JAKARTA (Lentera) - Krisis kemanusiaan di kawasan Timur Tengah kian memburuk. Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lonjakan pengungsian, meningkatnya korban sipil, serta terhambatnya distribusi bantuan yang memperparah penderitaan jutaan warga terdampak konflik.
Mengutip dari Antara, Badan kemanusiaan PBB melalui United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) pada Kamis (2/4/2026) menyatakan kondisi di sejumlah wilayah Timur Tengah, khususnya Lebanon dan Gaza, mengalami penurunan signifikan dalam waktu singkat.
Di Lebanon, lebih dari 1,1 juta warga dilaporkan telah mengungsi akibat meluasnya perintah evakuasi ke berbagai wilayah baru. OCHA mencatat, hampir 15 persen wilayah negara tersebut terdampak perintah pengungsian hanya dalam kurun satu bulan terakhir.
Sebagian besar pengungsi kini tinggal di tempat penampungan massal, rumah kerabat, hingga permukiman informal.
Krisis juga menghantam sektor kesehatan. OCHA mengungkapkan, hampir separuh fasilitas kesehatan yang didukung United Nations Population Fund (UNFPA) terpaksa menghentikan operasional akibat eskalasi kekerasan.
Selain itu, banyak tenaga medis turut mengungsi, menyebabkan fasilitas yang masih beroperasi kewalahan menghadapi lonjakan pasien.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, UNFPA telah mengerahkan sembilan unit layanan kesehatan keliling di berbagai wilayah Lebanon. Layanan ini mencakup perawatan ibu hamil, obstetri darurat, dukungan psikososial, hingga bantuan bagi penyintas kekerasan seksual.
Namun demikian, respons kemanusiaan kini menghadapi tantangan serius, terutama dalam aspek logistik. Gangguan pada jalur transportasi global menyebabkan keterlambatan pengiriman bantuan penting. Upaya pengalihan rute distribusi pun belum mampu menutup kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan bantuan.
PBB kembali menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera melakukan deeskalasi konflik, melindungi warga sipil serta fasilitas kesehatan, dan memastikan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, khususnya ke wilayah Lebanon selatan.
Di sisi lain, pasukan penjaga perdamaian PBB United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menggambarkan situasi di sepanjang Garis Biru sebagai "suram dan memprihatinkan".
UNIFIL melaporkan adanya perluasan infiltrasi oleh Israel Defense Forces (IDF) ke arah barat, termasuk pengerahan tank dan bentrokan di Sektor Barat, sekitar 12 kilometer dari Garis Biru.
Sementara itu di Gaza, OCHA menegaskan kebutuhan kemanusiaan jauh melampaui kapasitas bantuan yang tersedia. Saat ini, hanya satu perlintasan yang dibuka untuk masuknya kargo, sehingga membatasi distribusi logistik secara signifikan.
Dalam sektor pangan, distribusi bantuan selama Maret hanya mampu memenuhi setengah dari kebutuhan kalori minimum, dengan jangkauan setiap dua keluarga. Meski mitra kemanusiaan mampu menyediakan hampir 1,5 juta porsi makanan per hari dan sekitar 130.000 paket roti, jumlah tersebut dinilai masih jauh dari cukup.
Keterbatasan pasokan, terutama gas memasak, memaksa hampir separuh rumah tangga menggunakan metode memasak tidak aman, seperti membakar sampah, yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan tambahan.
Di sektor kesehatan Gaza, tim medis darurat yang didukung PBB telah memberikan sekitar 23.000 layanan konsultasi dalam sepekan terakhir Maret. Namun, keterlambatan pemeriksaan peralatan medis dan bedah khusus menghambat penanganan kasus-kasus kompleks.
Kondisi tempat tinggal pengungsi juga masih memprihatinkan. Mayoritas warga Gaza masih hidup dalam pengungsian dengan bantuan hunian yang bersifat sementara. Upaya pembangunan hunian permanen terhambat oleh sulitnya akses terhadap material konstruksi yang memerlukan persetujuan khusus.
Selama sepekan terakhir Maret, sekitar 14.000 keluarga menerima bantuan berupa terpal dan perlengkapan rumah tangga, terutama bagi mereka yang terdampak banjir akibat hujan badai.
Sektor pendidikan pun terdampak. Sedikitnya 15 ruang belajar sementara rusak akibat hujan, mengganggu aktivitas belajar sekitar 20.000 siswa. United Nations Children’s Fund (UNICEF) bersama mitranya terus berupaya menyediakan tenda belajar serta mendistribusikan perlengkapan pendidikan bagi anak-anak.
Di Tepi Barat, OCHA mencatat lonjakan kekerasan sejak eskalasi regional pada 28 Februari lalu. Dua pertiga kematian warga Palestina pada kuartal pertama tahun ini terjadi setelah periode tersebut.
Selain itu, empat perempuan Palestina dilaporkan tewas akibat amunisi yang jatuh dalam serangan rudal Iran. OCHA juga mencatat lebih dari 200 serangan pemukim sepanjang Maret yang berdampak pada lebih dari 100 komunitas Palestina, baik berupa korban jiwa maupun kerusakan properti.
Menutup laporannya, OCHA menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil Palestina, penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan, serta perubahan kebijakan yang memicu pengungsian dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Editor:Santi,ist




.jpg)
