01 April 2026

Get In Touch

Sebanyak 815 Desa di Jatim Terancam Kekeringan, Dampak El Nino Ekstrem

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto. (foto:ist/Ant/BPBD Jatim)
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto. (foto:ist/Ant/BPBD Jatim)

SURABAYA (Lentera) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menyebut, sebanyak 815 desa di provinsi setempat berpotensi mengalami kekeringan terdampak fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap disebut Godzilla El Nino.

Kalaksa BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto mengatakan 815 desa tersebut tersebar di 222 kecamatan di 26 kabupaten, yang berpotensi terdampak krisis air bersih.

"Pemerintah provinsi telah meningkatkan kewaspadaan, menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panas dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya di Surabaya melansir Antara, Selasa (31/3/2026).

Berdasarkan prediksi BMKG, katanya, musim kemarau diperkirakan dimulai pada April dan berlangsung hingga November dengan puncaknya terjadi pada Agustus.

“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat atau ekstrem. Dampaknya, suhu akan lebih panas dan periode kemarau lebih panjang. Ini tentu berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, ratusan desa yang terancam kekeringan tersebut mayoritas berada di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap krisis air, terutama daerah yang selama ini mengandalkan sumber air tadah hujan serta memiliki keterbatasan infrastruktur air bersih.

"Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah tersebut sangat rentan, ketika musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jawa Timur bersama sejumlah perangkat daerah (PD) terkait, tengah menyiapkan berbagai strategi mitigasi.

Salah satunya, adalah dengan menggelar rapat koordinasi lintas sektor dalam waktu dekat yang akan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur. Rakor tersebut, bertujuan untuk memastikan kesiapan seluruh pihak dalam menghadapi potensi bencana kekeringan.

“Kami melakukan rakor bersama seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk pemerintah kabupaten atau kota. Untuk menyusun langkah-langkah konkret, dalam menghadapi kekeringan. Ini penting agar penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat sasaran,” paparnya.

Selain itu, imbuhnya, upaya penyediaan air bersih menjadi fokus utama dalam menghadapi musim kemarau mendatang. BPBD Jawa Timur telah menyiapkan skema distribusi air bersih ke wilayah-wilayah terdampak, termasuk melalui pengiriman bantuan air menggunakan truk tangki.

“Distribusi air bersih akan menjadi prioritas utama kami. Jangan sampai masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Kami juga akan memetakan wilayah mana saja yang membutuhkan penanganan segera,” imbuhnya.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.