Petani Kabupaten Malang Belajar Olah Limbah Kopi Jadi Sirup hingga Arang Bernilai Ekonomi
MALANG (Lentera) -Limbah kopi yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, mulai diolah menjadi produk bernilai ekonomi melalui kolaborasi Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya dengan Pemerintah Australia.
Melalui program Direct Aid Program (DAP) yang difasilitasi Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, UK Petra menginisiasi pelatihan bertajuk “Renewable Energy Solutions and Efficient Waste Management for Sustainable Coffee Processing”.
Program ini tidak hanya menitikberatkan pada pengelolaan limbah ramah lingkungan, tetapi juga mendorong peningkatan pendapatan petani melalui hilirisasi produk kopi.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UK Petra, Togar Wiliater Soaloon Panjaitan, Ph.D., menjelaskan limbah kopi seperti kulit dan ampas memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
“Kami ingin mengubah paradigma masyarakat. Limbah kopi bukan lagi sekadar sisa produksi, tetapi dapat menjadi sumber peluang usaha baru,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Dalam pelatihan yang digelar di Balewiyata Majelis Agung GKJW Malang, peserta yang terdiri dari petani dan kelompok perempuan diajak mempraktikkan langsung pengolahan kulit kopi menjadi sirup cascara dan teh, serta pemanfaatan ampas kopi menjadi arang berkualitas.
Kegiatan ini turut melibatkan tim dosen UK Petra, yakni Iwan Halim Sahputra, Ph.D., Dr.-Ing. Indar Sugiarto, dan Hariyo Priambudi Setyo Pratomo, M.Phil., serta didukung pelatih Dr. Renny Indrawati dan Dr. apt. Ratnaningrum Dewi.
Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui, yang hadir dalam menekankan pentingnya peran perempuan dalam keberhasilan program. Menurutnya, pelibatan perempuan dalam proses pengolahan limbah tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga.
“Program ini mendorong terciptanya mata pencaharian yang berkelanjutan berbasis potensi lokal,” katanya.
Meski demikian, pengembangan produk olahan limbah kopi masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan peralatan produksi dan akses pasar. Untuk itu, UK Petra menyiapkan pendampingan berkelanjutan yang mencakup standarisasi mutu, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran.
“Kami tidak berhenti pada pelatihan. Ke depan, pendampingan akan difokuskan pada penguatan branding dan perluasan pasar agar produk mampu bersaing,” tambah Togar.
Salah satu peserta pelatihan, Harjendra, mengaku mendapatkan perspektif baru dari kegiatan tersebut. Selama ini, kulit kopi hanya dimanfaatkan sebagai pupuk atau dibuang.
“Sekarang kami tahu bisa diolah jadi sirup dan teh dengan nilai jual. Ini membuka peluang tambahan penghasilan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, UK Petra bersama Pemerintah Australia berharap dapat membangun ekosistem pengolahan kopi yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di tingkat desa.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)
