan serta gangguan pernapasan yang tidak biasa.
"Awalnya dibilang cacar air, tapi lukanya melepuh. Anak saya juga jadi sering batuk sampai muntah, pilek berkepanjangan, dan berat badannya turun drastis,"!ungkapnya.
Ia menyebut berat badan anaknya turun dari hampir 9 kilogram menjadi sekitar 8 kilogram dalam waktu relatif singkat. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan sanitasi yang buruk atau pola pengasuhan yang tidak higienis di lingkungan daycare.
Selain dampak fisik, trauma psikologis juga mulai terlihat pada sejumlah anak. Choirunisa menuturkan anaknya kini mengalami perubahan perilaku, salah satunya kebiasaan tidur di lantai tanpa alas.
"Dia selalu minta tidur di bawah. Ternyata di daycare memang dibiasakan tidur di lantai," tuturnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, mengonfirmasi pihaknya telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, dugaan kekerasan tersebut telah berlangsung cukup lama.
"Total anak ada 103, dan sekitar 53 anak diduga mengalami tindakan kekerasan. Usianya bervariasi, bahkan ada bayi," jelas Adrian.
Pihak kepolisian masih terus mendalami kasus ini, termasuk menggali motif serta memastikan durasi pasti terjadinya dugaan penganiayaan terhadap anak-anak tersebut.
"Untuk informasi lebih detail akan kami sampaikan dalam rilis resmi pada Senin," pungkasnya.
Editor: Santi



.jpg)
